Universitas Oxford Ciptakan Vaksin Covid-19
Sabtu, 21 November 2020 - 10:15 WIB
loading...
A
A
A
Vaksin Covid-19 buatan Universitas Oxford menandai terobosan lain dalam pengembangan vaksin setelah Moderna dan Pfizer-BioNTech. Keduanya terungkap memiliki tingkat efektif sekitar 95% dalam seminggu terakhir. Penemuan vaksin oleh Universitas Oxford membuat pemerintah Inggris ingin memesan 100 juta dosis suntikan yang dibuat dengan perusahaan farmasi AstraZeneca. Pemerintah Inggris berharap vaksin dapat bekerja efektif dan dapat diproduksi cukup cepat untuk melindungi mayoritas penduduk Inggris.
Ada perbedaan harga dalam sekali suntikan vaksin antara Oxford dan dua lainnya. Biaya suntik vaksin Oxford diperkirakan hanya 2 poundsterling per dosis dibandingkan Pfizer dan Moderna yang memiliki harga 15-28 poundsterling. “Masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan tetapi ini adalah serangkaian temuan yang sangat menggembirakan,” kata Menteri Kesehatan Inggris Matt Hancock, dalam sebuah tweet.
Vaksin tersebut telah menghasilkan satu set data lengkap dari uji coba fase tiga yang melibatkan puluhan ribu orang. Ini akan digunakan regulator dalam mempertimbangkan pemberian izin untuk digunakan. “Kami yakin bahwa kami akan mendapatkan hasil tahap ketiga sebelum Natal tapi langkah selanjutnya berada di luar kendali kami,” kata Profesor Pollard. (Baca juga: Jangan Kendor, Olahraga Harus Tetap Dilakukan Pada Masa Pandemi)
Di Inggris, Badan Pengawas Obat dan Kesehatan (MHRA) sudah melakukan tinjauan bergulir tentang uji klinis Universitas Oxford. Mereka akan melihat semua data yang ada untuk memutuskan, apakah vaksin tersebut aman dan dapat digunakan secara umum. “Kami tidak terburu-buru dalam pengembangan vaksin karena ini bukanlah sebuah persaingan, justru kerja sama yang dikedepankan,” tambah Pollard.
Dalam penelitiannya, para peneliti telah mencoba sebaik mungkin dan ingin memberi kepastian tentang hasil uji coba. Mereka hanya tinggal menunggu setelah semua data berhasil dikumpulkan. Salah satu pengembang vaksin, Profesor Sarah Gilbert, mengungkapkan bahwa pemberian data kepada regulator obat tidak hanya menunggu data terakhir.
Pemberian data dapat dilakukan saat ini agar mereka dapat menilai bahwa ada banyak informasi yang harus dilalui. “Proses itu sudah dimulai dengan banyak regulator untuk mempercepat aplikasi, seperti yang kami katakan. Kami harapkan sebelum Natal sudah diterima hasilnya,” kata Gilbert.
Ada perbedaan harga dalam sekali suntikan vaksin antara Oxford dan dua lainnya. Biaya suntik vaksin Oxford diperkirakan hanya 2 poundsterling per dosis dibandingkan Pfizer dan Moderna yang memiliki harga 15-28 poundsterling. “Masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan tetapi ini adalah serangkaian temuan yang sangat menggembirakan,” kata Menteri Kesehatan Inggris Matt Hancock, dalam sebuah tweet.
Vaksin tersebut telah menghasilkan satu set data lengkap dari uji coba fase tiga yang melibatkan puluhan ribu orang. Ini akan digunakan regulator dalam mempertimbangkan pemberian izin untuk digunakan. “Kami yakin bahwa kami akan mendapatkan hasil tahap ketiga sebelum Natal tapi langkah selanjutnya berada di luar kendali kami,” kata Profesor Pollard. (Baca juga: Jangan Kendor, Olahraga Harus Tetap Dilakukan Pada Masa Pandemi)
Di Inggris, Badan Pengawas Obat dan Kesehatan (MHRA) sudah melakukan tinjauan bergulir tentang uji klinis Universitas Oxford. Mereka akan melihat semua data yang ada untuk memutuskan, apakah vaksin tersebut aman dan dapat digunakan secara umum. “Kami tidak terburu-buru dalam pengembangan vaksin karena ini bukanlah sebuah persaingan, justru kerja sama yang dikedepankan,” tambah Pollard.
Dalam penelitiannya, para peneliti telah mencoba sebaik mungkin dan ingin memberi kepastian tentang hasil uji coba. Mereka hanya tinggal menunggu setelah semua data berhasil dikumpulkan. Salah satu pengembang vaksin, Profesor Sarah Gilbert, mengungkapkan bahwa pemberian data kepada regulator obat tidak hanya menunggu data terakhir.
Pemberian data dapat dilakukan saat ini agar mereka dapat menilai bahwa ada banyak informasi yang harus dilalui. “Proses itu sudah dimulai dengan banyak regulator untuk mempercepat aplikasi, seperti yang kami katakan. Kami harapkan sebelum Natal sudah diterima hasilnya,” kata Gilbert.
Lihat Juga :