Ini Cara Telkom Group Kuasai Pasar Gim dan Musik di 2026
Kamis, 05 Maret 2026 - 11:07 WIB
loading...
CEO Nuon Digital Indonesia memaparkan strategi perusahaan untuk menjadi lokomotif ekosistem gaya hidup digital nasional agar perputaran triliunan rupiah tidak terus mengalir ke luar negeri. Foto:
A
A
A
JAKARTA - Indonesia memiliki ratusan juta pemain gim dan penikmat konten digital. Namun ironisnya, sebagian besar uang yang mereka belanjakan justru mengalir deras ke kantong perusahaan asing.
Fenomena inilah yang sedang dilawan secara serius oleh PT Nuon Digital Indonesia (Nuon) di 2026.
Memasuki 2026, tren konsumsi hiburan digital masyarakat terus meroket. Berdasarkan laporan e-Conomy SEA 2025, sektor media online Indonesia diproyeksikan bernilai sangat fantastis, yakni mencapai USD10-12 miliar pada periode 2026–2027.
Kok bisa sebesar itu? Karena negara ini digerakkan oleh lebih dari 190 juta konsumen digital, di mana sekitar 175 juta di antaranya adalah pemain gim aktif.
Masalah utamanya adalah "kebocoran nilai" (value leakage). Saat ini, uang hasil monetisasi konten digital masih terpusat pada platform global.
Melihat kepincangan ini, Nuon, sebagai anak usaha Telkom Group, bergerak memosisikan diri sebagai lokomotif penghubung antara pembuat konten, jalur distribusi, dan sistem pembayaran dalam satu ekosistem domestik agar uang berputar di dalam negeri.
”Kekuatan utama Nuon terletak pada penguasaan simpul distribusi digital. Dengan dukungan infrastruktur konektivitas terbesar di Indonesia, kami berada pada posisi strategis untuk menghubungkan konten, pengguna, dan monetisasi dalam satu ekosistem yang utuh,” tegas CEO Nuon, Aris Sudewo.
Aris menambahkan, “Kami memikul mandat untuk menekan value leakage sekaligus memastikan ekosistem digital nasional tumbuh secara mandiri dan berkelanjutan. Indonesia tidak boleh hanya menjadi pasar digital terbesar—kita harus menjadi tuan rumah di negeri sendiri."
Secara hitungan bisnis, Nuon memiliki otot infrastruktur raksasa. Mereka didukung penuh oleh ekosistem Telkom Group yang menguasai lebih dari 158 juta pengguna seluler dan 11 juta pelanggan internet rumah (broadband households).
![Ini Cara Telkom Group Kuasai Pasar Gim dan Musik di 2026]()
Belum cukup sampai di situ, Nuon juga mengincar pasar potensial (addressable market) lainnya yang tak kalah masif, yakni mencapai 182 juta pengguna seluler dan lebih dari 4 juta broadband households.
Untuk menjangkau masyarakat pelosok yang belum tersentuh layanan bank (unbanked dan underbanked), Nuon menggunakan logika sederhana: potong pulsa. Melalui integrasi Direct Carrier Billing (DCB), siapa saja kini bisa membeli konten digital premium dengan mudah. Cara ini terbukti memperbesar pemasukan bagi para pembuat konten lokal.
Deretan amunisi Nuon sudah disiapkan tanpa terkecuali. Untuk para gamer, Nuon mengelola jalur distribusi dan top-up digital melalui UPOINT.ID, serta sedang menguji coba (playtest) layanan main gim tanpa unduh bernama HELD (Gaming-on-Demand).
Di sektor audio, mereka menghadirkan Langit Musik dan agregator Langitku, ditambah layanan musik latar PlayUp untuk membantu musisi lokal mendapat royalti.
Sementara untuk acara langsung, Nuon memiliki platform Tiketapasaja.com. Sepanjang 2026, mereka juga berfokus menciptakan Kekayaan Intelektual (IP) lokal.
"Dengan struktur bisnis yang terintegrasi dari penciptaan IP hingga monetisasi, Nuon berkembang menjadi strategic digital asset dalam portofolio Telkom Group. Model ini tidak hanya memperluas revenue stream non-konektivitas, tetapi juga memperkuat kendali atas nilai ekonomi digital domestik secara berkelanjutan," tutup Aris.
Fenomena inilah yang sedang dilawan secara serius oleh PT Nuon Digital Indonesia (Nuon) di 2026.
Memasuki 2026, tren konsumsi hiburan digital masyarakat terus meroket. Berdasarkan laporan e-Conomy SEA 2025, sektor media online Indonesia diproyeksikan bernilai sangat fantastis, yakni mencapai USD10-12 miliar pada periode 2026–2027.
Kok bisa sebesar itu? Karena negara ini digerakkan oleh lebih dari 190 juta konsumen digital, di mana sekitar 175 juta di antaranya adalah pemain gim aktif.
Masalah utamanya adalah "kebocoran nilai" (value leakage). Saat ini, uang hasil monetisasi konten digital masih terpusat pada platform global.
Melihat kepincangan ini, Nuon, sebagai anak usaha Telkom Group, bergerak memosisikan diri sebagai lokomotif penghubung antara pembuat konten, jalur distribusi, dan sistem pembayaran dalam satu ekosistem domestik agar uang berputar di dalam negeri.
”Kekuatan utama Nuon terletak pada penguasaan simpul distribusi digital. Dengan dukungan infrastruktur konektivitas terbesar di Indonesia, kami berada pada posisi strategis untuk menghubungkan konten, pengguna, dan monetisasi dalam satu ekosistem yang utuh,” tegas CEO Nuon, Aris Sudewo.
Aris menambahkan, “Kami memikul mandat untuk menekan value leakage sekaligus memastikan ekosistem digital nasional tumbuh secara mandiri dan berkelanjutan. Indonesia tidak boleh hanya menjadi pasar digital terbesar—kita harus menjadi tuan rumah di negeri sendiri."
Secara hitungan bisnis, Nuon memiliki otot infrastruktur raksasa. Mereka didukung penuh oleh ekosistem Telkom Group yang menguasai lebih dari 158 juta pengguna seluler dan 11 juta pelanggan internet rumah (broadband households).
.jpg)
Belum cukup sampai di situ, Nuon juga mengincar pasar potensial (addressable market) lainnya yang tak kalah masif, yakni mencapai 182 juta pengguna seluler dan lebih dari 4 juta broadband households.
Untuk menjangkau masyarakat pelosok yang belum tersentuh layanan bank (unbanked dan underbanked), Nuon menggunakan logika sederhana: potong pulsa. Melalui integrasi Direct Carrier Billing (DCB), siapa saja kini bisa membeli konten digital premium dengan mudah. Cara ini terbukti memperbesar pemasukan bagi para pembuat konten lokal.
Deretan amunisi Nuon sudah disiapkan tanpa terkecuali. Untuk para gamer, Nuon mengelola jalur distribusi dan top-up digital melalui UPOINT.ID, serta sedang menguji coba (playtest) layanan main gim tanpa unduh bernama HELD (Gaming-on-Demand).
Di sektor audio, mereka menghadirkan Langit Musik dan agregator Langitku, ditambah layanan musik latar PlayUp untuk membantu musisi lokal mendapat royalti.
Sementara untuk acara langsung, Nuon memiliki platform Tiketapasaja.com. Sepanjang 2026, mereka juga berfokus menciptakan Kekayaan Intelektual (IP) lokal.
"Dengan struktur bisnis yang terintegrasi dari penciptaan IP hingga monetisasi, Nuon berkembang menjadi strategic digital asset dalam portofolio Telkom Group. Model ini tidak hanya memperluas revenue stream non-konektivitas, tetapi juga memperkuat kendali atas nilai ekonomi digital domestik secara berkelanjutan," tutup Aris.
(dan)
Lihat Juga :