Belajar dari Kasus New York Times, Komdigi Tolak Karya Jurnalis dan Kreator RI Dibajak Mesin AI

Selasa, 03 Maret 2026 - 18:01 WIB
loading...
Belajar dari Kasus New...
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria saat memberi peringatan terkait eksploitasi data masyarakat Indonesia oleh mesin kecerdasan buatan global di Jakarta Selatan, Senin (02/03/2026). Foto: Komdigi
A A A
JAKARTA - Setiap kali Anda mengunggah status, membagikan lokasi, atau membalas pesan di media sosial,Anda sebenarnya sedang "bekerja" secara gratis untuk melatih mesin kecerdasan buatan (AI) milik perusahaan raksasa dunia.

Ironisnya, triliunan rupiah nilai ekonomi dari keringat digital tersebut justru terbang ke luar negeri, meninggalkan pembuat aslinya tanpa royalti sepeser pun.

Fakta pahit ini ditekankan oleh Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi), Nezar Patria, dalam acara Indonesia–Finland Roundtable on Data Sovereignty and Cyber Resilience di Mayapada Tower, Jakarta Selatan, Senin (02/03).

Bagi logika awam masa kini, data kerap dipahami sebatas informasi rahasia seperti nomor KTP atau password.

Namun, memasuki 2026, data telah menjelma menjadi bahan baku utama alias "bensin" penggerak pabrik AI.

“Platform global seperti Google, Meta, dan TikTok mengumpulkan dan mengolah data dalam skala besar. Data tersebut kemudian dimanfaatkan untuk pengembangan teknologi berbasis big data dan kecerdasan buatan,” ujar Nezar.

Tren Pasar 2026: Kelaparan Mesin AI

Jika kita melihat tren pasar teknologi di 2026, mesin pencari dan robot AI (seperti ChatGPT atau Gemini) sedang berada dalam fase "kelaparan massal".

Mereka butuh menelan miliaran teks setiap harinya agar bisa bicara seperti manusia lokal.

Karena itu, percakapan netizen, karya jurnalistik, hingga tulisan akademik warga Indonesia disedot habis-habisan secara sepihak.

Wamen Nezar memberikan contoh konkret dari kasus The New York Times yang dengan tegas membatasi akses konten mereka agar tidak "dirampok" secara gratis oleh sistem AI seperti OpenAI.

Sengketa ini membuktikan bahwa sebuah gaya penulisan dan berita memiliki nilai ekonomi serta hak kekayaan intelektual yang wajib dibayar.

“Jika tidak diatur, karya jurnalis, akademisi, dan kreator Indonesia bisa menjadi bahan latih AI global tanpa kesepakatan yang jelas. Nilai tambahnya dinikmati pihak lain,” tegas Wamen Nezar.

Menyadari hal tersebut, Kementerian Komdigi kini membongkar ulang kerangka aturan nasional.

Mereka berkiblat pada praktik tata kelola di Uni Eropa yang terkenal galak dalam melindungi hak warga negaranya dari cengkeraman raksasa digital.

Selain soal data, pemerintah juga tengah mengebut payung hukum khusus untuk mempertebal tembok pertahanan siber nasional.

Forum bersama Finlandia ini menjadi langkah awal yang jelas. “Negara yang mampu mengelola dan mengendalikan data akan memiliki posisi tawar lebih kuat dalam ekonomi digital global. Kita tidak boleh hanya menjadi pasar. Kita harus memastikan data warga negara memberi manfaat nyata bagi bangsa,” tutup Wamen Nezar.
(dan)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
AI Impact Challenge,...
AI Impact Challenge, Microsoft, Komdigi, dan Dicoding Tampilkan Karya AI Terbaik Lulusan METC
Babak Belur Dihantam...
Babak Belur Dihantam Kritik Global: Insiden Bocornya Rahasia Triliunan Rupiah Paksa IGRS Dievaluasi Total
Komdigi Hentikan Sementara...
Komdigi Hentikan Sementara IGRS, Siap Lakukan Evaluasi
Komdigi Tindak 4,1 Juta...
Komdigi Tindak 4,1 Juta Konten Negatif, AVISI Dorong Penguatan Perang Melawan Pembajakan Digital
Komdigi Suruh TikTok...
Komdigi Suruh TikTok Hapus 780 Ribu Akun Anak, Platform Lain Siap-siap!
Peringatan Keras Komdigi:...
Peringatan Keras Komdigi: Meta Menyerah pada PP TUNAS, Komdigi Siapkan Algojo untuk Google
Tepis Media Nasional...
Tepis Media Nasional Tak Liput Demo Mahasiswa, KPI Sebut 9 Televisi Telah Memberitakan
Digitalisasi Perlinsos...
Digitalisasi Perlinsos Disambut Antusias di Surabaya, Komdigi Pastikan Warga Berhak Tak Terlewat Bantuan
64 PSE Sudah Lapor ke...
64 PSE Sudah Lapor ke Komdigi, Nurul Arifin Berharap Angkanya Terus Meningkat
Rekomendasi
PAMA Group Tanam 2.000...
PAMA Group Tanam 2.000 Bibit Mangrove di Pesisir Semarang: 'Jadi Benteng Alami dari Perubahan Iklim'
Pasokan Teluk Pulih,...
Pasokan Teluk Pulih, Harga Minyak Mentah Brent Turun ke Level Terendah dalam Empat Bulan
Bank Kalteng Jadi Sponsor...
Bank Kalteng Jadi Sponsor Utama Adhyaksa FC di Super League Musim Depan
Berita Terkini
Google dan A24 Berkolaborasi...
Google dan A24 Berkolaborasi Kembangkan Teknologi AI di Industri Film
Tanda-tanda Ponsel Anda...
Tanda-tanda Ponsel Anda sedang Diawasi yang Perlu Diketahui
Ilmuwan Mengembangkan...
Ilmuwan Mengembangkan Jaket Penghasil Air dari Udara Sekitar
Gandeng PT Samafitro,...
Gandeng PT Samafitro, Hytera Perkuat Jaringan Komunikasi Profesional di Indonesia
Pergeseran domino dari...
Pergeseran domino dari Game HP Jadi Turnamen Pro Berhadiah Ratusan Juta
Aliansi Intelijen Keluarkan...
Aliansi Intelijen Keluarkan Peringatan Mendesak tentang Risiko yang Ditimbulkan AI
Infografis
Imbas dari Ledakan Kasus...
Imbas dari Ledakan Kasus Covid RI, Rupiah Rawan Longsor
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved