Ilmuwan Klaim Berhasil Menghitung Waktu Akhir Kehidupan Bumi
Selasa, 07 Juli 2026 - 21:47 WIB
loading...
Waktu Akhir Kehidupan Bumi.foto/ Live Science
A
A
A
BEIJING - Studi yang diterbitkan dalam Journal of Geophysical Research ini menggunakan model iklim 3D untuk menghitung masa depan Bumi yang jauh seiring dengan meningkatnya suhu matahari.
Hasil ini berbeda secara signifikan dari beberapa perkiraan sebelumnya. Pada tahun 1982, James Lovelock dan rekan-rekannya menyarankan bahwa biosfer fotosintetik Bumi dapat berakhir dalam waktu sekitar 100 juta tahun. Namun, studi-studi selanjutnya telah menggeser jangka waktu ini lebih jauh ke belakang.
Menurut model baru ini, tumbuhan dapat bertahan hidup hingga hampir titik di mana Bumi benar-benar kehilangan lautannya. Proses ini diprediksi akan terjadi dalam waktu sekitar 2 miliar tahun. Hal ini karena Matahari terus menjadi lebih panas dan lebih terang dari waktu ke waktu.
"Kami ingin menunjukkan bahwa kehidupan di Bumi, khususnya vegetasi kompleks, dapat bertahan lebih lama daripada yang ditunjukkan oleh penelitian sebelumnya," kata Jacob Haqq-Misra kepadaLive Science.
Robert Graham, seorangilmuwanplanet di Universitas Chicago, menyebut ini sebagai "termostat terintegrasi" Bumi. Menurutnya, mekanisme penyimpanan CO2 dalam batuan telah membantu permukaan planet mempertahankan kondisi yang sesuai selama 4 miliar tahun terakhir.
Graham memuji penelitian tersebut sebagai langkah maju dari model yang lebih sederhana. Ia berpendapat bahwa hasil penelitian menunjukkan bahwa biosfer kompleks seperti Bumi mungkin lebih tahan terhadap perubahan akibat pemanasan bintang.
Meskipun demikian, para ilmuwan tetap berhati-hati. Andrew Rushby, seorang astrobiolog di Universitas Birkbeck di London, berpendapat bahwa hasil tersebut masih merupakan perkiraan kasar.
Ia mengatakan bahwa manusia tidak dapat mengetahui secara pasti bagaimana biosfer fotosintetik akan berevolusi dalam miliaran tahun mendatang.
Tim peneliti juga mengakui keterbatasan ini. Mereka berpendapat bahwa batasan saat ini mungkin hanya mencerminkan pemahaman manusia saat ini tentang biosfer dan bahwa ini bukanlah kepastian tentang batas akhir kehidupan
Hasil ini berbeda secara signifikan dari beberapa perkiraan sebelumnya. Pada tahun 1982, James Lovelock dan rekan-rekannya menyarankan bahwa biosfer fotosintetik Bumi dapat berakhir dalam waktu sekitar 100 juta tahun. Namun, studi-studi selanjutnya telah menggeser jangka waktu ini lebih jauh ke belakang.
Menurut model baru ini, tumbuhan dapat bertahan hidup hingga hampir titik di mana Bumi benar-benar kehilangan lautannya. Proses ini diprediksi akan terjadi dalam waktu sekitar 2 miliar tahun. Hal ini karena Matahari terus menjadi lebih panas dan lebih terang dari waktu ke waktu.
"Kami ingin menunjukkan bahwa kehidupan di Bumi, khususnya vegetasi kompleks, dapat bertahan lebih lama daripada yang ditunjukkan oleh penelitian sebelumnya," kata Jacob Haqq-Misra kepadaLive Science.
Robert Graham, seorangilmuwanplanet di Universitas Chicago, menyebut ini sebagai "termostat terintegrasi" Bumi. Menurutnya, mekanisme penyimpanan CO2 dalam batuan telah membantu permukaan planet mempertahankan kondisi yang sesuai selama 4 miliar tahun terakhir.
Graham memuji penelitian tersebut sebagai langkah maju dari model yang lebih sederhana. Ia berpendapat bahwa hasil penelitian menunjukkan bahwa biosfer kompleks seperti Bumi mungkin lebih tahan terhadap perubahan akibat pemanasan bintang.
Meskipun demikian, para ilmuwan tetap berhati-hati. Andrew Rushby, seorang astrobiolog di Universitas Birkbeck di London, berpendapat bahwa hasil tersebut masih merupakan perkiraan kasar.
Ia mengatakan bahwa manusia tidak dapat mengetahui secara pasti bagaimana biosfer fotosintetik akan berevolusi dalam miliaran tahun mendatang.
Tim peneliti juga mengakui keterbatasan ini. Mereka berpendapat bahwa batasan saat ini mungkin hanya mencerminkan pemahaman manusia saat ini tentang biosfer dan bahwa ini bukanlah kepastian tentang batas akhir kehidupan
(wbs)
Lihat Juga :