Ular Purba yang Lama Tak Terlihat Muncul di Pulau Komodo
Selasa, 04 November 2025 - 20:16 WIB
loading...
Ular purba tiba-tiba muncul. FOTO/ Jhon Roney
A
A
A
NIAS - Seorang videografer bawah air berhasil menangkap penampakan spesies ular purba di Pulau Komodo, Indonesia, yang berenang perlahan mencari mangsa.
Dalam video yang dibagikan John Roney, ular kantong belang atau 'ular file laut' terlihat berwarna hijau dan tubuhnya tertutup alga.
Ia berenang perlahan di dasar laut dan karena itu, alga memenuhi tubuhnya dan berfungsi sebagai teknik kamuflase untuk menjebak mangsa.
"Predator menyergap area yang dipenuhi alga," demikian keterangan video.
Menurut Roney, kulit kasar ular tersebut menjebak alga, membuatnya tampak hijau berbintik-bintik yang menyatu dengan hamparan rumput laut.
"Lapisan ini terbentuk karena ular ini menghabiskan waktu lama berbaring diam, menunggu ikan yang lewat untuk menyergapnya," ujarnya.
Spesies yang secara ilmiah bernama Acrochordus granulatus ini merupakan hewan purba yang hidup sepenuhnya di air, tetapi masih bernapas menggunakan paru-paru.
Ular ini terkadang muncul ke permukaan untuk bernapas, layaknya mamalia laut.
Penemuan ini terjadi di dekat Taman Nasional Komodo, sebuah situs Warisan Dunia UNESCO yang terkenal akan keanekaragaman hayatinya.
Spesies ular ini dapat memberikan gigitan yang kuat jika diprovokasi atau digganggu, gigi bengkok yang dimiliki ular ini juga dapat ditinggal menancap di korbannya, yang dapat memberikan pengalaman menyakitkan
Status konservasi dan ancaman : Ular ini tidak memiliki masalah konservasi di indonesia, namun ular ini sering diperjual belikan untuk tujuan sebgai hewan peliharaan
Persebaran : Ambon, Flores, Irian Jaya, Jawa, Jobi, Schouten, Sulawesi, Sumatera, Ternate, Timor, Kami, Komodo
Ular ini berbeda dengan A.arafurae dan A.javanicus, yang hanya dapat hidup di air tawar, ular ini memiliki toleransi terhadap kadar garam di air sehingga dapat ditemukan di perairan payau seperti pesisiran pantai, hutan bakau, rumput lamun dan muara, ular ini juga dapat ditemukan di sungai, kali, rawa-rawa dan badan air lainnya.
Ular ini menghabiskan seluruh hidupnya di air, dapat ditemukan pada kedalaman hingga 20m, dimana ia berbagi habitatnya dengan ular laut asli (Hydrophiidae), namun mereka lebih sering ditemukan di perairan dangkal karena mereka perlu sering ke permukaan untuk mengambil udara.
Spesies ini merupakan ular dari marga Acrochordus terkecil, serta memiliki pola paling khas pada tubuhnya.
Badan ular ini kasar dan longgar, biasanya abu-abu-coklat,biru atau hitam-abu-abu dengan belang-belang kuning atau putih, sangat kelihatan pada individu muda dan mungkin dapat hilang saat mencapai umur dewasa.
Ular ini aktif pada malam hari dan sebelum pagi, dimana ia memangsa pada berbagai macam ikan seperti kerapu dan ikan gobi, belut, kepiting dan ular lain menggunakan kulit kasar yang membantunya menangkap mangsa ikan.
Karena habitat dan pola pada tubuh ular ini, ia sering dibingungkan dengan Ular Laut asli. Ular induk melahirkan 5 - 10 individu yang berukuran 22cm.
Dalam video yang dibagikan John Roney, ular kantong belang atau 'ular file laut' terlihat berwarna hijau dan tubuhnya tertutup alga.
Ia berenang perlahan di dasar laut dan karena itu, alga memenuhi tubuhnya dan berfungsi sebagai teknik kamuflase untuk menjebak mangsa.
"Predator menyergap area yang dipenuhi alga," demikian keterangan video.
Menurut Roney, kulit kasar ular tersebut menjebak alga, membuatnya tampak hijau berbintik-bintik yang menyatu dengan hamparan rumput laut.
"Lapisan ini terbentuk karena ular ini menghabiskan waktu lama berbaring diam, menunggu ikan yang lewat untuk menyergapnya," ujarnya.
Spesies yang secara ilmiah bernama Acrochordus granulatus ini merupakan hewan purba yang hidup sepenuhnya di air, tetapi masih bernapas menggunakan paru-paru.
Ular ini terkadang muncul ke permukaan untuk bernapas, layaknya mamalia laut.
Penemuan ini terjadi di dekat Taman Nasional Komodo, sebuah situs Warisan Dunia UNESCO yang terkenal akan keanekaragaman hayatinya.
Spesies ular ini dapat memberikan gigitan yang kuat jika diprovokasi atau digganggu, gigi bengkok yang dimiliki ular ini juga dapat ditinggal menancap di korbannya, yang dapat memberikan pengalaman menyakitkan
Status konservasi dan ancaman : Ular ini tidak memiliki masalah konservasi di indonesia, namun ular ini sering diperjual belikan untuk tujuan sebgai hewan peliharaan
Persebaran : Ambon, Flores, Irian Jaya, Jawa, Jobi, Schouten, Sulawesi, Sumatera, Ternate, Timor, Kami, Komodo
Ular ini berbeda dengan A.arafurae dan A.javanicus, yang hanya dapat hidup di air tawar, ular ini memiliki toleransi terhadap kadar garam di air sehingga dapat ditemukan di perairan payau seperti pesisiran pantai, hutan bakau, rumput lamun dan muara, ular ini juga dapat ditemukan di sungai, kali, rawa-rawa dan badan air lainnya.
Ular ini menghabiskan seluruh hidupnya di air, dapat ditemukan pada kedalaman hingga 20m, dimana ia berbagi habitatnya dengan ular laut asli (Hydrophiidae), namun mereka lebih sering ditemukan di perairan dangkal karena mereka perlu sering ke permukaan untuk mengambil udara.
Spesies ini merupakan ular dari marga Acrochordus terkecil, serta memiliki pola paling khas pada tubuhnya.
Badan ular ini kasar dan longgar, biasanya abu-abu-coklat,biru atau hitam-abu-abu dengan belang-belang kuning atau putih, sangat kelihatan pada individu muda dan mungkin dapat hilang saat mencapai umur dewasa.
Ular ini aktif pada malam hari dan sebelum pagi, dimana ia memangsa pada berbagai macam ikan seperti kerapu dan ikan gobi, belut, kepiting dan ular lain menggunakan kulit kasar yang membantunya menangkap mangsa ikan.
Karena habitat dan pola pada tubuh ular ini, ia sering dibingungkan dengan Ular Laut asli. Ular induk melahirkan 5 - 10 individu yang berukuran 22cm.
(wbs)
Lihat Juga :