Canggih, AI Besutan Huawei Bakal Jadi Pengawas Hutan di Indonesia
Senin, 26 Oktober 2020 - 23:59 WIB
loading...
A
A
A
Selama masa pandemik, pihaknya juga telah mengontribusikan teknologi Kecerdasan Arfisial (AI) dan Cloud bagi dunia kesehatan dan pendidikan. "Merupakan kebanggaan bagi kami dapat memperluas kontribusi hingga menjangkau bidang lingkungan hidup di Indonesia melalui inisiatif global untuk inklusi digital TECH4ALL yang merupakan bagian dari tanggung jawab sosial Huawei dalam pemberdayaan teknologi digital bagi lingkungan, pendidikan dan kesehatan," paparnya.
Huawei berkolaborasi dengan Lembaga Nirlaba (NGO) Rainforest Connection membangun Smart Forest Guardian menggunakan teknologi AI untuk melindungi hutan dari pembalakan dan perburuan liar, serta upaya konservasi alam di Taman Nasional Bali Barat. Rainforest Connection telah menggunakan teknologi ini di hutan hujan tropis Kosta Rica, Filipina dan beberapa negara lain.
"Kami sangat percaya bahwa teknologi yang baik dapat membawa manfaat yang lebih besar bagi dunia. Keterlibatan ini menjadi bagian awal dari perjalanan bersama untuk lingkungan yang makin lestari," katanya.
Tim survei juga berkesempatan menerima arahan dari Wakil Menteri LHK Alue Dohong yang sedang melakukan kunjungan kerja ke Taman Nasional Bali Barat. Alue Dohong meninjau penangkaran burung Jalak Bali dan melakukan pelepasliaran Jalak Bali.
Jalak Bali merupakan satwa endemik Bali yang menjadi maskot Taman Nasional Bali Barat. Keberadaannya di habitat asli hanya tinggal beberapa ratus ekor saja. Bahkan sempat nyaris punah karena perburuan liar.
Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem KLHK, Wiratno, juga memberikan arahan kepada tim survei. Dia menjelaskan, saat ini KLHK juga telah memanfaatkan teknologi untuk pengawasan satwa.
“Saat ini sudah pakai Camera Trap dan GPS Collar, untuk memantau gajah Sumatera. Dengan kerja sama ini, teknologi AI (artificial intelligence) dimanfaatkan untuk mendeteksi suara yang berada di hutan. Deteksi suara ini juga dapat memperkaya sistem yang sudah dimanfaatkan KLHK untuk memantau satwa di Indonesia,” kara Wiratno.
Huawei berkolaborasi dengan Lembaga Nirlaba (NGO) Rainforest Connection membangun Smart Forest Guardian menggunakan teknologi AI untuk melindungi hutan dari pembalakan dan perburuan liar, serta upaya konservasi alam di Taman Nasional Bali Barat. Rainforest Connection telah menggunakan teknologi ini di hutan hujan tropis Kosta Rica, Filipina dan beberapa negara lain.
"Kami sangat percaya bahwa teknologi yang baik dapat membawa manfaat yang lebih besar bagi dunia. Keterlibatan ini menjadi bagian awal dari perjalanan bersama untuk lingkungan yang makin lestari," katanya.
Tim survei juga berkesempatan menerima arahan dari Wakil Menteri LHK Alue Dohong yang sedang melakukan kunjungan kerja ke Taman Nasional Bali Barat. Alue Dohong meninjau penangkaran burung Jalak Bali dan melakukan pelepasliaran Jalak Bali.
Jalak Bali merupakan satwa endemik Bali yang menjadi maskot Taman Nasional Bali Barat. Keberadaannya di habitat asli hanya tinggal beberapa ratus ekor saja. Bahkan sempat nyaris punah karena perburuan liar.
Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem KLHK, Wiratno, juga memberikan arahan kepada tim survei. Dia menjelaskan, saat ini KLHK juga telah memanfaatkan teknologi untuk pengawasan satwa.
“Saat ini sudah pakai Camera Trap dan GPS Collar, untuk memantau gajah Sumatera. Dengan kerja sama ini, teknologi AI (artificial intelligence) dimanfaatkan untuk mendeteksi suara yang berada di hutan. Deteksi suara ini juga dapat memperkaya sistem yang sudah dimanfaatkan KLHK untuk memantau satwa di Indonesia,” kara Wiratno.
Lihat Juga :