Kekayaan Laut Indonesia Diminta Dikelola dengan Inovasi Sains
Jum'at, 19 Juni 2026 - 14:23 WIB
loading...
Pengelolaan laut berbasis sains. Foto/ Dok SindoNews
A
A
A
MAKASSAR - Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia memiliki wilayah laut yang sangat luas yaitu mencapai sekitar 5,8 juta km.
Dengan lebih dari 99.000 km garis pantai dan 17.000 pulau yang tersebar di seluruh Nusantara, membuat Indonesia memiliki potensi yang besar di bidang sumber daya kelautan dan perikanan.
Hal ini juga memberikan dampak yang signifikan terhadap kehidupan dan perekonomian negara karena banyaknya potensi dalam pelayaran, perdagangan laut, serta pemanfaatan dari segala aspek sumber daya kelautan.
Melihat hal itu, Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Andi Yuslim Patawari memaparkan konsep Ekonomi Biru berbasis sains dalam SYMARFISH 2026 di Universitas Hasanuddin, Makassar.
Dia menilai sektor kelautan dapat menjadi motor baru pertumbuhan ekonomi sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.
Andi Yuslim hadir sebagai pembicara nasional dalam Simposium Nasional XIII dan Internasional IX Kelautan dan Perikanan. Forum tersebut mempertemukan akademisi, peneliti, pelaku usaha, dan pemangku kepentingan sektor maritim.
“Indonesia tidak bisa terus bergantung pada ekspor komoditas mentah. Kita harus membangun ekonomi berbasis inovasi, teknologi, dan hilirisasi agar produktivitas nasional meningkat,” kata AYP.
Dalam paparannya, AYP menyoroti tantangan deindustrialisasi dini dan stagnasi produktivitas yang dihadapi Indonesia, memerlukan strategi pembangunan yang berorientasi pada nilai tambah.
Menurut dia, Ekonomi Biru berbasis sains mampu mendorong transformasi sektor kelautan melalui teknologi, riset, dan digitalisasi. Pendekatan itu juga membuka peluang lahirnya industri baru dengan daya saing global.
“Kita memiliki sumber daya laut yang sangat besar. Tantangannya bukan lagi pada ketersediaan sumber daya, melainkan kemampuan mengolahnya menjadi produk bernilai tinggi,” ujarnya.
Pria yang juga Wasekjen HKTI ini menjelaskan pemanfaatan _smart fisheries_, bioteknologi kelautan, dan industrialisasi terintegrasi dapat meningkatkan efisiensi produksi. Langkah tersebut juga memperkuat rantai pasok pangan berbasis protein laut.
Dia menilai ketahanan pangan harus dibangun melalui peningkatan ketersediaan, aksesibilitas, kualitas, dan stabilitas pangan secara bersamaan. Karena itu, sektor kelautan perlu ditempatkan sebagai fondasi pembangunan ekonomi berkelanjutan.
“Kami mendorong kolaborasi pemerintah, perguruan tinggi, industri, dan masyarakat pesisir. Sinergi itu penting agar inovasi kelautan dapat memberikan manfaat ekonomi yang nyata bagi masyarakat,” tuturnya.
Andi Yuslim Patawari yang juga menjabat Waketum Partai Perindo berharap gagasan Ekonomi Biru berbasis sains dapat menjadi bagian dari arah pembangunan nasional menuju Indonesia Emas 2045. Dia juga mendorong penguatan riset, hilirisasi, dan digitalisasi sektor kelautan agar mampu menciptakan lapangan kerja serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir.
Dengan lebih dari 99.000 km garis pantai dan 17.000 pulau yang tersebar di seluruh Nusantara, membuat Indonesia memiliki potensi yang besar di bidang sumber daya kelautan dan perikanan.
Hal ini juga memberikan dampak yang signifikan terhadap kehidupan dan perekonomian negara karena banyaknya potensi dalam pelayaran, perdagangan laut, serta pemanfaatan dari segala aspek sumber daya kelautan.
Melihat hal itu, Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Andi Yuslim Patawari memaparkan konsep Ekonomi Biru berbasis sains dalam SYMARFISH 2026 di Universitas Hasanuddin, Makassar.
Dia menilai sektor kelautan dapat menjadi motor baru pertumbuhan ekonomi sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.
Andi Yuslim hadir sebagai pembicara nasional dalam Simposium Nasional XIII dan Internasional IX Kelautan dan Perikanan. Forum tersebut mempertemukan akademisi, peneliti, pelaku usaha, dan pemangku kepentingan sektor maritim.
“Indonesia tidak bisa terus bergantung pada ekspor komoditas mentah. Kita harus membangun ekonomi berbasis inovasi, teknologi, dan hilirisasi agar produktivitas nasional meningkat,” kata AYP.
Dalam paparannya, AYP menyoroti tantangan deindustrialisasi dini dan stagnasi produktivitas yang dihadapi Indonesia, memerlukan strategi pembangunan yang berorientasi pada nilai tambah.
Menurut dia, Ekonomi Biru berbasis sains mampu mendorong transformasi sektor kelautan melalui teknologi, riset, dan digitalisasi. Pendekatan itu juga membuka peluang lahirnya industri baru dengan daya saing global.
“Kita memiliki sumber daya laut yang sangat besar. Tantangannya bukan lagi pada ketersediaan sumber daya, melainkan kemampuan mengolahnya menjadi produk bernilai tinggi,” ujarnya.
Pria yang juga Wasekjen HKTI ini menjelaskan pemanfaatan _smart fisheries_, bioteknologi kelautan, dan industrialisasi terintegrasi dapat meningkatkan efisiensi produksi. Langkah tersebut juga memperkuat rantai pasok pangan berbasis protein laut.
Dia menilai ketahanan pangan harus dibangun melalui peningkatan ketersediaan, aksesibilitas, kualitas, dan stabilitas pangan secara bersamaan. Karena itu, sektor kelautan perlu ditempatkan sebagai fondasi pembangunan ekonomi berkelanjutan.
“Kami mendorong kolaborasi pemerintah, perguruan tinggi, industri, dan masyarakat pesisir. Sinergi itu penting agar inovasi kelautan dapat memberikan manfaat ekonomi yang nyata bagi masyarakat,” tuturnya.
Andi Yuslim Patawari yang juga menjabat Waketum Partai Perindo berharap gagasan Ekonomi Biru berbasis sains dapat menjadi bagian dari arah pembangunan nasional menuju Indonesia Emas 2045. Dia juga mendorong penguatan riset, hilirisasi, dan digitalisasi sektor kelautan agar mampu menciptakan lapangan kerja serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir.
(wbs)
Lihat Juga :