Ternyata Pasar Ponsel Pintar di Indonesia Kebal Pandemi
Selasa, 15 September 2020 - 11:15 WIB
loading...
A
A
A
Bagaimana dengan Indonesia? Ternyata pasar smartphone di Indonesia termasuk kebal dengan Covid-19. Secara keseluruhan, selama tujuh bulan terakhir penurunan pasar smartphone hanya 4%. Angka itu terbilang sangat rendah dibandingkan banyak negara tetangga. Mengapa?
Pengamat teknologi Lucky Sebastian mengatakan, penurunan penjualan pasar secara offline sangat wajar. Sebab, saat awal Covid-19 diumumkan dan PSBB diberlakukan di banyak wilayah, banyak pula outlet penjual ponsel offline yang tutup, misalnya di mal atau toko ritel independen. ”Padahal pasar offline tetap menyumbang penjualan signifikan di Indonesia,” ungkapnya.
Untungnya, Lucky menyebut bahwa penjualan smartphone secara online sudah terbilang mapan. Sudah semakin banyak konsumen yang terbiasa membeli ponsel secara daring. ”Jadi sangat membantu mengatasi hal tersebut,” katanya. (Baca juga: Kenali Gejala Kanker Payudara Sejak Dini)
Selain itu, adopsi school and work from home yang mulai populer selama pandemi ikut mendongkrak permintaan ponsel dan tablet. “Permintaan yang tinggi ini menyasar smartphone mid-range dan enry-level, di mana kita lihat banyak brand fokus di segmen ini saat pandemi,” ujar Lucky.
Dia mencontohkan, keluarga dengan tiga anak yang sebelumnya mungkin sudah cukup dengan satu komputer, harus membeli tiga smartphone karena ketiga anak harus online bersamaan. ”Ini jadi lonjakan permintaan tinggi di pasar smartphone. Bahkan, keluarga yang mungkin menetapkan anaknya harus berumur tertentu baru boleh memiliki smartphone, sekarang karena sistem pembelajaran baru, harus memberikan smartphone untuk usia yang masih muda sekalipun,” ungkapnya. (Lihat videonya: DKI Jakarta Kembali Berlakukan PSBB Jilid II Mulai Hari Ini)
Dengan kemudahan berbelanja online, banyaknya pilihan ponsel canggih dengan harga terjangkau serta kebutuhan online untuk pembelajaran membuat penurunan penjualan ponsel di Indonesia tidak terlalu parah. (Danang Arradian)
Pengamat teknologi Lucky Sebastian mengatakan, penurunan penjualan pasar secara offline sangat wajar. Sebab, saat awal Covid-19 diumumkan dan PSBB diberlakukan di banyak wilayah, banyak pula outlet penjual ponsel offline yang tutup, misalnya di mal atau toko ritel independen. ”Padahal pasar offline tetap menyumbang penjualan signifikan di Indonesia,” ungkapnya.
Untungnya, Lucky menyebut bahwa penjualan smartphone secara online sudah terbilang mapan. Sudah semakin banyak konsumen yang terbiasa membeli ponsel secara daring. ”Jadi sangat membantu mengatasi hal tersebut,” katanya. (Baca juga: Kenali Gejala Kanker Payudara Sejak Dini)
Selain itu, adopsi school and work from home yang mulai populer selama pandemi ikut mendongkrak permintaan ponsel dan tablet. “Permintaan yang tinggi ini menyasar smartphone mid-range dan enry-level, di mana kita lihat banyak brand fokus di segmen ini saat pandemi,” ujar Lucky.
Dia mencontohkan, keluarga dengan tiga anak yang sebelumnya mungkin sudah cukup dengan satu komputer, harus membeli tiga smartphone karena ketiga anak harus online bersamaan. ”Ini jadi lonjakan permintaan tinggi di pasar smartphone. Bahkan, keluarga yang mungkin menetapkan anaknya harus berumur tertentu baru boleh memiliki smartphone, sekarang karena sistem pembelajaran baru, harus memberikan smartphone untuk usia yang masih muda sekalipun,” ungkapnya. (Lihat videonya: DKI Jakarta Kembali Berlakukan PSBB Jilid II Mulai Hari Ini)
Dengan kemudahan berbelanja online, banyaknya pilihan ponsel canggih dengan harga terjangkau serta kebutuhan online untuk pembelajaran membuat penurunan penjualan ponsel di Indonesia tidak terlalu parah. (Danang Arradian)
(ysw)
Lihat Juga :