Pendapatan Apple Tembus Rp 2.300 Triliun! iPhone 17 Laris Manis, China dan India Jadi Penyelamat
Jum'at, 30 Januari 2026 - 10:49 WIB
loading...
Seorang pengunjung tengah mengabadikan jajaran iPhone terbaru. iPhone 17 di pasar global terus mendominasi. Foto: Reuters
A
A
A
CUPERTINO - Apple Inc. kembali mematahkan keraguan pasar global dengan mencatatkan kinerja keuangan fantastis pada kuartal pertama tahun fiskal 2026, didorong ledakan permintaan iPhone 17 yang berhasil menghidupkan kembali gairah konsumen di pasar kunci seperti China dan India.
Raksasa teknologi asal Cupertino ini melaporkan proyeksi pertumbuhan pendapatan yang lebih tinggi dari ekspektasi untuk kuartal Maret mendatang, yakni mencapai 16 persen.
Angka ini jauh melampaui prediksi analis yang hanya mematok pertumbuhan di angka 10 persen.
Optimisme tersebut bukan tanpa dasar, melainkan dari strategi peluncuran produk yang tepat sasaran di tengah kondisi ekonomi makro yang menantang.
CEO Apple, Tim Cook, dalam wawancaranya dengan Reuters, tidak bisa menyembunyikan kepuasannya. Ia menyebut permintaan untuk handset terbaru mereka sebagai sesuatu yang "mengejutkan" (staggering).
Data membuktikan ucapan Cook; pendapatan khusus dari penjualan iPhone melonjak drastis hingga 23 persen secara year-on-year menjadi USD85,27 miliar (Rp1.364,3 triliun), jauh di atas ekspektasi pasar yang hanya USD78,65 miliar (Rp 1.258,4 triliun).
Lonjakan ini dipicu oleh "balas dendam" permintaan di China. Penjualan di China meroket 38 persen menjadi USD25,53 miliar (Rp408,4 triliun), menghancurkan estimasi Visible Alpha yang hanya memprediksi USD21,32 miliar (Rp341,1 triliun).
Hal ini sekaligus menepis kekhawatiran investor mengenai stagnasi penjualan perangkat keras Apple di tengah persaingan ketat dengan rival lokal China dan pengawasan regulasi yang ketat.
Cook menegaskan bahwa iPhone 17 mendorong pertumbuhan dua digit dalam jumlah pengguna yang beralih dari perangkat Android.
Raksasa chip seperti Samsung Electronics dan SK Hynix, yang menguasai dua pertiga pasar DRAM dunia, telah memperingatkan bahwa peralihan prioritas produksi ke arah kecerdasan buatan (AI) untuk pusat data telah menyebabkan kelangkaan chip untuk elektronik konsumen.
Akibatnya, harga pasar untuk memori diprediksi akan meningkat signifikan.
Meskipun demikian, posisi tawar Apple yang kuat sebagai pembeli raksasa tampaknya menjadi perisai yang efektif. Cook mencatat bahwa iPhone berhasil merebut pangsa pasar dari perangkat Android selama kuartal liburan, sinyal bahwa Apple memiliki kemampuan lebih baik dalam mengamankan stok komponen dibandingkan kompetitornya.
Untuk kuartal kedua fiskal, Apple memproyeksikan marjin kotor (gross margin) berada di kisaran 48 persen hingga 49 persen.
Pada kuartal pertama, Apple mencatat marjin kotor sebesar 48,2 persen, lebih tinggi dari ekspektasi analis sebesar 47,45 persen.
Jacob Bourne, analis dari eMarketer, mengingatkan bahwa kekurangan chip memori yang berkelanjutan akan menekan marjin perangkat keras di kuartal mendatang, sehingga momentum layanan bermarjin tinggi menjadi sangat vital.
Tak hanya itu, Apple juga mengakuisisi Q.ai, startup AI yang berfokus pada deteksi suara dan suasana hati, dengan nilai fantastis USD1,6 miliar (Rp 25,6 triliun).
Laba per saham (Earnings per Share/EPS) Apple tercatat sebesar USD2,84 (Rp45.440), jauh di atas konsensus pasar sebesar USD2,67 (Rp 42.720). Basis instalasi perangkat aktif Apple kini telah mencapai rekor baru sebanyak 2,5 miliar perangkat di seluruh dunia.
Satu-satunya catatan merah dalam laporan gemilang ini datang dari segmen wearables (perangkat sandang). Penjualan segmen ini tercatat sebesar USD11,49 miliar (Rp183,8 triliun), meleset dari ekspektasi USD12,04 miliar (Rp 192,6 triliun).
Cook mengakui bahwa permintaan untuk produk baru AirPods Pro 3—yang memiliki fitur penerjemah bahasa—begitu tinggi hingga membuat Apple kewalahan dalam menyuplai barang, menyebabkan kelangkaan stok.
Ke depan, Apple memperkirakan beban operasional akan berada di kisaran USD18,4 miliar hingga USD18,7 miliar (Rp 294,4 triliun - Rp 299,2 triliun). Pasar merespons positif laporan ini, dengan saham Apple sempat naik 3,5 persen dalam perdagangan perpanjangan sebelum stabil dengan kenaikan 0,8 persen.
Raksasa teknologi asal Cupertino ini melaporkan proyeksi pertumbuhan pendapatan yang lebih tinggi dari ekspektasi untuk kuartal Maret mendatang, yakni mencapai 16 persen.
Angka ini jauh melampaui prediksi analis yang hanya mematok pertumbuhan di angka 10 persen.
Optimisme tersebut bukan tanpa dasar, melainkan dari strategi peluncuran produk yang tepat sasaran di tengah kondisi ekonomi makro yang menantang.
Dominasi iPhone 17 dan Kebangkitan Pasar Asia
Laporan keuangan yang berakhir pada 27 Desember lalu menunjukkan bahwa Apple berhasil meraup pendapatan kuartalan sebesar USD143,8 miliar atau setara Rp2.300,8 triliun. Angka ini naik 16 persen dibanding tahun sebelumnya dan melampaui estimasi rata-rata analis yang berada di angka USD138,48 miliar (Rp 2.215,6 triliun).CEO Apple, Tim Cook, dalam wawancaranya dengan Reuters, tidak bisa menyembunyikan kepuasannya. Ia menyebut permintaan untuk handset terbaru mereka sebagai sesuatu yang "mengejutkan" (staggering).
Data membuktikan ucapan Cook; pendapatan khusus dari penjualan iPhone melonjak drastis hingga 23 persen secara year-on-year menjadi USD85,27 miliar (Rp1.364,3 triliun), jauh di atas ekspektasi pasar yang hanya USD78,65 miliar (Rp 1.258,4 triliun).
Lonjakan ini dipicu oleh "balas dendam" permintaan di China. Penjualan di China meroket 38 persen menjadi USD25,53 miliar (Rp408,4 triliun), menghancurkan estimasi Visible Alpha yang hanya memprediksi USD21,32 miliar (Rp341,1 triliun).
Hal ini sekaligus menepis kekhawatiran investor mengenai stagnasi penjualan perangkat keras Apple di tengah persaingan ketat dengan rival lokal China dan pengawasan regulasi yang ketat.
Cook menegaskan bahwa iPhone 17 mendorong pertumbuhan dua digit dalam jumlah pengguna yang beralih dari perangkat Android.
Tantangan Rantai Pasok: Krisis Chip Memori
Namun, di balik angka-angka hijau tersebut, Apple menghadapi tantangan nyata dalam rantai pasok. Cook mengungkapkan kepada analis bahwa perusahaan sedang menghadapi kendala pasokan prosesor yang mempengaruhi produksi iPhone. Situasi ini diperburuk oleh ketatnya pasar chip memori DRAM.Raksasa chip seperti Samsung Electronics dan SK Hynix, yang menguasai dua pertiga pasar DRAM dunia, telah memperingatkan bahwa peralihan prioritas produksi ke arah kecerdasan buatan (AI) untuk pusat data telah menyebabkan kelangkaan chip untuk elektronik konsumen.
Akibatnya, harga pasar untuk memori diprediksi akan meningkat signifikan.
Meskipun demikian, posisi tawar Apple yang kuat sebagai pembeli raksasa tampaknya menjadi perisai yang efektif. Cook mencatat bahwa iPhone berhasil merebut pangsa pasar dari perangkat Android selama kuartal liburan, sinyal bahwa Apple memiliki kemampuan lebih baik dalam mengamankan stok komponen dibandingkan kompetitornya.
Untuk kuartal kedua fiskal, Apple memproyeksikan marjin kotor (gross margin) berada di kisaran 48 persen hingga 49 persen.
Pada kuartal pertama, Apple mencatat marjin kotor sebesar 48,2 persen, lebih tinggi dari ekspektasi analis sebesar 47,45 persen.
Jacob Bourne, analis dari eMarketer, mengingatkan bahwa kekurangan chip memori yang berkelanjutan akan menekan marjin perangkat keras di kuartal mendatang, sehingga momentum layanan bermarjin tinggi menjadi sangat vital.
Investasi Masa Depan dan Kejutan AI
Di tengah fokus pada perangkat keras, Apple juga agresif memperkuat ekosistem kecerdasan buatannya. Perusahaan baru saja mengumumkan kemitraan strategis dengan Google milik Alphabet untuk menggunakan Gemini guna meningkatkan kemampuan Siri.Tak hanya itu, Apple juga mengakuisisi Q.ai, startup AI yang berfokus pada deteksi suara dan suasana hati, dengan nilai fantastis USD1,6 miliar (Rp 25,6 triliun).
Laba per saham (Earnings per Share/EPS) Apple tercatat sebesar USD2,84 (Rp45.440), jauh di atas konsensus pasar sebesar USD2,67 (Rp 42.720). Basis instalasi perangkat aktif Apple kini telah mencapai rekor baru sebanyak 2,5 miliar perangkat di seluruh dunia.
Satu-satunya catatan merah dalam laporan gemilang ini datang dari segmen wearables (perangkat sandang). Penjualan segmen ini tercatat sebesar USD11,49 miliar (Rp183,8 triliun), meleset dari ekspektasi USD12,04 miliar (Rp 192,6 triliun).
Cook mengakui bahwa permintaan untuk produk baru AirPods Pro 3—yang memiliki fitur penerjemah bahasa—begitu tinggi hingga membuat Apple kewalahan dalam menyuplai barang, menyebabkan kelangkaan stok.
Ke depan, Apple memperkirakan beban operasional akan berada di kisaran USD18,4 miliar hingga USD18,7 miliar (Rp 294,4 triliun - Rp 299,2 triliun). Pasar merespons positif laporan ini, dengan saham Apple sempat naik 3,5 persen dalam perdagangan perpanjangan sebelum stabil dengan kenaikan 0,8 persen.
(dan)
Lihat Juga :