Balas Dendam 165 Warga Sipil yang Tewas, Hacker Iran Serang Perusahaan Medis AS Stryker

Jum'at, 20 Maret 2026 - 10:03 WIB
loading...
Balas Dendam 165 Warga...
Puluhan ribu sistem operasional perusahaan medis Stryker di AS tumbang akibat serangan balasan oportunistik dari peretas Iran, Handala, pada Selasa malam. Foto: Getty Images
A A A
IRAN - Tumpahnya darah tidak lagi hanya dibalas dengan peluru, melainkan dengan kelumpuhan digital yang masif.

Ketika rudal Tomahawk Amerika Serikat menewaskan sedikitnya 165 warga sipil di sebuah sekolah perempuan di Minab, Iran, pada akhir Februari lalu, balasan yang tiba di Negeri Paman Sam pada Selasa malam bukanlah pesawat pembom.

Serangan pertama itu berupa barisan kode malware yang secara brutal melumpuhkan puluhan ribu komputer dan menghentikan operasi global raksasa teknologi medis asal Michigan, Stryker.

Serangan destruktif ini diklaim dilakukan oleh "Handala", kelompok peretas yang namanya diambil dari karakter kartun politik karya seniman Palestina, Naji al-Ali.

Industri keamanan siber dunia, termasuk pakar Sergey Shykevich dari Check Point di Tel Aviv, meyakini kelompok yang bertahan menggunakan internet satelit Starlink ini adalah garda depan Kementerian Intelijen Iran (MOIS).

Saat ini, negara tidak lagi bersusah payah menembus firewall militer musuh yang berlapis. Mereka mengincar infrastruktur bisnis bernilai tinggi yang terafiliasi dengan negara lawan.

Stryker menjadi target empuk karena rekam jejaknya: mereka mengakuisisi perusahaan Israel, Orthospace, pada tahun 2019, dan yang paling fatal, mengantongi kontrak militer AS senilai USD450 juta (Rp 7,65 triliun) pada tahun lalu.

Sejak dua minggu lalu saat AS dan Israel melancarkan agresi militer, Handala telah mengklaim lebih dari selusin korban yang mayoritas merupakan entitas Israel.

Justin Moore, peneliti dari Unit 42 Palo Alto Networks, menyebut Handala sukses memadukan gaya bising "hacktivist" dengan daya hancur tingkat negara.

Meski, Rafe Pilling dari Sophos X-Ops menilai serangan ke Stryker ini lebih tampak seperti pencarian target acak dan oportunistik di tengah kepanikan bombardir udara, bukan taktik strategis yang matang.

Analis Alexander Leslie dari Recorded Future dan Ian Gray dari Flashpoint mencatat kemunculan Handala sejak akhir 2023, tepat setelah serangan 7 Oktober.

Penelusuran Check Point mengungkap bahwa pada 2022, kelompok ini (dikenal sebagai Void Manticore, Red Sandstorm, atau Cobalt Mystique) juga menyerang pemerintah Albania dengan nama "Homeland Justice" terkait kelompok oposisi Mojahedin-e-Khalq.

Kini, senjata mereka berevolusi. Mereka menggunakan peretas data infostealer Rhadamanthys, hingga wiper penghapus file bernama Coolwipe, Chillwipe, dan Bibiwiper—nama yang secara sarkastis diambil dari Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

Sebelumnya, mereka juga mengklaim meretas iPhone milik Kepala Staf Netanyahu, Tzachi Braverman, dan mantan PM Naftali Bennett, meski analisis menduga retasan itu hanya sebatas akun Telegram mereka.

Menjelang puncak eskalasi, Handala tercatat sebagai satu dari tiga kelompok peretas Iran yang mengeksploitasi celah kamera keamanan sipil yang terhubung ke internet di Bahrain, Uni Emirat Arab, Israel, hingga Siprus.

Tujuannya sangat taktis: memata-matai titik untuk meluncurkan drone dan rudal.
(dan)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Iran Temukan Pangkalan...
Iran Temukan Pangkalan Angkatan Laut Berusia 2.000 Tahun di Selat Hormuz
Siaga di Selat Hormuz,...
Siaga di Selat Hormuz, AS Gunakan Perahu Canggih Tanpa Awak
Amankan Piala Dunia...
Amankan Piala Dunia 2026, AS Kerahkan Sistem Pertahanan Anti-drone
Menganalisis Kekuatan...
Menganalisis Kekuatan Pesawat Su-35 dan Rafale setelah Pertemuan di Laut Baltik
Helikopter S-300 Tak...
Helikopter S-300 Tak Berawak Jadi Senjata Anti-kapal Selam
Iran Berniat Kembangan...
Iran Berniat Kembangan Rudal Balistik Antarbenua biar Tambah Menakutkan
Trump: AS Harus Kembalikan...
Trump: AS Harus Kembalikan Uang Iran atau Kepercayaan Dunia pada Dolar Rusak
Analis Israel: Netanyahu...
Analis Israel: Netanyahu Pembohong yang Dipermalukan Trump dalam Kesepakatan AS-Iran
Trump Telah Teken Nota...
Trump Telah Teken Nota Kesepahaman AS-Iran, Ini Rincian 14 Poinnya
Rekomendasi
Kabar Duka, Mantan KSAL...
Kabar Duka, Mantan KSAL Laksamana TNI Purn Achmad Sutjipto Meninggal Dunia
Kondisi Terkini Haji...
Kondisi Terkini Haji Bolot, Sudah Dipindah ke Ruang Rawat Inap dan Mulai Pulih
Hotman Paris Sindir...
Hotman Paris Sindir Mantan yang Pamer Pasangan Baru, Sindir Sarwendah?
Berita Terkini
Israel Temukan Batu...
Israel Temukan Batu Suci Berusia 2.700 Tahun yang Tertulis dalam Alkitab
Samsung Berencana Bangun...
Samsung Berencana Bangun Pusat Data Terapung di Laut
Trump T1 Phone Ternyata...
Trump T1 Phone Ternyata HTC U24 Pro Buatan China: Ini Bukti Teardown-nya
Kantongi Laba Rp33,72...
Kantongi Laba Rp33,72 Miliar, Elitery (ELIT) Fokus Kembangkan AI dan Cybersecurity
Perkuat Transformasi...
Perkuat Transformasi dan ESG, TelkomGroup Rilis Laporan Keberlanjutan 2025 untuk Masa Depan Digital
Fasilitasi Pasar Sekunder...
Fasilitasi Pasar Sekunder Esports, HIDDEN SUPPLY Kelola Transaksi Aset Tak Berwujud
Infografis
3 Senjata Canggih Iran...
3 Senjata Canggih Iran yang Ciptakan Mimpi Buruk bagi AS dan Israel
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved