Mengejutkan! Konsumen Usia 55 Tahun ke Atas Tertinggi Adopsi AI
Kamis, 16 April 2026 - 08:24 WIB
loading...
A
A
A
Profil Pengguna AI: Jabatan Tinggi, Pendidikan Tinggi
Riset ini mengungkapkan pola segmentasi yang menarik berdasarkan jabatan dan pendidikan. Direktur dan C-Level menunjukkan tingkat adopsi AI-first tertinggi (25,9%), dengan penggunaan media sosial paling rendah (16,5%). Sebaliknya, karyawan level staf menunjukkan ketergantungan media sosial tertinggi (48,1%) dengan adopsi AI terendah (11,9%).
Dari sisi pendidikan, lulusan sarjana (33,0%) dan pascasarjana (32,7%) menunjukkan penggunaan AI tinggi yang jauh lebih besar dibandingkan lulusan SMA/SMK (20,6%).
Menariknya, gender hampir tidak berpengaruh terhadap adopsi AI. Pengguna AI berat di kalangan laki-laki (26,8%) dan perempuan (25,9%) nyaris setara, menunjukkan bahwa AI untuk pencarian konsumen tidak mengenal perbedaan gender di Indonesia.
Secara geografis, Jabodetabek memimpin dengan 32,0% pengguna AI berat, diikuti Sumatera (25,9%) dan Jawa non-Jabodetabek (24,4%).
Implikasi bagi Dunia Bisnis Indonesia
Temuan riset ini menunjukkan bahwa perusahaan di Indonesia perlu segera memperluas strategi pemasaran digital mereka. Tidak cukup hanya mengandalkan Search Engine Optimization (SEO), perusahaan kini harus mulai menerapkan Generative Engine Optimization (GEO) — yaitu memastikan informasi brand mereka terstruktur, akurat, dan hadir di berbagai platform bereputasi tinggi yang menjadi sumber referensi bagi AI.
“Perusahaan yang hanya fokus pada website dan SEO tanpa membangun kehadiran di media pihak ketiga seperti artikel industri, ulasan profesional, dan publikasi akademik, akan semakin sulit ditemukan oleh konsumen yang kini mengandalkan AI. Strategi pemasaran harus disesuaikan berdasarkan target audiens — untuk menjangkau pengambil keputusan level atas, visibilitas di AI dan Google harus menjadi prioritas. Untuk konsumen level staf yang lebih muda, media sosial dan marketplace tetap esensial,” jelas Dedy Budiman.
Dukungan dari Komunitas Sales Indonesia
Brando Tengdom, Ketua Umum Sales Director Indonesia (SDI), menyambut positif temuan riset ini. “Temuan ini sangat bermanfaat bagi para member SDI yang merupakan para pengambil keputusan di perusahaan masing-masing. Data ini bisa membantu mereka dalam menyusun strategi penjualan yang lebih tepat di era perubahan perilaku pelanggan ini. Kami mengapresiasi kontribusi Dedy Budiman yang secara konsisten menghadirkan riset berbasis data untuk kemajuan profesi sales di Indonesia,” ujar Brando.
Senada dengan itu, Indra Hadiwidjaja, Ketua Asosiasi Komunitas Profesi Sales Indonesia (KOMISI), juga menyatakan dukungannya. “Temuan ini menjadi sangat penting bagi para sales profesional di seluruh Indonesia. Di tengah perubahan perilaku konsumen yang begitu cepat, para tenaga penjualan harus memahami bahwa pelanggan mereka kini datang dengan informasi yang sudah dikurasi oleh AI. Sales yang tidak beradaptasi akan tertinggal,” kata Indra.
Riset ini mengungkapkan pola segmentasi yang menarik berdasarkan jabatan dan pendidikan. Direktur dan C-Level menunjukkan tingkat adopsi AI-first tertinggi (25,9%), dengan penggunaan media sosial paling rendah (16,5%). Sebaliknya, karyawan level staf menunjukkan ketergantungan media sosial tertinggi (48,1%) dengan adopsi AI terendah (11,9%).
Dari sisi pendidikan, lulusan sarjana (33,0%) dan pascasarjana (32,7%) menunjukkan penggunaan AI tinggi yang jauh lebih besar dibandingkan lulusan SMA/SMK (20,6%).
Menariknya, gender hampir tidak berpengaruh terhadap adopsi AI. Pengguna AI berat di kalangan laki-laki (26,8%) dan perempuan (25,9%) nyaris setara, menunjukkan bahwa AI untuk pencarian konsumen tidak mengenal perbedaan gender di Indonesia.
Secara geografis, Jabodetabek memimpin dengan 32,0% pengguna AI berat, diikuti Sumatera (25,9%) dan Jawa non-Jabodetabek (24,4%).
Implikasi bagi Dunia Bisnis Indonesia
Temuan riset ini menunjukkan bahwa perusahaan di Indonesia perlu segera memperluas strategi pemasaran digital mereka. Tidak cukup hanya mengandalkan Search Engine Optimization (SEO), perusahaan kini harus mulai menerapkan Generative Engine Optimization (GEO) — yaitu memastikan informasi brand mereka terstruktur, akurat, dan hadir di berbagai platform bereputasi tinggi yang menjadi sumber referensi bagi AI.
“Perusahaan yang hanya fokus pada website dan SEO tanpa membangun kehadiran di media pihak ketiga seperti artikel industri, ulasan profesional, dan publikasi akademik, akan semakin sulit ditemukan oleh konsumen yang kini mengandalkan AI. Strategi pemasaran harus disesuaikan berdasarkan target audiens — untuk menjangkau pengambil keputusan level atas, visibilitas di AI dan Google harus menjadi prioritas. Untuk konsumen level staf yang lebih muda, media sosial dan marketplace tetap esensial,” jelas Dedy Budiman.
Dukungan dari Komunitas Sales Indonesia
Brando Tengdom, Ketua Umum Sales Director Indonesia (SDI), menyambut positif temuan riset ini. “Temuan ini sangat bermanfaat bagi para member SDI yang merupakan para pengambil keputusan di perusahaan masing-masing. Data ini bisa membantu mereka dalam menyusun strategi penjualan yang lebih tepat di era perubahan perilaku pelanggan ini. Kami mengapresiasi kontribusi Dedy Budiman yang secara konsisten menghadirkan riset berbasis data untuk kemajuan profesi sales di Indonesia,” ujar Brando.
Senada dengan itu, Indra Hadiwidjaja, Ketua Asosiasi Komunitas Profesi Sales Indonesia (KOMISI), juga menyatakan dukungannya. “Temuan ini menjadi sangat penting bagi para sales profesional di seluruh Indonesia. Di tengah perubahan perilaku konsumen yang begitu cepat, para tenaga penjualan harus memahami bahwa pelanggan mereka kini datang dengan informasi yang sudah dikurasi oleh AI. Sales yang tidak beradaptasi akan tertinggal,” kata Indra.
(unt)
Lihat Juga :