Ambisi Gila Nvidia: Tanam Rp2.670 Triliun di Taiwan, Rombak Total Otak Komputer
Senin, 01 Juni 2026 - 18:02 WIB
loading...
A
A
A
Dillon Rolnick, CEO Nous Research yang menaungi Hermes, juga setuju. "Anda akan sadar, Anda sedang membeli asisten penuh waktu, bukan laptop biasa."
Neil Shah, pendiri Counterpoint Research, menyebut ini adalah momen epik. "Ini akan menjadi momen 'RTX Spark' untuk komputasi personal. Sama seperti gebrakan iPhone, ChatGPT, atau DeepSeek."
Satya Nadella, CEO Microsoft, menimpali. "Tujuan kami adalah menghadirkan kecerdasan tak terbatas ke setiap rumah dan meja lewat Windows. RTX Spark adalah terobosan nyata menuju visi tersebut."
Tapi Huang tidak cuma jualan RTX Spark. Di panggung itu, ia juga memamerkan CPU Vera. Sebuah unit pemrosesan sentral yang khusus mendampingi Agen AI.
Inilah sumber uang baru. Huang menyebut CPU Vera membuka potensi pasar senilai Rp3.560 triliun (setara 200 miliar dolar AS). Pengguna perdananya bukan nama sembarangan: OpenAI, Anthropic, dan SpaceX.
Lalu, bagaimana dengan isu AI merebut lapangan kerja?
"Itu omong kosong belaka," tepis Huang. Ia yakin, AI justru membuat produktivitas melonjak drastis. Efeknya, jumlah insinyur perangkat lunak yang direkrut justru makin banyak.
Karena itu, Huang yang lahir di Tainan ini siap bakar uang besar-besaran. Ia mengumumkan investasi sekitar Rp2.670 triliun (USD150 miliar) setiap tahun di Taiwan. Menjadikan Taiwan episentrum revolusi AI global.
Tentu, bisnis secemerlang ini selalu diikuti bayang-bayang politik global. Khususnya perang dagang Amerika Serikat dan Tiongkok.
Baru hari Minggu kemarin, pemerintah AS memperketat aturan ekspor. Biro Industri dan Keamanan (BIS) AS mewajibkan lisensi khusus untuk mengekspor cip canggih—termasuk prosesor Blackwell andalan Nvidia—ke anak perusahaan Tiongkok di luar negeri. AS ingin menutup semua celah.
Ironisnya, dua minggu lalu Huang baru saja terbang ke Beijing. Ia masuk dalam rombongan delegasi bisnis tingkat tinggi yang mendampingi Presiden AS Donald Trump. Di sana, mereka bertemu Presiden Tiongkok Xi Jinping.
Dunia memang makin ruwet. Tapi di atas meja kerja, lewat RTX Spark, segalanya akan dibuat jauh lebih mudah oleh sang asisten pribadi.
Neil Shah, pendiri Counterpoint Research, menyebut ini adalah momen epik. "Ini akan menjadi momen 'RTX Spark' untuk komputasi personal. Sama seperti gebrakan iPhone, ChatGPT, atau DeepSeek."
Satya Nadella, CEO Microsoft, menimpali. "Tujuan kami adalah menghadirkan kecerdasan tak terbatas ke setiap rumah dan meja lewat Windows. RTX Spark adalah terobosan nyata menuju visi tersebut."
Tapi Huang tidak cuma jualan RTX Spark. Di panggung itu, ia juga memamerkan CPU Vera. Sebuah unit pemrosesan sentral yang khusus mendampingi Agen AI.
Inilah sumber uang baru. Huang menyebut CPU Vera membuka potensi pasar senilai Rp3.560 triliun (setara 200 miliar dolar AS). Pengguna perdananya bukan nama sembarangan: OpenAI, Anthropic, dan SpaceX.
Lalu, bagaimana dengan isu AI merebut lapangan kerja?
"Itu omong kosong belaka," tepis Huang. Ia yakin, AI justru membuat produktivitas melonjak drastis. Efeknya, jumlah insinyur perangkat lunak yang direkrut justru makin banyak.
Karena itu, Huang yang lahir di Tainan ini siap bakar uang besar-besaran. Ia mengumumkan investasi sekitar Rp2.670 triliun (USD150 miliar) setiap tahun di Taiwan. Menjadikan Taiwan episentrum revolusi AI global.
Tentu, bisnis secemerlang ini selalu diikuti bayang-bayang politik global. Khususnya perang dagang Amerika Serikat dan Tiongkok.
Baru hari Minggu kemarin, pemerintah AS memperketat aturan ekspor. Biro Industri dan Keamanan (BIS) AS mewajibkan lisensi khusus untuk mengekspor cip canggih—termasuk prosesor Blackwell andalan Nvidia—ke anak perusahaan Tiongkok di luar negeri. AS ingin menutup semua celah.
Ironisnya, dua minggu lalu Huang baru saja terbang ke Beijing. Ia masuk dalam rombongan delegasi bisnis tingkat tinggi yang mendampingi Presiden AS Donald Trump. Di sana, mereka bertemu Presiden Tiongkok Xi Jinping.
Dunia memang makin ruwet. Tapi di atas meja kerja, lewat RTX Spark, segalanya akan dibuat jauh lebih mudah oleh sang asisten pribadi.
(dan)
Lihat Juga :