Hasil Riset Temukan Ancaman AI Infrastructure Debt Mengintai Organisasi di Indonesia
Jum'at, 30 Januari 2026 - 08:36 WIB
loading...
Teknologi I. FOTO/ The Verge
A
A
A
JAKARTA - Di ajang Cisco Connect Indonesia 2026 yang diselenggarakan hari ini, para pemimpin industri, pakar teknologi, serta Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (KOMDIGI) Nezar Patria berkumpul untuk membahas masa depan kecerdasan buatan (AI) di Indonesia, serta langkah-langkah strategis yang dibutuhkan untuk merealisasikan nilai dari AI.
Ini menjadi momentum peluncuran temuan terbaru Cisco terkait infrastruktur AI melalui AI Readiness Index 2025, yang menyoroti bahwa 40% dari organisasi di Indonesia berisiko kehilangan nilai akibat munculnya ancaman “AI Infrastructure Debt” (Utang Infrastruktur AI).
Riset terbaru dari AI Readiness Index menunjukkan tingkat kesiapan organisasi yang berbeda-beda.
Hanya sebagian kecil, sekitar 13% perusahaan di tingkat global, yang dikenal sebagai AI Pacesetters, berada di garis depan.
Kelompok ini mengambil keputusan infrastruktur fundamental yang menciptakan keunggulan berkelanjutan, dan 97% di antaranya telah mengimplementasikan AI pada skala dan kecepatan yang dibutuhkan untuk membuka berbagai use case serta mencapai return on investment (ROI).
Sementara itu, banyak organisasi menghadapi risiko-risiko akibat “AI Infrastructure Debt”, yang bisa berpengaruh pada kemampuan mereka untuk realisasi value.
“Pilihan infrastruktur yang diambil perusahaan hari ini akan menentukan apa yang bisa mereka capai di masa depan. Para pemimpin AI merancang arsitektur secara berbeda—dan para Pacesetters membuktikannya,” ujar Cin Cin Go, Managing Director Cisco Indonesia yang baru menjabat sejak Desember lalu.
“Mereka membangun fondasi yang berorientasi pada jaringan, memprioritaskan infrastruktur daya, melakukan optimalisasi secara berkelanjutan, serta mengintegrasikan keamanan sejak awal. Melalui forum seperti Cisco Connect, kami membuka ruang bagi organisasi untuk berkumpul, berbagi pengalaman, dan memperoleh insight praktis.” tambahnya.
Pacesetters melaju lebih cepat bukan semata karena berinvestasi lebih besar, tetapi karena melakukan investasi infrastruktur lebih awal, sehingga terhindar dari AI Infrastructure Debt, utang infrastruktur AI yang berpotensi menghambat inovasi serta meningkatkan risiko operasional dan keamanan bagi organisasi.
Indeks ini memperingatkan bahwa tanda-tanda awal sudah terlihat di Indonesia—banyak organisasi menerapkan agen AI lebih cepat daripada kemampuan mereka untuk mengamankannya.
Hanya 29% yang menilai jaringannya optimal, sementara 43% masih kekurangan infrastruktur daya, padahal hampir separuh dari mereka memperkirakan pertumbuhan beban kerja AI lebih dari 50%.
Lebih dari separuh organisasi di Indonesia memperkirakan beban kerja AI akan meningkat lebih dari 50% dalam tiga hingga lima tahun ke depan, namun banyak di antaranya yang belum memiliki infrastruktur daya yang memadai untuk mendukung pertumbuhan tersebut.
Seiring percepatan perjalanan AI oleh enterprise dan sektor publik di Indonesia, Cisco Connect Indonesia menegaskan peran Cisco sebagai penyedia infrastruktur yang krusial untuk era AI.
Melalui sesi pendalaman dan demo langsung, Cisco memperlihatkan bagaimana perusahaan ini telah menyederhanakan proses implementasi AI melalui portofolio terintegrasi untuk menghadirkan pusat data yang AI-ready, lingkungan kerja yang siap menghadapi masa depan, serta ketahanan digital.
Sebagai pemimpin teknologi global, Cisco terus berinovasi dalam skala besar dan menghadirkan berbagai platform serta solusi baru ke pasar, termasuk platform komputasi edge yang AI-ready, Cisco Unified Edge, arsitektur AI tervalidasi, Secure AI Factory bersama NVIDIA, serta beragam kemampuan jaringan generasi berikutnya. Semua ini direncang untuk memastikan organisasi di Indonesia siap mengimplementasikan dan menerapkan AI, apa pun jalur yang mereka pilih.
Ini menjadi momentum peluncuran temuan terbaru Cisco terkait infrastruktur AI melalui AI Readiness Index 2025, yang menyoroti bahwa 40% dari organisasi di Indonesia berisiko kehilangan nilai akibat munculnya ancaman “AI Infrastructure Debt” (Utang Infrastruktur AI).
Riset terbaru dari AI Readiness Index menunjukkan tingkat kesiapan organisasi yang berbeda-beda.
Hanya sebagian kecil, sekitar 13% perusahaan di tingkat global, yang dikenal sebagai AI Pacesetters, berada di garis depan.
Kelompok ini mengambil keputusan infrastruktur fundamental yang menciptakan keunggulan berkelanjutan, dan 97% di antaranya telah mengimplementasikan AI pada skala dan kecepatan yang dibutuhkan untuk membuka berbagai use case serta mencapai return on investment (ROI).
Sementara itu, banyak organisasi menghadapi risiko-risiko akibat “AI Infrastructure Debt”, yang bisa berpengaruh pada kemampuan mereka untuk realisasi value.
“Pilihan infrastruktur yang diambil perusahaan hari ini akan menentukan apa yang bisa mereka capai di masa depan. Para pemimpin AI merancang arsitektur secara berbeda—dan para Pacesetters membuktikannya,” ujar Cin Cin Go, Managing Director Cisco Indonesia yang baru menjabat sejak Desember lalu.
“Mereka membangun fondasi yang berorientasi pada jaringan, memprioritaskan infrastruktur daya, melakukan optimalisasi secara berkelanjutan, serta mengintegrasikan keamanan sejak awal. Melalui forum seperti Cisco Connect, kami membuka ruang bagi organisasi untuk berkumpul, berbagi pengalaman, dan memperoleh insight praktis.” tambahnya.
Pacesetters melaju lebih cepat bukan semata karena berinvestasi lebih besar, tetapi karena melakukan investasi infrastruktur lebih awal, sehingga terhindar dari AI Infrastructure Debt, utang infrastruktur AI yang berpotensi menghambat inovasi serta meningkatkan risiko operasional dan keamanan bagi organisasi.
Indeks ini memperingatkan bahwa tanda-tanda awal sudah terlihat di Indonesia—banyak organisasi menerapkan agen AI lebih cepat daripada kemampuan mereka untuk mengamankannya.
Hanya 29% yang menilai jaringannya optimal, sementara 43% masih kekurangan infrastruktur daya, padahal hampir separuh dari mereka memperkirakan pertumbuhan beban kerja AI lebih dari 50%.
Lebih dari separuh organisasi di Indonesia memperkirakan beban kerja AI akan meningkat lebih dari 50% dalam tiga hingga lima tahun ke depan, namun banyak di antaranya yang belum memiliki infrastruktur daya yang memadai untuk mendukung pertumbuhan tersebut.
Seiring percepatan perjalanan AI oleh enterprise dan sektor publik di Indonesia, Cisco Connect Indonesia menegaskan peran Cisco sebagai penyedia infrastruktur yang krusial untuk era AI.
Melalui sesi pendalaman dan demo langsung, Cisco memperlihatkan bagaimana perusahaan ini telah menyederhanakan proses implementasi AI melalui portofolio terintegrasi untuk menghadirkan pusat data yang AI-ready, lingkungan kerja yang siap menghadapi masa depan, serta ketahanan digital.
Sebagai pemimpin teknologi global, Cisco terus berinovasi dalam skala besar dan menghadirkan berbagai platform serta solusi baru ke pasar, termasuk platform komputasi edge yang AI-ready, Cisco Unified Edge, arsitektur AI tervalidasi, Secure AI Factory bersama NVIDIA, serta beragam kemampuan jaringan generasi berikutnya. Semua ini direncang untuk memastikan organisasi di Indonesia siap mengimplementasikan dan menerapkan AI, apa pun jalur yang mereka pilih.
(wbs)
Lihat Juga :