Pakai Teknologi Canggih, Vaksin Moderna Dirancang Hanya 2 Hari

Sabtu, 28 November 2020 - 07:39 WIB
loading...
A A A
"Kami tidak melewatkan langkah -kami sebenarnya memiliki teknologi yang lebih baik," kata Rizzo kepada Business Insider. "Kenapa butuh dua pekan untuk menyeberangi Atlantik di tahun 1800-an? Nah, kita harus naik perahu. Padahal sekarang, kamu bisa menyeberangi lautan dalam beberapa jam."

Pro dan Kontra dari Vaksin mRNA
Selama beberapa dekade, vaksin mengandung versi virus yang mati atau dilemahkan. Kemudian kemajuan awal dalam genetika memungkinkan vaksin menggunakan protein yang dibuat oleh virus. Metode itu pertama kali digunakan pada 1980-an untuk mengembangkan vaksin hepatitis B.

Perusahaan seperti Novavax mengandalkan model berbasis protein untuk membuat kandidat vaksin virus Corona mereka. Tetapi bisnis Moderna telah berputar di sekitar mRNA sejak dimulai pada 2010.

Vaksin RNA menawarkan keuntungan besar yakni kecepatan. Karena diproduksi dalam tabung reaksi daripada dibudidayakan menggunakan sel, mereka lebih cepat diproduksi.

Tetapi vaksin memiliki kekurangan. Pertama, mereka mengharuskan orang mendapatkan dua suntikan. Pfizer mengirimkan dua bidikan dengan selang waktu tiga pekan, sementara peserta uji coba Moderna menerima dua bidikan dengan selang waktu empat pekan.

Vaksin juga sulit dikirim dan disimpan. Vaksin Pfizer harus dikirim pada suhu -94 derajat Fahrenheit, yang membutuhkan es kering dan freezer khusus. Sedangkan Moderna membutuhkan suhu -4 derajat Fahrenheit, yang sedikit lebih dingin dari rata-rata freezer.

Yang jelas, nilai pasar Moderna telah meningkat lebih dari 400% sejak Januari 2020, menjadi lebih dari USD40 miliar. (Baca juga: Khawatir Banjir Kiriman dari Bogor, Pemkot Jakarta Timur Buat Kampung Tangguh Bencana )
(iqb)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Gerhana Matahari Total...
Gerhana Matahari Total Terlama Abad Ini Akan Segera Terjadi
Ilmuwan Pastikan AI...
Ilmuwan Pastikan AI Belum Bisa Kalahkan Teori Soal Iklim
Permukiman Prasejarah...
Permukiman Prasejarah Ditemukan di Gurun Yordania
Melihat Lebih Dekat...
Melihat Lebih Dekat Fasilitas Penyimpanan Limbah Nuklir Pertama di Dunia
Penemuan Mengejutkan...
Penemuan Mengejutkan dari Mumi Oezti Berusia 5.000 Tahun Dibeberkan
Spesies Hewan Abadi...
Spesies Hewan Abadi Ditemukan di Dasar Laut
Audi Nuvolari Spyder...
Audi Nuvolari Spyder versi Konvertibel Akan segera Diluncurkan
Angkat Pangan dan Nutrisi,...
Angkat Pangan dan Nutrisi, Peneliti Indonesia Masuk Daftar Asian Scientist 100
AI Bisa Memperpanjang...
AI Bisa Memperpanjang Masa Pakai Baterai Kendaraan Listrik
Rekomendasi
Confeti Love hingga...
Confeti Love hingga Moonlit Blush, Ini Makna di Balik Pendant Koleksi Baru Nagita Slavina x ISAGO
Ajukan JC di Kasus Korupsi...
Ajukan JC di Kasus Korupsi MBG, Eks Waka BGN Sony Sonjaya Sebut 26 Nama di BAP
Dirut Perkebunan Nusantara...
Dirut Perkebunan Nusantara III Dorong Pemuda Jadi Motor Transformasi Perkebunan
Berita Terkini
4 Teknologi Mutakhir...
4 Teknologi Mutakhir di Piala Dunia 2026, Pesepak Bola Akan Jadi Avatar
OpenAI Luncurkan Fitur...
OpenAI Luncurkan Fitur Penguncian Perlindungan Data untuk ChatGPT
Rayakan Hari Jadi ke-30,...
Rayakan Hari Jadi ke-30, Lexar Padukan Visi Teknologi AI dan Sinergi Global
Gerhana Matahari Total...
Gerhana Matahari Total Terlama Abad Ini Akan Segera Terjadi
Ilmuwan Pastikan AI...
Ilmuwan Pastikan AI Belum Bisa Kalahkan Teori Soal Iklim
Mantap! Telkom Bagikan...
Mantap! Telkom Bagikan Dividen Saham Rp21,9 Triliun dari Hasil Buku 2025
Infografis
Tentara Ukraina Hanya...
Tentara Ukraina Hanya Bertahan Beberapa Hari di Garis Depan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved