Inovasi AI Terbaru Akan Banyak Dihadirkan dalam 5 Tahun ke Depan
Rabu, 20 Mei 2026 - 02:10 WIB
loading...
Inovasi AI Terbaru Akan Banyak Dihadirkan. Foto/ Dok SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Indonesia memegang dua angka yang jarang disebut bersamaan, yaitu tingkat adopsi AI tertinggi di dunia, dengan 92 persen pekerja berpengetahuan sudah menggunakan AI generatif dalam pekerjaan sehari-hari, dan proyeksi kekurangan tiga juta talenta digital pada 2030.
Keduanya bukan kontradiksi, melainkan dua sisi dari ketegangan yang sama. Indonesia sangat cepat mengadopsi teknologi, tetapi masih berpacu untuk membangun cukup banyak orang yang bisa merancang, mengembangkan, dan mengelola teknologi tersebut dari dalam.
Ekonomi digital Indonesia diproyeksikan berkontribusi lebih dari USD 130 miliar terhadap PDB pada 2025, sebuah pertumbuhan yang membutuhkan fondasi talenta yang tidak bisa hanya diandalkan dari adopsi alat semata.
Kekurangan ini bukan soal jumlah lulusan yang tidak cukup, melainkan soal jenis kompetensi yang dibutuhkan industri yang terus bergerak melampaui kurikulum konvensional.
Laporan Future of Jobs 2025 dari World Economic Forum menempatkan literasi AI dan big data serta keamanan siber sebagai bidang dengan pertumbuhan permintaan tercepat dalam lima tahun ke depan.
Sebanyak 30 persen perusahaan di Indonesia melaporkan kesulitan menemukan talenta berkualitas tinggi meskipun jumlah pelamar tidak kekurangan. Industri bukan lagi mencari coder dengan kemampuan dasar, melainkan individu yang bisa membangun sistem AI, merancang arsitektur cloud, mengamankan infrastruktur digital, dan menerjemahkan semua itu ke dalam konteks bisnis yang kompleks.
Keduanya bukan kontradiksi, melainkan dua sisi dari ketegangan yang sama. Indonesia sangat cepat mengadopsi teknologi, tetapi masih berpacu untuk membangun cukup banyak orang yang bisa merancang, mengembangkan, dan mengelola teknologi tersebut dari dalam.
Ekonomi digital Indonesia diproyeksikan berkontribusi lebih dari USD 130 miliar terhadap PDB pada 2025, sebuah pertumbuhan yang membutuhkan fondasi talenta yang tidak bisa hanya diandalkan dari adopsi alat semata.
Kekurangan ini bukan soal jumlah lulusan yang tidak cukup, melainkan soal jenis kompetensi yang dibutuhkan industri yang terus bergerak melampaui kurikulum konvensional.
Laporan Future of Jobs 2025 dari World Economic Forum menempatkan literasi AI dan big data serta keamanan siber sebagai bidang dengan pertumbuhan permintaan tercepat dalam lima tahun ke depan.
Sebanyak 30 persen perusahaan di Indonesia melaporkan kesulitan menemukan talenta berkualitas tinggi meskipun jumlah pelamar tidak kekurangan. Industri bukan lagi mencari coder dengan kemampuan dasar, melainkan individu yang bisa membangun sistem AI, merancang arsitektur cloud, mengamankan infrastruktur digital, dan menerjemahkan semua itu ke dalam konteks bisnis yang kompleks.
Lihat Juga :