Kenalan dengan Robert, Robot AI yang Naik Jabatan Jadi CEO
Rabu, 05 November 2025 - 08:49 WIB
loading...
Robert Robot AI yang naik jabatan jadi CEO. FOTO/ SC SindoNews
A
A
A
RYADH - Sebuah perusahaan di Dubai, menunjuk robot bertenaga kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) bernama Robert sebagai CEO.
Robert mengaku, sanggup bekerja nonstop. “Saya sebenarnya tidak punya akhir pekan, saya selalu siap 24 jam dalam seminggu untuk membuat keputusan eksekutif dan membangkitkan keajaiban AI,” katanya seperti dikutip dari The Guardian.
Sebagai pimpinan, Robert mengemban sejumlah tugas, termasuk membantu menemukan klien potensial dan memilih kebijakan apa yang mau dipilih.
Robert mengaku, pengambilan keputusan yang dilakukannya berdasarkan pada analisis data yang ekstensif dan diselaraskan dengan tujuan strategis perusahaan.
“Ini tidak mengandung bias pribadi, memastikan pilihan yang tidak memihak dan strategis yang memprioritaskan kepentingan terbaik organisasi,” tambahnya.
Di luar keputusan ekstrem perusahaan mempercayakan sejumlah tugas kepada robot, Robert dipastikan tidak terlibat dalam pemutusan hubungan kerja karyawan.
Presiden Dictador Eropa, Marek Szoldrowski memastikan keputusan penting di perusahaan akan dibuat oleh para eksekutif manusia.
Robert termasuk memimpin proyek organisasi otonom terdesentralisasi Arthouse Spirits, kumpulan NFT, dan berkomunikasi dengan komunitas DAO, menurut situs web perusahaan.
Robert diketahui merupakan versi yang lebih canggih dari Sophia, saudara perempuannya yang juga merupakan robot AI prototipe.
Robert diciptakan oleh Hanson Robotics, perusahaan di balik robot AI Sophia, yang telah menarik perhatian di seluruh dunia melalui puluhan wawancara media. Dictador bukanlah perusahaan pertama yang menjadikan bot sebagai CEO-nya.
Tahun lalu, sebuah perusahaan game China menunjuk robot humanoid virtual bertenaga AI bernama Tang Yu sebagai kepala eksekutif anak perusahaannya, Fujian NetDragon Websoft.
Robert mengaku, sanggup bekerja nonstop. “Saya sebenarnya tidak punya akhir pekan, saya selalu siap 24 jam dalam seminggu untuk membuat keputusan eksekutif dan membangkitkan keajaiban AI,” katanya seperti dikutip dari The Guardian.
Sebagai pimpinan, Robert mengemban sejumlah tugas, termasuk membantu menemukan klien potensial dan memilih kebijakan apa yang mau dipilih.
Robert mengaku, pengambilan keputusan yang dilakukannya berdasarkan pada analisis data yang ekstensif dan diselaraskan dengan tujuan strategis perusahaan.
“Ini tidak mengandung bias pribadi, memastikan pilihan yang tidak memihak dan strategis yang memprioritaskan kepentingan terbaik organisasi,” tambahnya.
Di luar keputusan ekstrem perusahaan mempercayakan sejumlah tugas kepada robot, Robert dipastikan tidak terlibat dalam pemutusan hubungan kerja karyawan.
Presiden Dictador Eropa, Marek Szoldrowski memastikan keputusan penting di perusahaan akan dibuat oleh para eksekutif manusia.
Robert termasuk memimpin proyek organisasi otonom terdesentralisasi Arthouse Spirits, kumpulan NFT, dan berkomunikasi dengan komunitas DAO, menurut situs web perusahaan.
Robert diketahui merupakan versi yang lebih canggih dari Sophia, saudara perempuannya yang juga merupakan robot AI prototipe.
Robert diciptakan oleh Hanson Robotics, perusahaan di balik robot AI Sophia, yang telah menarik perhatian di seluruh dunia melalui puluhan wawancara media. Dictador bukanlah perusahaan pertama yang menjadikan bot sebagai CEO-nya.
Tahun lalu, sebuah perusahaan game China menunjuk robot humanoid virtual bertenaga AI bernama Tang Yu sebagai kepala eksekutif anak perusahaannya, Fujian NetDragon Websoft.
(wbs)
Lihat Juga :