Gawat, Amazon Siap Gantikan 600.000 Pekerja Manusia dengan Robot!

Rabu, 22 Oktober 2025 - 16:45 WIB
loading...
Gawat, Amazon Siap Gantikan...
Dokumen internal Amazon yang bocor mengungkap rencana penggantian 600.000 pekerjaan manusia dengan advanced technology (robot) pada 2033. Foto: ist
A A A
CALIFORNIA - Amazon, Inc., perusahaan dengan jumlah pekerja terbesar ketiga di Amerika Serikat, menghadapi sorotan pasar setelah laporan The New York Times (NYT) pada hari Senin mengutip dokumen internal perusahaan.

Dokumen tersebut mengindikasikan rencana strategis jangka panjang untuk mengganti 600.000 pekerjaan manusia dengan robot pada 2033.

Laporan NYT merinci bahwa penggantian ini tidak akan berbentuk pemutusan hubungan kerja (PHK) massal.

Sebaliknya, Amazon akan menghindari perekrutan pekerja baru untuk memenuhi permintaan yang terus meningkat, mengalihkan 600.000 posisi yang seharusnya diisi manusia ke "pasukan robot" baru.

Data Skala dan Dampak Ketenagakerjaan

Skala rencana ini sangat signifikan di pasar tenaga kerja AS. Amazon saat ini mempekerjakan sekitar 1,5 juta karyawan, sebagian besar di gudang dan pengiriman.

Sebagai perbandingan, angka 600.000 pekerjaan yang akan digantikan tersebut lebih besar dari total karyawan FedEx, yang diperkirakan memiliki 550.000 karyawan.

Dokumen yang bocor tersebut juga mengungkap strategi mitigasi PR (Public Relations) Amazon.

Perusahaan dilaporkan berencana membangun citra sebagai "warga korporat yang baik" (good corporate citizen) melalui partisipasi dalam acara komunitas seperti parade lokal dan Toys for Tots untuk meredam dampak negatif di komunitas yang kehilangan pekerjaan.

Dokumen tersebut juga membahas strategi linguistik: menghindari penggunaan istilah "otomatisasi" (automation) dan "AI". Sebagai gantinya, Amazon akan menggunakan istilah "teknologi canggih" (advanced technology) dan mengganti kata "robot" dengan "cobot" untuk menyiratkan kolaborasi, bukan penggantian.

Bantahan Resmi Amazon

Menanggapi laporan tersebut, juru bicara Amazon memberikan bantahan resmi kepada CNET, menyebut dokumen tersebut "tidak lengkap dan menyesatkan".

"Dokumen yang bocor seringkali memberikan gambaran yang tidak lengkap dan menyesatkan tentang rencana kami, dan itulah yang terjadi di sini," kata juru bicara tersebut melalui email. "Materi-materi ini tampaknya hanya mencerminkan perspektif satu tim dan tidak mewakili strategi perekrutan kami secara keseluruhan, baik sekarang atau ke depan."

Amazon mengalihkan fokus pada data historis penciptaan lapangan kerja dan perekrutan aktif saat ini.

"Tidak ada perusahaan yang menciptakan lebih banyak lapangan kerja di Amerika selama dekade terakhir selain Amazon," tegas juru bicara itu, seraya menambahkan bahwa perusahaan berencana mengisi 250.000 posisi untuk musim liburan.

"Investasi kami akan terus menciptakan lapangan kerja yang substansial, dengan penekanan pada posisi bergaji lebih tinggi," tambah Amazon.

Klaim vs Realitas Otomatisasi

Bantahan Amazon bahwa laporan ini "menyesatkan" kontras dengan data studi eksternal mengenai dampak otomatisasi yang telah terjadi.

Sebuah studi per tahun 2020 menunjukkan bahwa setiap penambahan 1 robot per 1.000 pekerja di AS telah mengurangi upah sebesar 0,42%. Studi yang sama mengestimasikan bahwa 400.000 pekerjaan manusia telah hilang akibat otomatisasi robot per tahun 2020.

Jika data internal yang bocor (tambahan 600.000 pekerjaan diganti pada 2033) akurat, maka total dampak kumulatif otomatisasi Amazon terhadap pasar tenaga kerja—berdasarkan data eksternal dan internal—akan mendekati atau bahkan melebihi 1 juta pekerjaan dalam kurun waktuduadekade.
(dan)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Nvidia Siap Gandeng...
Nvidia Siap Gandeng Perusahaan China demi Kembangkan Robot Super Humanoid
China Kenalkan Sistem...
China Kenalkan Sistem Identitas Digital untuk Robot Humanoid
Hyundai Motor Siap Menjual...
Hyundai Motor Siap Menjual Bebas Robot Humanoid
Mengapa Robot Bisa Bikin...
Mengapa Robot Bisa Bikin Perang Semakin Menjadi Lebih Dahsyat?
Atur Lalu Lintas, China...
Atur Lalu Lintas, China Resmi Terjunkan Robot Polisi di Jalan
AS Siap Beri Pelajaran...
AS Siap Beri Pelajaran Robot-robot Canggih Buatan China
BYD Umumkan Akan Jualan...
BYD Umumkan Akan Jualan Robot Humanoid lewat Dealer Mobil
5 Keunggulan Robot...
5 Keunggulan Robot Humanoid MK-1 yang Dijuluki Prajurit Super AS
Robot BMW Umumkan Pensiun...
Robot BMW Umumkan Pensiun setelah 11 Bulan Produksi 30 Ribu Mobil
Rekomendasi
Modernisasi Kapal Induk...
Modernisasi Kapal Induk Giuseppe Garibaldi Penting untuk Perpanjang Usia Pakai
Iran Balas Bombardir...
Iran Balas Bombardir 18 Target Militer AS, Termasuk Sistem Rudal Patriot
Harumkan Nama Bangsa,...
Harumkan Nama Bangsa, Kolonel Cpn Jimmy Sirait Raih Gelar Master di US Army War College
Berita Terkini
Apa Itu Siri AI Apple...
Apa Itu Siri AI Apple dan Mengapa 1,3 Miliar iPhone Tak Bisa Menjalankannya?
Poco F8 Ultra Kembali...
Poco F8 Ultra Kembali Dijual di Indonesia: HP Gaming Buas dengan Snapdragon 8 Elite Gen 5
Siaga di Selat Hormuz,...
Siaga di Selat Hormuz, AS Gunakan Perahu Canggih Tanpa Awak
Amankan Piala Dunia...
Amankan Piala Dunia 2026, AS Kerahkan Sistem Pertahanan Anti-drone
Menganalisis Kekuatan...
Menganalisis Kekuatan Pesawat Su-35 dan Rafale setelah Pertemuan di Laut Baltik
4 Teknologi Mutakhir...
4 Teknologi Mutakhir di Piala Dunia 2026, Pesepak Bola Akan Jadi Avatar
Infografis
10 Jurusan dengan Pendaftar...
10 Jurusan dengan Pendaftar Terbanyak SNBP 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved