Gen Z Iran Beberkan Dosa-dosa AS di Seluruh Dunia Pakai Video Lego
Rabu, 22 April 2026 - 21:04 WIB
loading...
Video Lego. FOTO/Viet
A
A
A
TEHERAN - Kelompok-kelompok kreatif di Iran menggunakan video animasi bergaya Lego untuk menyampaikan pesan protes terhadap tindakan militer AS dan Israel.
Video-video tersebut, yang dibagikan secara luas di platform seperti X, Telegram, dan YouTube sebelumnya, menggabungkan unsur-unsur sejarah, sindiran, dan simbolisme budaya.
Contoh utamanya, yang dirilis pada 29 Maret oleh kelompok Explosive Media yang berbasis di Teheran, dimulai dengan gambar-gambar penduduk asli Amerika, kemudian beralih ke adegan-adegan warga Afrika-Amerika yang diperbudak dan menjadi korban peristiwa seperti penjara Abu Ghraib di Irak.
Bagian selanjutnya dari video tersebut menggambarkan tentara Iran memasang pesan pada rudal, yang merujuk pada berbagai peristiwa sejarah.
Tulisan tersebut menyebutkan para korban Hiroshima dan Nagasaki, jatuhnya pesawat Iran Air Penerbangan 655 pada tahun 1988 yang menewaskan 290 orang, dan kematian aktivis Rachel Corrie di Gaza pada tahun 2003.
Menurut tim produksi, gambar-gambar seperti rudal atau drone bersifat simbolis dan tidak dimaksudkan untuk memicu kekerasan. Namun, akun YouTube mereka dihapus karena pelanggaran kebijakan, yang oleh tim dianggap sebagai bentuk sensor.
Selain konten sejarah, banyak video juga menggunakan musik dan bahasa satir, termasuk pengulangan dan pembalikan pernyataan Trump untuk mengkritik kebijakannya terkait Israel.
Produk-produk ini dibuat oleh sekelompok kreator muda, sebagian besar berusia 19 hingga 25 tahun. Mereka mengatakan bahwa mereka beroperasi secara independen, dengan beberapa konten yang dibeli oleh media domestik untuk disiarkan.
Tren video Lego tidak hanya muncul di Iran tetapi juga telah menyebar ke negara-negara lain di wilayah ini seperti Pakistan, dengan banyak kelompok kreatif yang memproduksi konten serupa.
Menurut para analis, daya tarik format ini terletak pada kemampuannya untuk menggabungkan hiburan dan pesan politik , sehingga konten tersebut mudah disebarkan dan diakses oleh khalayak yang lebih luas.
Beberapa ahli percaya bahwa ini adalah bagian dari media strategi Iran yang lebih luas. Profesor Marc Owen Jones dari Universitas Northwestern di Qatar berpendapat bahwa mempengaruhi opini publik internasional dapat membantu memberikan tekanan politik pada Amerika Serikat.
Sementara itu, komentator sosial Fasi Zaka berpendapat bahwa video-video ini mengeksploitasi isu-isu sensitif dalam masyarakat Amerika, seperti skandal Epstein, yang memicu terjadinya. Ia percaya bahwa pendekatan ini bersifat satir tetapi telah diperhitungkan dengan cermat.
Para analis meyakini bahwa pertumbuhan jenis konten ini mencerminkan tren baru dalam konflik modern, di mana media digital dan produk viral memainkan peran yang semakin penting dalam membentuk persepsi dan mempengaruhi opini publik global.
Video-video tersebut, yang dibagikan secara luas di platform seperti X, Telegram, dan YouTube sebelumnya, menggabungkan unsur-unsur sejarah, sindiran, dan simbolisme budaya.
Contoh utamanya, yang dirilis pada 29 Maret oleh kelompok Explosive Media yang berbasis di Teheran, dimulai dengan gambar-gambar penduduk asli Amerika, kemudian beralih ke adegan-adegan warga Afrika-Amerika yang diperbudak dan menjadi korban peristiwa seperti penjara Abu Ghraib di Irak.
Bagian selanjutnya dari video tersebut menggambarkan tentara Iran memasang pesan pada rudal, yang merujuk pada berbagai peristiwa sejarah.
Tulisan tersebut menyebutkan para korban Hiroshima dan Nagasaki, jatuhnya pesawat Iran Air Penerbangan 655 pada tahun 1988 yang menewaskan 290 orang, dan kematian aktivis Rachel Corrie di Gaza pada tahun 2003.
Menurut tim produksi, gambar-gambar seperti rudal atau drone bersifat simbolis dan tidak dimaksudkan untuk memicu kekerasan. Namun, akun YouTube mereka dihapus karena pelanggaran kebijakan, yang oleh tim dianggap sebagai bentuk sensor.
Selain konten sejarah, banyak video juga menggunakan musik dan bahasa satir, termasuk pengulangan dan pembalikan pernyataan Trump untuk mengkritik kebijakannya terkait Israel.
Produk-produk ini dibuat oleh sekelompok kreator muda, sebagian besar berusia 19 hingga 25 tahun. Mereka mengatakan bahwa mereka beroperasi secara independen, dengan beberapa konten yang dibeli oleh media domestik untuk disiarkan.
Tren video Lego tidak hanya muncul di Iran tetapi juga telah menyebar ke negara-negara lain di wilayah ini seperti Pakistan, dengan banyak kelompok kreatif yang memproduksi konten serupa.
Menurut para analis, daya tarik format ini terletak pada kemampuannya untuk menggabungkan hiburan dan pesan politik , sehingga konten tersebut mudah disebarkan dan diakses oleh khalayak yang lebih luas.
Beberapa ahli percaya bahwa ini adalah bagian dari media strategi Iran yang lebih luas. Profesor Marc Owen Jones dari Universitas Northwestern di Qatar berpendapat bahwa mempengaruhi opini publik internasional dapat membantu memberikan tekanan politik pada Amerika Serikat.
Sementara itu, komentator sosial Fasi Zaka berpendapat bahwa video-video ini mengeksploitasi isu-isu sensitif dalam masyarakat Amerika, seperti skandal Epstein, yang memicu terjadinya. Ia percaya bahwa pendekatan ini bersifat satir tetapi telah diperhitungkan dengan cermat.
Para analis meyakini bahwa pertumbuhan jenis konten ini mencerminkan tren baru dalam konflik modern, di mana media digital dan produk viral memainkan peran yang semakin penting dalam membentuk persepsi dan mempengaruhi opini publik global.
(wbs)
Lihat Juga :