Bukti Teknologi Tak Bisa Menggantikan Peran Pendekatan Manusia
Senin, 18 Mei 2026 - 21:55 WIB
loading...
Kecerdasan buatan. FOTO/ DAILY
A
A
A
JAKARTA - Teknologi diciptakan untuk mempermudah pekerjaan, bukan menggantikan esensi manusia. Keunggulan seperti empati, intuisi, dan penilaian moral menjadikan pendekatan manusia tidak tertandingi.
Teknologi bisa meniru logika, tetapi tidak memiliki hati, rasa, maupun kebijaksanaan kontekstual
Hal tersebut terbukti dengan Aice yang kembali menorehkan pencapaian yang menonjol dengan meraih WOW Brand Award 2026 untuk ketujuh kalinya.
Penghargaan ini didasarkan pada hasil WOW Brand Survey, yang melibatkan 3.000 responden lintas profesi dan generasi, mulai dari karyawan, pengusaha, mahasiswa hingga ibu rumah tangga, dengan rentang usia 17 hingga 56 tahun di berbagai wilayah Indonesia.
Berbeda dari pengukuran berbasis popularitas semata, survei ini menempatkan rekomendasi konsumen sebagai indikator utama, menjadikannya refleksi langsung dari pengalaman nyata yang dirasakan sehari-hari.
“Pencapaian ketujuh ini menjadi bukti bahwa Aice tetap dipercaya dan direkomendasikan oleh konsumen di berbagai generasi,” ujar Sylvana, Senior Brand Manager Aice Group.
Sementara itu, Iwan Setiawan, selaku COO MCorp, menegaskan bahwa di tengah derasnya arus komunikasi dan teknologi, kekuatan brand justru ditentukan oleh keaslian dalam membangun koneksi dengan konsumen.
“Saat ini konsumen semakin cepat menyaring komunikasi yang terasa terlalu dibuat-buat. Brand yang mampu tampil apa adanya dan membangun kedekatan yang asli justru lebih dipercaya dan direkomendasikan. Teknologi memang membantu membaca data, tetapi karakter dan relevansi brand tetap harus dibangun dengan pendekatan yang manusiawi" ujarnya
Teknologi bisa meniru logika, tetapi tidak memiliki hati, rasa, maupun kebijaksanaan kontekstual
Hal tersebut terbukti dengan Aice yang kembali menorehkan pencapaian yang menonjol dengan meraih WOW Brand Award 2026 untuk ketujuh kalinya.
Penghargaan ini didasarkan pada hasil WOW Brand Survey, yang melibatkan 3.000 responden lintas profesi dan generasi, mulai dari karyawan, pengusaha, mahasiswa hingga ibu rumah tangga, dengan rentang usia 17 hingga 56 tahun di berbagai wilayah Indonesia.
Berbeda dari pengukuran berbasis popularitas semata, survei ini menempatkan rekomendasi konsumen sebagai indikator utama, menjadikannya refleksi langsung dari pengalaman nyata yang dirasakan sehari-hari.
“Pencapaian ketujuh ini menjadi bukti bahwa Aice tetap dipercaya dan direkomendasikan oleh konsumen di berbagai generasi,” ujar Sylvana, Senior Brand Manager Aice Group.
Sementara itu, Iwan Setiawan, selaku COO MCorp, menegaskan bahwa di tengah derasnya arus komunikasi dan teknologi, kekuatan brand justru ditentukan oleh keaslian dalam membangun koneksi dengan konsumen.
“Saat ini konsumen semakin cepat menyaring komunikasi yang terasa terlalu dibuat-buat. Brand yang mampu tampil apa adanya dan membangun kedekatan yang asli justru lebih dipercaya dan direkomendasikan. Teknologi memang membantu membaca data, tetapi karakter dan relevansi brand tetap harus dibangun dengan pendekatan yang manusiawi" ujarnya
(wbs)
Lihat Juga :