Bank di APAC Jadi Target Utama Serangan Siber Finansial Global
Minggu, 07 Juni 2026 - 21:50 WIB
loading...
A
A
A
Secara global, 96% organisasi jasa keuangan melaporkan setidaknya satu insiden keamanan API dalam 12 bulan terakhir, yang merupakan persentase tertinggi dibandingkan dengan industri lain.
Hal ini menciptakan titik buta yang terus membesar ketika aktivitas berbahaya semakin sulit dibedakan dari trafik yang sah. Akamai melihat lonjakan aktivitas bot canggih sebesar 147% pada akhir 2025. Selain itu, botnet berbasis AI semakin mampu meniru perilaku browser dan melewati pertahanan konvensional.
“Bank dan fintech di APAC menjadi salah satu pusat lingkungan keuangan digital yang paling cepat di dunia. Setiap layanan pembayaran, fitur mobile banking, integrasi fintech, dan alur kerja baru berbasis AI menciptakan dependensi lain yang dapat diuji oleh penyerang,” kata Reuben Koh, Director of Security Technology and Strategy, APJ di Akamai.
Bagi lembaga keuangan, kesimpulannya jelas: keamanan harus berkembang dari sekadar fungsi kepatuhan menjadi prioritas ketahanan operasional. Hal ini mencakup penguatan pertahanan terhadap serangan DDoS pada layer aplikasi, banjir trafik di jaringan, dan eksploitasi API; investasi pada alat keamanan API yang dapat mengidentifikasi paparan data sensitif dan perilaku tidak normal; serta adopsi pertahanan berbasis AI yang dapat merespons dengan kecepatan mesin.
Laporan tersebut juga menemukan bahwa organisasi yang menggunakan mikrosegmentasi—yaitu mengisolasi aplikasi penting untuk membatasi seberapa jauh penyerang dapat bergerak setelah masuk—merespons insiden 33% lebih cepat, sehingga memberikan keunggulan karena gangguan dapat menimbulkan beragam konsekuensi setiap menitnya, mulai dari reputasi, regulasi, hingga konsekuensi finansial.
Hal ini menciptakan titik buta yang terus membesar ketika aktivitas berbahaya semakin sulit dibedakan dari trafik yang sah. Akamai melihat lonjakan aktivitas bot canggih sebesar 147% pada akhir 2025. Selain itu, botnet berbasis AI semakin mampu meniru perilaku browser dan melewati pertahanan konvensional.
“Bank dan fintech di APAC menjadi salah satu pusat lingkungan keuangan digital yang paling cepat di dunia. Setiap layanan pembayaran, fitur mobile banking, integrasi fintech, dan alur kerja baru berbasis AI menciptakan dependensi lain yang dapat diuji oleh penyerang,” kata Reuben Koh, Director of Security Technology and Strategy, APJ di Akamai.
Bagi lembaga keuangan, kesimpulannya jelas: keamanan harus berkembang dari sekadar fungsi kepatuhan menjadi prioritas ketahanan operasional. Hal ini mencakup penguatan pertahanan terhadap serangan DDoS pada layer aplikasi, banjir trafik di jaringan, dan eksploitasi API; investasi pada alat keamanan API yang dapat mengidentifikasi paparan data sensitif dan perilaku tidak normal; serta adopsi pertahanan berbasis AI yang dapat merespons dengan kecepatan mesin.
Laporan tersebut juga menemukan bahwa organisasi yang menggunakan mikrosegmentasi—yaitu mengisolasi aplikasi penting untuk membatasi seberapa jauh penyerang dapat bergerak setelah masuk—merespons insiden 33% lebih cepat, sehingga memberikan keunggulan karena gangguan dapat menimbulkan beragam konsekuensi setiap menitnya, mulai dari reputasi, regulasi, hingga konsekuensi finansial.
(wbs)
Lihat Juga :