Gelombang AI, AS Khawatir Melihat Asia Lebih Berkembang

Senin, 03 November 2025 - 12:13 WIB
loading...
Gelombang AI, AS Khawatir...
Kecerdasan buatan. FOTO/ DAILY
A A A
NEW YORK - Terlepas dari kekhawatiran Wall Street atas kemungkinan gelombang AI, Asia kini muncul sebagai penerima manfaat utama dari lonjakan investasi global di bidang kecerdasan buatan (AI).



Asia telah muncul sebagai penerima manfaat utama dari investasi AI global, dengan arus masuk modal dari perusahaan-perusahaan raksasa seperti Microsoft dan Amazon yang mendorong permintaan semikonduktor dan infrastruktur digital.

Wall Street mulai khawatir tentang euforia investasi AI, dengan imbal hasil proyek awal yang rendah dan risiko koreksi pasar jika valuasi saham tidak didukung oleh fundamental pendapatan riil.

Malaysia menikmati dampak positif dalam ekspor E&E dan FDI, tetapi perlu bersiap menghadapi risiko pasar dan memperkuat peran strategisnya dalam rantai nilai teknologi global.

Menurut Direktur Investasi dan Strategi Ekonomi IPPFA Sdn Bhd, Mohd Sedek Jantan, raksasa seperti Microsoft, Google, Meta, dan Amazon telah menghabiskan ratusan miliar dolar untuk membangun pusat data, server, dan chip pemrosesan guna mendukung sistem AI generatif.

“Aliran modal ini tidak hanya mengubah lanskap investasi global, tetapi juga berdampak langsung pada Asia, yang merupakan tulang punggung rantai pasok elektronik dan semikonduktor dunia,” ujarnya.

Selama setahun terakhir, belanja modal perusahaan teknologi telah meningkat antara 70 dan 100 persen, mendorong permintaan energi, infrastruktur digital, dan komponen elektronik, terutama semikonduktor, yang merupakan ‘otak’ utama teknologi AI.

Di Wall Street, lonjakan harga saham teknologi telah menimbulkan kekhawatiran di kalangan investor, terutama tentang apakah kenaikan tersebut didukung oleh basis pendapatan riil atau hanya euforia pasar.

Indeks Nasdaq telah melonjak lebih dari 40 persen dalam dua tahun terakhir, sementara laporan Gartner memproyeksikan investasi global di sektor AI akan mencapai US$1,5 triliun tahun ini.

Namun, imbal hasil rata-rata pada sebagian besar proyek tahap awal masih rendah, di bawah 10 persen, yang menunjukkan bahwa laba aktual belum sejalan dengan jumlah investasi.

“Pasar kini sedang menilai kembali realitas di balik euforia AI. Mungkin belum mencapai level gelembung penuh, tetapi tanda-tanda investasi berlebih mulai terlihat,” jelas Sedek.

Meskipun fundamental keuangan perusahaan teknologi saat ini jauh lebih kuat daripada saat gelembung dot-com tahun 2000, sejarah menunjukkan bahwa berinvestasi terlalu banyak pada satu tema dapat memicu koreksi pasar yang tiba-tiba.

Ketika saham teknologi AS anjlok pada akhir Oktober, dampaknya langsung terasa di Asia, dengan indeks-indeks utama di Korea, Taiwan, dan Malaysia masing-masing turun antara 2 dan 3 persen, mencerminkan keterkaitan kawasan ini dengan ekosistem global.

Taiwan dan Korea Selatan mendominasi produksi chip dan wafer berkinerja tinggi.
Jepang memasok mesin dan peralatan presisi.

Malaysia dan Vietnam memainkan peran kunci dalam produksi komponen antara dan layanan perakitan.

Lonjakan investasi AI telah mendorong permintaan elektronik dan semikonduktor di seluruh kawasan.

Ekspor elektronik dan elektronik Malaysia tumbuh 15 persen pada kuartal ketiga tahun 2025.
(wbs)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Kecerdasan Buatan Sedang...
Kecerdasan Buatan Sedang Mengubah Lanskap Keamanan Siber
Anthropic AI Claude...
Anthropic AI Claude Hasilkan Lebih dari 80 Persen Kode Baru
Google Luncurkan Gemini...
Google Luncurkan Gemini 3.5 Live Translate, Terjemahkan Bahasa secara Real-time
SpaceX Siap Luncurkan...
SpaceX Siap Luncurkan Pusat Data AI di Orbit Paling Cepat Tahun 2027
4 Teknologi Mutakhir...
4 Teknologi Mutakhir di Piala Dunia 2026, Pesepak Bola Akan Jadi Avatar
OpenAI Luncurkan Fitur...
OpenAI Luncurkan Fitur Penguncian Perlindungan Data untuk ChatGPT
UBM Luncurkan AI Tutor...
UBM Luncurkan AI Tutor Terintegrasi dengan Kurikulum OBE Pertama di Indonesia
LM FEB UI Tekankan Pentingnya...
LM FEB UI Tekankan Pentingnya Merekayasa Human Performance di Era AI
AI Juru Selamat atau...
AI Juru Selamat atau Kepunahan Pekerja Industri Kreatif?
Rekomendasi
Tepis Isu Menguntungkan...
Tepis Isu Menguntungkan Kapolri, Pakar: UU Polri Baru Berpihak pada Kepentingan Publik
Perumda Dharma Jaya...
Perumda Dharma Jaya Edukasi Ketahanan Pangan ke Siswa SMPN 51 Jakarta
Hidayat Batubara Daftar...
Hidayat Batubara Daftar Balon Ketua POBSI Sumut
Berita Terkini
Kecerdasan Buatan Sedang...
Kecerdasan Buatan Sedang Mengubah Lanskap Keamanan Siber
Instagram Down Massal,...
Instagram Down Massal, Benarkah Sengaja Diblokir karena Demo Mahasiswa?
Anthropic AI Claude...
Anthropic AI Claude Hasilkan Lebih dari 80 Persen Kode Baru
5 Cara Memilih Tempat...
5 Cara Memilih Tempat Top Up Game yang Terpercaya, AntiScam!
Desain Elegan Minimalis...
Desain Elegan Minimalis ASUS ROG Zephyrus G16 GU606 Nyaman untuk Kerja dan Gaming
Google Luncurkan Gemini...
Google Luncurkan Gemini 3.5 Live Translate, Terjemahkan Bahasa secara Real-time
Infografis
4.000 Karyawan Bank...
4.000 Karyawan Bank Terbesar Asia Tenggara akan Digantikan AI
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved