Bakar Uang Rp2.295 Triliun, tapi Nggak Ada yang Mau Gunakan AI Buatan Meta
Senin, 16 Maret 2026 - 11:40 WIB
loading...
Mark Zuckerberg menghadapi tantangan besar untuk membuktikan bahwa investasi infrastruktur AI senilai lebih dari Rp2.000 triliun pada 2026 bukan sekadar bakar modal tanpa daya pikat bagi pengguna. Foto: Reuters
A
A
A
SAN FRANSISCO - Meta Platforms mungkin memenangkan angka-angka di atas kertas. Tapi, mereka kalah telak dalam merebut hati pengguna AI.
Di saat OpenAI melalui ChatGPT berhasil menggaet 900 juta pengguna aktif mingguan, Meta justru terjebak angka fatamorgana: miliaran pengguna yang "terpaksa" melihat AI karena fitur tersebut disisipkan secara paksa di sela-sela obrolan WhatsApp dan beranda Instagram.
Sederhananya gini: orang membuka ChatGPT karena mereka butuh asisten pintar. Sebaliknya, orang menggunakan Meta AI karena fitur itu ada di depan mata mereka saat ingin berkirim pesan.
Perbedaan antara pengguna "intensional" (berniat) dan pengguna "pasif" (sekadar lewat) inilah yang menjadi alarm bahaya bagi masa depan perusahaan milik Mark Zuckerberg tersebut di tahun 2026.
Kritik pedas ini datang dari Alex Kantrowitz, pendiri Big Technology, yang melihat adanya jurang lebar antara belanja modal (capex) Meta yang ugal-ugalan dengan realitas di lapangan.
Pada 2026, komitmen capex Meta diprediksi mencapai angka fantastis antara Rp1.955.000.000.000.000 hingga Rp2.295.000.000.000.000 (setara USD115-USD135 miliar).
Angka ini lebih besar dari anggaran pembangunan banyak negara, namun efektivitasnya dalam menumbangkan OpenAI masih nihil.
Secara finansial, Meta sebenarnya masih sangat perkasa. Pada kuartal IV-2025, perusahaan mencatatkan pendapatan sebesar Rp1.018.130.000.000.000 (USD59,89 miliar), tumbuh 24 persen secara tahunan.
Laba per saham atau EPS mencapai Rp150.960 (USD8,88), melampaui estimasi pasar sebesar 8 persen.
Namun, ada luka di balik angka cantik itu: margin operasional mereka menyusut dari 48 persen menjadi 41 persen. Penyebabnya jelas, biaya investasi AI membengkak jauh lebih cepat daripada pemasukan yang dihasilkan.
Masalah teknis semakin memperkeruh suasana. Meta tampak kesulitan meluncurkan model bahasa besar (LLM) yang benar-benar kompetitif. Laporan menyebutkan peluncuran model "Avocado" ditunda hingga Mei 2026 atau lebih lama.
Bahkan, pasar prediksi hanya memberikan peluang 10,5 persen bagi model "Mango" milik Meta untuk rilis pada akhir Maret ini.
Ketidakmampuan memproduksi teknologi inti ini membuat Meta terlihat seperti kontraktor yang membangun jalan tol mewah, tetapi tidak punya mobil untuk dijalankan di atasnya.
Kondisi ini tecermin di bursa saham. Harga saham META turun sekitar 7 persen sepanjang tahun berjalan (YTD), jauh di bawah angka tertingginya dalam 52 minggu terakhir yang sempat menyentuh Rp 13.516.020 (USD795,06). Meski konsensus analis menetapkan target harga pada Rp 14.658.250 (USD862,25), target itu bergantung sepenuhnya pada satu asumsi: apakah investasi triliunan rupiah tersebut bisa berubah menjadi keunggulan kompetitif yang nyata.
Jika Meta terus gagal menghadirkan produk yang dicari pengguna secara sukarela—bukan sekadar ditempelkan pada aplikasi yang sudah ada—maka capex ribuan triliun tersebut hanyalah "upeti" mahal untuk mengejar ketertinggalan yang tak kunjung terkejar.
Di saat OpenAI melalui ChatGPT berhasil menggaet 900 juta pengguna aktif mingguan, Meta justru terjebak angka fatamorgana: miliaran pengguna yang "terpaksa" melihat AI karena fitur tersebut disisipkan secara paksa di sela-sela obrolan WhatsApp dan beranda Instagram.
Sederhananya gini: orang membuka ChatGPT karena mereka butuh asisten pintar. Sebaliknya, orang menggunakan Meta AI karena fitur itu ada di depan mata mereka saat ingin berkirim pesan.
Perbedaan antara pengguna "intensional" (berniat) dan pengguna "pasif" (sekadar lewat) inilah yang menjadi alarm bahaya bagi masa depan perusahaan milik Mark Zuckerberg tersebut di tahun 2026.
Kritik pedas ini datang dari Alex Kantrowitz, pendiri Big Technology, yang melihat adanya jurang lebar antara belanja modal (capex) Meta yang ugal-ugalan dengan realitas di lapangan.
Pada 2026, komitmen capex Meta diprediksi mencapai angka fantastis antara Rp1.955.000.000.000.000 hingga Rp2.295.000.000.000.000 (setara USD115-USD135 miliar).
Angka ini lebih besar dari anggaran pembangunan banyak negara, namun efektivitasnya dalam menumbangkan OpenAI masih nihil.
Secara finansial, Meta sebenarnya masih sangat perkasa. Pada kuartal IV-2025, perusahaan mencatatkan pendapatan sebesar Rp1.018.130.000.000.000 (USD59,89 miliar), tumbuh 24 persen secara tahunan.
Laba per saham atau EPS mencapai Rp150.960 (USD8,88), melampaui estimasi pasar sebesar 8 persen.
Namun, ada luka di balik angka cantik itu: margin operasional mereka menyusut dari 48 persen menjadi 41 persen. Penyebabnya jelas, biaya investasi AI membengkak jauh lebih cepat daripada pemasukan yang dihasilkan.
Masalah teknis semakin memperkeruh suasana. Meta tampak kesulitan meluncurkan model bahasa besar (LLM) yang benar-benar kompetitif. Laporan menyebutkan peluncuran model "Avocado" ditunda hingga Mei 2026 atau lebih lama.
Bahkan, pasar prediksi hanya memberikan peluang 10,5 persen bagi model "Mango" milik Meta untuk rilis pada akhir Maret ini.
Ketidakmampuan memproduksi teknologi inti ini membuat Meta terlihat seperti kontraktor yang membangun jalan tol mewah, tetapi tidak punya mobil untuk dijalankan di atasnya.
Kondisi ini tecermin di bursa saham. Harga saham META turun sekitar 7 persen sepanjang tahun berjalan (YTD), jauh di bawah angka tertingginya dalam 52 minggu terakhir yang sempat menyentuh Rp 13.516.020 (USD795,06). Meski konsensus analis menetapkan target harga pada Rp 14.658.250 (USD862,25), target itu bergantung sepenuhnya pada satu asumsi: apakah investasi triliunan rupiah tersebut bisa berubah menjadi keunggulan kompetitif yang nyata.
Jika Meta terus gagal menghadirkan produk yang dicari pengguna secara sukarela—bukan sekadar ditempelkan pada aplikasi yang sudah ada—maka capex ribuan triliun tersebut hanyalah "upeti" mahal untuk mengejar ketertinggalan yang tak kunjung terkejar.
(dan)
Lihat Juga :