CEO Tampan yang Menyamar Xu Peng Jualan Sayur, Potret Nyata Aktor China Digusur AI

Senin, 13 Juli 2026 - 13:37 WIB
loading...
CEO Tampan yang Menyamar...
Aktor CEO tampan di layar kini banting setir jadi penjual sayur kampung — begini realita industri drama pendek China yang digilas AI. Foto: ist
A A A
CHINA - Xu Peng dulu mengisi jadwal syuting 15-16 jam sehari. Kini dia mengantar sayur hasil kebun kakeknya ke pasar naik mobil listrik.

Perubahan nasib aktor lulusan Central Academy of Drama ini bukan kasus tunggal. Ia adalah wujud gelombang PHK massal yang melanda industri drama pendek China akibat serbuan produksi berbasis kecerdasan buatan (AI).

Dari CEO Dingin di Layar ke Pedagang Sayur di Kampung

Xu Peng membangun karier lewat serial televisi sebelum masuk ke drama-mikro (micro-drama) pada 2025, saat genre ini sedang meledak di China. Ia dikenal lewat peran stereotipe "CEO dingin dan dominan" yang laris ditonton. Permintaan produksi begitu tinggi hingga jadwalnya penuh sepanjang hari.
Situasi berbalik cepat. Setelah menyelesaikan drama pendek terakhirnya awal tahun ini, Peng meninggalkan Hengdian di Provinsi Zhejiang, pusat industri film dan televisi China, dan pulang ke rumah keluarganya di pedesaan Shandong.

"Menjadi aktor hanyalah profesi. Kalau tidak ada pekerjaan akting, saya akan cari cara lain untuk hidup," katanya, seperti dikutip CNA Lifestyle. Ia menambahkan bahwa profesi boleh berubah, tapi dirinya tetap orang yang sama.

Video dan foto Peng berjualan sayur di pasar viral di media sosial. Warganet ramai memuji kerendahan hatinya. Meski begitu, Peng belum sepenuhnya melepas akting. Ia berencana membuka program pelatihan akting sembari tetap memproduksi drama pendek live-action.

Bayaran Aktor Anjlok Drastis
CEO Tampan yang Menyamar Xu Peng Jualan Sayur, Potret Nyata Aktor China Digusur AI

Perubahan nasib Peng mencerminkan tren luas di industri. Aktor papan atas drama pendek dulu bisa meraih 20.000 yuan (sekitar Rp51,06 juta) per hari. Kini banyak yang kesulitan mendapat proyek dengan bayaran 1.200 yuan (sekitar Rp3,06 juta) per hari.

Aktor drama pendek lain, Zhang Xiaolei (28), asal Qinghai, dulu mengantongi 20.000 hingga 30.000 yuan (sekitar Rp51,06 juta hingga Rp76,59 juta) per bulan pada 2024. Setelah gelombang AI menggerus produksi live-action, ia pulang kampung untuk bertani.

Aktris Yu Shutian mengatakan tawaran murah kini jadi hal biasa. Rumah produksi kerap menawar turun dari penawaran empat digit menjadi tiga digit. "Beberapa rekan lebih memilih berhenti daripada menerima bayaran serendah itu," ujarnya.

Data Pribadi Wajah Jadi Komoditas Baru

Di balik penurunan bayaran, muncul pasar baru: jual-beli data wajah. Aktor senior Hong Kong Lawrence Ng Kai-wah (62) baru saja melisensikan wajah versi mudanya untuk produksi AI dan mengaku puas dengan hasilnya. Ia menilai akting berbasis AI dan akting live-action bisa berdampingan.

Namun menurut aktor drama pendek asal daratan China, Wu Weibin, kasus Ng hanya puncak gunung es. Kesepakatan hak potret sudah lama beredar di industri, dengan harga umum 500 hingga 1.500 yuan (sekitar Rp1,28 juta hingga Rp3,83 juta). Sejumlah kru bahkan mewajibkan aktor menyerahkan hak wajah sebagai syarat casting.

Permintaan data wajah tak hanya menyasar aktor profesional. Iklan "rekrutmen material wajah" bermunculan di platform seperti Douyin dan Xiaohongshu, menawarkan bayaran mulai 100 yuan (sekitar Rp255.300) untuk proses yang hanya butuh waktu kurang dari 10 menit.

Dua Aktor Papan Atas Ikut Menganggur
CEO Tampan yang Menyamar Xu Peng Jualan Sayur, Potret Nyata Aktor China Digusur AI

Fenomena ini merembet ke aktor yang lebih dikenal publik. Aktor China Dong Zijian mengaku tidak memiliki proyek mendatang saat menerima penghargaan di ajang Weibo Night, Juni lalu.

Aktor lain, Liu Yuan, secara terbuka mencari tawaran kerja dari sutradara. Sumber menyebut ia sudah 140 hari tanpa satu pun tawaran.
Topik ini sempat menjadi trending di Weibo, diliput lebih dari selusin media yang mendata daftar aktor yang kesulitan mendapat peran.

Produksi AI Lebih Murah dan Lebih Cepat

Xiong Binghui, CEO Kemeng Intelligence (Beijing) Technology, menyebut drama pendek berbasis AI menekan biaya produksi 70 hingga 80 persen dan hanya butuh waktu kurang dari dua minggu, dibanding dua bulan untuk produksi live-action.

Berdasarkan white paper pasar audiovisual China yang baru dirilis, lebih dari 95 persen dari 128.000 drama mikro yang tayang pada kuartal pertama tahun ini dibuat atau diproduksi mendalam dengan bantuan AI.

Jumlah syuting drama pendek live-action anjlok 67 persen secara tahunan. Di Hengdian World Studios, pemesanan aktor figuran turun 37 persen, dengan rata-rata bayaran aktor kurang dikenal turun 40 persen.

Bukan Cuma AI, Industri Film Juga Menyusut

Ekonom Song Qinghui menilai aktor tetap punya tempat untuk peran yang membutuhkan emosi kompleks dan improvisasi. Ia justru menyebut akar masalah pengangguran ini lebih fundamental: kontraksi industri film dan televisi.

Pendapatan box office kuartal pertama turun 51,29 persen secara tahunan. Investasi pada drama panjang menyusut karena modal lebih memilih proyek dengan imbal hasil cepat. Ditambah gempuran video pendek dan konten AI, film dan TV konvensional tertekan dari sisi penonton maupun pendapatan iklan.

Sementara itu, seorang sutradara drama pendek mengingatkan bahwa penggunaan AI masih perlu kehati-hatian. Biaya pra-produksi, pasca-produksi, dan tim AI belum tentu benar-benar lebih hemat dibanding metode konvensional.
(dan)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
SpaceX Berganti Nama...
SpaceX Berganti Nama Jadi SpaceXAI Bukti Fokus pada AI
DeepSeek Siap Kembangkan...
DeepSeek Siap Kembangkan Chip AI Sendiri, Ini Bocorannya
PBB Menyerukan Penguatan...
PBB Menyerukan Penguatan Tata Kelola Kecerdasan Buatan
Video Prototipe Project...
Video Prototipe Project Aion Ungkap Konsep Sistem Operasi AI Microsoft
AI for Life: Ketika...
AI for Life: Ketika Kampus Mulai Bicara Etika, Bukan Sekadar Teknologi
Meta Hadirkan Kembali...
Meta Hadirkan Kembali Facebook Creator Studio Berbasis AI
Tingkatkan Efektivitas...
Tingkatkan Efektivitas Layanan, Halodoc Andalkan AI untuk Dukung Dokter dan Pasien
Aset Kripto Rp18 Triliun...
Aset Kripto Rp18 Triliun Lenyap Diretas, AI Bisa Jadi Andalan Keamanan Baru
Direktur CIA: Dunia...
Direktur CIA: Dunia Terancam dengan Senjata Nuklir Digital yang Didukung AI
Rekomendasi
Sengketa Berakhir, Warek...
Sengketa Berakhir, Warek II UIN Jakarta Resmi Buka MPLS SMA/SMK Triguna
Tenny Tap Rayakan Pesona...
Tenny Tap Rayakan Pesona Wanita Indonesia Lewat Single Legit
Iran Ancam Negara-negara...
Iran Ancam Negara-negara Teluk untuk Tidak Jadi Arena bagi Serangan AS
Berita Terkini
CEO Tampan yang Menyamar...
CEO Tampan yang Menyamar Xu Peng Jualan Sayur, Potret Nyata Aktor China Digusur AI
Heboh! Oppo Rilis TWS...
Heboh! Oppo Rilis TWS Enco Air5 Series dengan Fitur AI Gemini, Harga Cuma Segini
Apple Gugat OpenAI:...
Apple Gugat OpenAI: Rahasia Dagang Diduga Dibawa Kabur Lewat Mantan Karyawan
Aksesoris Ponsel yang...
Aksesoris Ponsel yang Dianggap Punah Akan segera Kembali
Titik Balik yang Mengubah...
Titik Balik yang Mengubah Ukuran Manusia Purba Ditemukan
SpaceX Berganti Nama...
SpaceX Berganti Nama Jadi SpaceXAI Bukti Fokus pada AI
Infografis
Profil Andi Saputra,...
Profil Andi Saputra, Hakim Ad Hoc Tipikor yang Sampaikan Dissenting Opinion Vonis Nadiem
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved