Badai Inflasi Komponen Menghadang: Pasar Ponsel Global Diprediksi Terkoreksi di 2026
Senin, 29 Desember 2025 - 11:37 WIB
loading...
Tekanan ekonomi global dan lonjakan biaya komponen membuat pasar smartphone dunia diprediksi lesu pada 2026. Foto: Samsung Indonesia
A
A
A
JAKARTA - Industri telepon pintar global yang selama ini melaju kencang tampaknya harus bersiap menginjak rem.
Di tengah bayang-bayang ketidakpastian ekonomi global, Counterpoint Research membunyikan lonceng peringatan dini: pengiriman (shipment) smartphone global diproyeksikan mengalami kontraksi sebesar 2,1 persen pada 2026.
Prediksi suram ini bukan tanpa alasan, melainkan akumulasi dari tekanan biaya komponen yang kian mencekik, memaksa produsen memutar otak antara menaikkan harga atau mengorbankan margin keuntungan.
Laporan terbaru Counterpoint menyoroti lonjakan Bill of Materials (BoM) alias biaya total komponen utama sebagai biang keladi utama kelesuan ini. "Biaya BoM telah meningkat 20–30 persen sejak awal tahun, sementara segmen menengah dan premium juga mengalami kenaikan harga komponen sebesar 10–15 persen," ungkap MS Hwang, Direktur Riset Counterpoint Research.
Yang Wang, Analis Senior Counterpoint, menegaskan bahwa di level harga ini, kenaikan harga jual tidak lagi berkelanjutan bagi konsumen yang daya belinya tergerus.
Akibatnya, produsen dipaksa mengambil langkah drastis: memangkas portofolio produk. "Jika kenaikan biaya tidak bisa diteruskan ke konsumen, produsen akan memangkas portofolio produk. Ini sudah mulai terlihat dari berkurangnya volume model low-end," jelas Wang.
Lebih jauh, harga jual rata-rata (Average Selling Price/ASP) smartphone global diperkirakan akan terkerek naik sebesar 6,9 persen pada 2026. Ini jadi revisi signifikan dari proyeksi sebelumnya yang hanya 3,9 persen.
Kenaikan ini didorong oleh strategi pabrikan yang mencoba mendorong konsumen beralih ke varian 'Pro' yang lebih mahal demi margin yang lebih sehat.
Counterpoint memprediksi pangsa pasar pengiriman pada 2026 akan dikuasai oleh Apple dan Samsung yang masing-masing memegang 19 persen, disusul Xiaomi (14 persen), Vivo (9 persen), Oppo (8 persen), dan Honor (6 persen).
Meskipun demikian, keenam merek tersebut diprediksi tetap akan mengalami penurunan volume pengiriman, dengan Honor mengalami koreksi terbesar hingga 3,4 persen.
Di sisi lain, data penjualan kuartal ketiga 2025 menunjukkan bahwa Apple masih mendominasi daftar ponsel terlaris dengan iPhone 16 yang memimpin pasar global dengan pangsa 4 persen.
Sementara itu, Samsung sukses menempatkan lima model dari seri Galaxy A dalam daftar 10 besar, membuktikan bahwa strategi menyasar segmen menengah dengan fitur turunan flagship seperti AI masih efektif.
Tahun 2026 tampaknya akan menjadi ujian seleksi alam bagi industri smartphone. Hanya mereka yang mampu beradaptasi dengan efisiensi biaya tanpa mengorbankan esensi inovasi yang akan bertahan di tengah gempuran inflasi komponen ini.
Di tengah bayang-bayang ketidakpastian ekonomi global, Counterpoint Research membunyikan lonceng peringatan dini: pengiriman (shipment) smartphone global diproyeksikan mengalami kontraksi sebesar 2,1 persen pada 2026.
Prediksi suram ini bukan tanpa alasan, melainkan akumulasi dari tekanan biaya komponen yang kian mencekik, memaksa produsen memutar otak antara menaikkan harga atau mengorbankan margin keuntungan.
Laporan terbaru Counterpoint menyoroti lonjakan Bill of Materials (BoM) alias biaya total komponen utama sebagai biang keladi utama kelesuan ini. "Biaya BoM telah meningkat 20–30 persen sejak awal tahun, sementara segmen menengah dan premium juga mengalami kenaikan harga komponen sebesar 10–15 persen," ungkap MS Hwang, Direktur Riset Counterpoint Research.
Efek Domino pada Konsumen dan Strategi Produsen
Kenaikan biaya produksi ini bagaikan efek domino yang tak terelakkan. Dampak paling signifikan diprediksi akan menghantam segmen ponsel menengah ke bawah, yakni perangkat dengan rentang harga di bawah USD200 (Rp3 juta).Yang Wang, Analis Senior Counterpoint, menegaskan bahwa di level harga ini, kenaikan harga jual tidak lagi berkelanjutan bagi konsumen yang daya belinya tergerus.
Akibatnya, produsen dipaksa mengambil langkah drastis: memangkas portofolio produk. "Jika kenaikan biaya tidak bisa diteruskan ke konsumen, produsen akan memangkas portofolio produk. Ini sudah mulai terlihat dari berkurangnya volume model low-end," jelas Wang.
Lebih jauh, harga jual rata-rata (Average Selling Price/ASP) smartphone global diperkirakan akan terkerek naik sebesar 6,9 persen pada 2026. Ini jadi revisi signifikan dari proyeksi sebelumnya yang hanya 3,9 persen.
Kenaikan ini didorong oleh strategi pabrikan yang mencoba mendorong konsumen beralih ke varian 'Pro' yang lebih mahal demi margin yang lebih sehat.
Penyusutan Spesifikasi sebagai Mitigasi
Untuk bertahan hidup, strategi "downgrade" spesifikasi mulai dilirik. Analis Senior Counterpoint, Shenghao Bai, mengungkapkan bahwa beberapa model mungkin akan mengalami penurunan kualitas pada modul kamera, layar, audio, hingga konfigurasi memori. "Taktik lain termasuk penggunaan ulang komponen lama dan penyederhanaan portofolio," tambahnya.Peta Persaingan: Raksasa Bertahan, Pemain Kecil Terguncang
Di tengah badai ini, dua raksasa teknologi, Apple dan Samsung, dinilai memiliki "bunker" pertahanan terbaik. Portofolio premium mereka yang kuat menjadi perisai dari fluktuasi pasar.Counterpoint memprediksi pangsa pasar pengiriman pada 2026 akan dikuasai oleh Apple dan Samsung yang masing-masing memegang 19 persen, disusul Xiaomi (14 persen), Vivo (9 persen), Oppo (8 persen), dan Honor (6 persen).
Meskipun demikian, keenam merek tersebut diprediksi tetap akan mengalami penurunan volume pengiriman, dengan Honor mengalami koreksi terbesar hingga 3,4 persen.
Di sisi lain, data penjualan kuartal ketiga 2025 menunjukkan bahwa Apple masih mendominasi daftar ponsel terlaris dengan iPhone 16 yang memimpin pasar global dengan pangsa 4 persen.
Sementara itu, Samsung sukses menempatkan lima model dari seri Galaxy A dalam daftar 10 besar, membuktikan bahwa strategi menyasar segmen menengah dengan fitur turunan flagship seperti AI masih efektif.
Tahun 2026 tampaknya akan menjadi ujian seleksi alam bagi industri smartphone. Hanya mereka yang mampu beradaptasi dengan efisiensi biaya tanpa mengorbankan esensi inovasi yang akan bertahan di tengah gempuran inflasi komponen ini.
(dan)
Lihat Juga :