Xbox Hadapi Tekanan Keuangan, CEO Mengancam Restrukturisasi
Senin, 15 Juni 2026 - 08:11 WIB
loading...
Xbox Menghadapi Tekanan Keuangan. FOTO/ XBox
A
A
A
SAN FRANCISCO - CEO Xbox Asha Sharma mengkonfirmasi bahwa divisi video game Microsoft kini menghadapi tekanan keuangan menyusul penurunan pendapatan dan margin laba yang rendah.
Melalui memo internal kepada karyawan, Sharma menggambarkan situasi Xbox saat ini sebagai bermasalah, yang diakibatkan oleh investasi yang tidak berhasil dan strategi pasar yang tidak konsisten.
Laporan keuangan menunjukkan margin laba fiskal Xbox tahun ini hanya sekitar tiga persen, meskipun Microsoft menghabiskan sekitar USD20 miliar untuk akuisisi studio game selama lima tahun terakhir.
Angka tersebut tidak termasuk akuisisi Activision Blizzard King senilai USD69 miliar.
Terlepas dari investasi besar tersebut, pendapatan tahunan divisi tersebut dilaporkan menyusut hampir UDD500 juta selama periode yang sama.
Tekanan keuangan diperkirakan akan terus berlanjut karena meningkatnya biaya produksi konsol, sebagian karena kekurangan memori akses acak (RAM) global.
Menurut Sharma, ekosistem studio Xbox sekarang terlalu besar dan kompleks, tetapi tidak didukung oleh pendanaan yang cukup untuk tetap kompetitif dalam jangka panjang.
Perkembangan ini mencerminkan tantangan yang lebih luas dalam industri video game global, termasuk meningkatnya biaya pengembangan, waktu produksi game yang lama, dan pengeluaran konsumen yang semakin terbatas.
Beberapa pesaing utama seperti Sony dan Ubisoft sebelumnya juga telah mengambil langkah-langkah restrukturisasi termasuk penutupan studio dan pengurangan tenaga kerja.
Melalui memo internal kepada karyawan, Sharma menggambarkan situasi Xbox saat ini sebagai bermasalah, yang diakibatkan oleh investasi yang tidak berhasil dan strategi pasar yang tidak konsisten.
Laporan keuangan menunjukkan margin laba fiskal Xbox tahun ini hanya sekitar tiga persen, meskipun Microsoft menghabiskan sekitar USD20 miliar untuk akuisisi studio game selama lima tahun terakhir.
Angka tersebut tidak termasuk akuisisi Activision Blizzard King senilai USD69 miliar.
Terlepas dari investasi besar tersebut, pendapatan tahunan divisi tersebut dilaporkan menyusut hampir UDD500 juta selama periode yang sama.
Tekanan keuangan diperkirakan akan terus berlanjut karena meningkatnya biaya produksi konsol, sebagian karena kekurangan memori akses acak (RAM) global.
Menurut Sharma, ekosistem studio Xbox sekarang terlalu besar dan kompleks, tetapi tidak didukung oleh pendanaan yang cukup untuk tetap kompetitif dalam jangka panjang.
Perkembangan ini mencerminkan tantangan yang lebih luas dalam industri video game global, termasuk meningkatnya biaya pengembangan, waktu produksi game yang lama, dan pengeluaran konsumen yang semakin terbatas.
Beberapa pesaing utama seperti Sony dan Ubisoft sebelumnya juga telah mengambil langkah-langkah restrukturisasi termasuk penutupan studio dan pengurangan tenaga kerja.
(wbs)
Lihat Juga :