Perkuat Keamanan Siber Nasional, Teknologi dari Korsel Dihadirkan
Rabu, 29 April 2026 - 01:34 WIB
loading...
A
A
A
“Strategi kami bertumpu pada tiga pilar utama, yaitu advanced technology, adaptability, dan scalability, agar solusi yang dihadirkan tidak hanya canggih, tetapi juga relevan dan berkelanjutan bagi pasar Indonesia,” jelasnya.
Sementara itu, VP IT, Product & Partnership Digiserve, Edi Nopian Mulia menyoroti tingginya ancaman siber di kawasan. Mengacu pada data Trend Micro, sebanyak 52% serangan ransomware global terjadi di Asia Tenggara, dengan sekitar 40% di antaranya menargetkan Indonesia.
Di dalam negeri, data Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mencatat lebih dari 3,5 miliar anomali trafik sepanjang 2025 yang menyasar berbagai sektor, mulai dari IoT, OT, hingga sistem pembayaran digital.
“Transformasi digital yang semakin masif, termasuk adopsi cloud dan pola kerja fleksibel, telah memperluas attack surface secara signifikan. Di sisi lain, kompleksitas tools keamanan juga meningkat, sementara ketersediaan talenta masih terbatas,” ujar Edi.
Ia menambahkan, Indonesia diperkirakan akan mengalami kekurangan hingga 600 ribu sampai 1,5 juta tenaga profesional cybersecurity dalam beberapa tahun ke depan. Kondisi ini mendorong kebutuhan akan pendekatan layanan berbasis managed services yang lebih komprehensif.
Di sisi lain, kompleksitas penggunaan tools juga menjadi tantangan tersendiri, di mana organisasi rata-rata menggunakan 10–20 tools keamanan (hingga 60–130 pada skala besar), yang berpotensi menimbulkan fragmentasi sistem keamanan.
Sementara itu, VP IT, Product & Partnership Digiserve, Edi Nopian Mulia menyoroti tingginya ancaman siber di kawasan. Mengacu pada data Trend Micro, sebanyak 52% serangan ransomware global terjadi di Asia Tenggara, dengan sekitar 40% di antaranya menargetkan Indonesia.
Di dalam negeri, data Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mencatat lebih dari 3,5 miliar anomali trafik sepanjang 2025 yang menyasar berbagai sektor, mulai dari IoT, OT, hingga sistem pembayaran digital.
“Transformasi digital yang semakin masif, termasuk adopsi cloud dan pola kerja fleksibel, telah memperluas attack surface secara signifikan. Di sisi lain, kompleksitas tools keamanan juga meningkat, sementara ketersediaan talenta masih terbatas,” ujar Edi.
Ia menambahkan, Indonesia diperkirakan akan mengalami kekurangan hingga 600 ribu sampai 1,5 juta tenaga profesional cybersecurity dalam beberapa tahun ke depan. Kondisi ini mendorong kebutuhan akan pendekatan layanan berbasis managed services yang lebih komprehensif.
Di sisi lain, kompleksitas penggunaan tools juga menjadi tantangan tersendiri, di mana organisasi rata-rata menggunakan 10–20 tools keamanan (hingga 60–130 pada skala besar), yang berpotensi menimbulkan fragmentasi sistem keamanan.
Lihat Juga :