Data 800 Juta Pengguna ChatGPT Jadi Senjata: OpenAI Atlas Siap Rebut 90% Kue Iklan Google

Rabu, 22 Oktober 2025 - 07:54 WIB
loading...
Data 800 Juta Pengguna...
OpenAI resmi meluncurkan browser tandingan Google Chrome, ChatGPT Atlas, yang memicu saham Alphabet terkoreksi 1,8% di tengah ancaman perebutan dominasi pasar 71,9%. Foto: OpenAI
A A A
JAKARTA - OpenAI baru saja mengumumkan peluncuran "ChatGPT Atlas", peramban web (web browser) bertenaga AI yang telah lama diantisipasi.

Peluncuran ini menandai langkah strategis dan tantangan langsung terhadap dominasi Google Chrome di pasar.

Langkah korporat ini berdampak instan di lantai bursa. Saham Alphabet (GOOGL.O), induk usaha Google, tercatat mengalami koreksi sebesar 1,8% pada perdagangan sore hari pasca pengumuman dirilis.

Peluncuran Atlas diidentifikasi sebagai strategi ekspansi agresif OpenAI untuk memanfaatkan (kapitalisasi) basis pengguna ChatGPT yang masif, yang dilaporkan mencapai 800 juta pengguna aktif mingguan.

Perusahaan kini berupaya memperluas integrasi ke dalam aktivitas online pengguna, sekaligus mengumpulkan data fundamental mengenai perilaku browsing konsumen.

Langkah ini mempercepat pergeseran industri menuju pencarian berbasis AI (AI-driven search), di mana pengguna beralih ke alat percakapan yang mampu mensintesis informasi, meninggalkan model pencarian berbasis kata kunci tradisional milik Google.

Spesifikasi dan Persaingan Pasar

Atlas memasuki arena yang sudah kompetitif, berhadapan langsung dengan pemain AI-browser lainnya seperti Comet dari Perplexity, Brave Browser, dan Neon milik Opera.

Secara fungsional, Atlas menawarkan "ChatGPT sidebar" yang terintegrasi di setiap jendela. Fitur ini memungkinkan pengguna untuk meringkas konten, membandingkan produk, atau menganalisis data dari situs web mana pun secara instan.

Bagi pengguna berbayar, OpenAI memperkenalkan "Agent Mode". Dalam mode ini, ChatGPT dapat berinteraksi secara otonom dengan situs web atas nama pengguna—menyelesaikan tugas dari awal hingga akhir, seperti meneliti dan melakukan pembelian untuk perjalanan.

Dalam demonstrasi resmi, pengembang OpenAI menunjukkan bagaimana "Agent Mode" mampu menemukan resep online dan secara otomatis melanjutkan proses pembelian semua bahan melalui situs Instacart.

Secara teknis, peramban ini kini tersedia secara global, namun terbatas untuk sistem operasi Apple macOS. Versi untuk Windows, iOS, dan Android dijadwalkan akan dirilis di kemudian hari.

Meskipun kompetisi meningkat, data StatCounter per September menunjukkan Google Chrome masih memegang dominasi pasar absolut sebesar 71,9%.

Namun, analis melihat peluncuran Atlas sebagai ancaman baru terhadap pendapatan iklan Google.

"Mengintegrasikan obrolan ke dalam browser adalah pendahulu bagi OpenAI untuk mulai menjual iklan, yang belum mereka lakukan sejauh ini," ungkap Gil Luria, analis di D.A. Davidson.

Luria menambahkan, "Begitu OpenAI mulai menjual iklan, itu dapat mengambil bagian signifikan dari pangsa iklan pencarian (search advertising) dari Google, yang menguasai sekitar 90% dari kategori belanja tersebut."

Secara objektif, langkah OpenAI patut diapresiasi namun menghadapi tantangan fundamental:

1. Dominasi Ekosistem: Data pangsa pasar 71,9% milik Chrome bukanlah angka yang mudah digerus. Dominasi ini tidak hanya didukung oleh peramban, tetapi oleh ekosistem terintegrasi (Gmail, Android, Google Search) yang telah mengakar kuat pada perilaku konsumen. Atlas, yang saat ini hanya tersedia di macOS, memiliki jalan terjal untuk mencapai adopsi massal.

2. Efisiensi Fitur: Dalam demo, "Agent Mode" dilaporkan membutuhkan waktu "beberapa menit" untuk menyelesaikan tugas belanja. Data waktu ini mengindikasikan bahwa efisiensi fitur premium tersebut mungkin belum optimal untuk menggantikan interaksi manusia, sehingga menimbulkan pertanyaan atas nilai jualnya kepada pengguna berbayar.

3. Risiko Privasi Data: Strategi OpenAI yang secara terbuka ingin "mengumpulkan data tentang perilaku browsing konsumen" akan menjadi titik pengawasan regulasi yang ketat. Di saat isu privasi data menjadi sentimen negatif utama di pasar teknologi, langkah ini berisiko tinggi dan dapat menghambat adopsi oleh pengguna yangpeduliprivasi.
(dan)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
OpenAI Luncurkan Fitur...
OpenAI Luncurkan Fitur Penguncian Perlindungan Data untuk ChatGPT
Mengapa Indonesia Mendadak...
Mengapa Indonesia Mendadak Jadi Kiblat Baru ChatGPT Images 2.0?
ChatGPT Jadi Aplikasi...
ChatGPT Jadi Aplikasi Tercepat Mencapai 1 Miliar Pengguna di Seluruh Dunia
Sam Altman Akui Salah...
Sam Altman Akui Salah Prediksinya Soal AI Ancam Pekerjaan
OpenAI Pilih Singapura...
OpenAI Pilih Singapura sebagai Lokasi Laboratorium AI Pertamanya di Luar AS
OpenAI dan NVIDIA Mengadopsi...
OpenAI dan NVIDIA Mengadopsi Teknologi Watermark AI Google
Pengguna ChatGPT Kena...
Pengguna ChatGPT Kena PPN 11%, Begini Penjelasan Ditjen Pajak
Pajak Ekonomi Digital...
Pajak Ekonomi Digital Terkumpul Rp44,55 Triliun, OpenAI Resmi Jadi Pemungut PPN
Gawat, Lebih dari 1...
Gawat, Lebih dari 1 Juta Orang Bahas Keinginan Bunuh Diri dengan ChatGPT Setiap Pekan
Rekomendasi
BI Rate Diprediksi Naik...
BI Rate Diprediksi Naik sampai 6%, Waspadai Risiko Kredit dan Daya Beli
Kadishub DKI Sangkal...
Kadishub DKI Sangkal Anak Buahnya Minta Duit Rp250 Ribu ke Ojol yang Motornya Diangkut
Profil Eloy Room, Kiper...
Profil Eloy Room, Kiper Moncer Timnas Curacao yang Cetak Sejarah di Piala Dunia 2026
Berita Terkini
China Kenalkan Senjata...
China Kenalkan Senjata Laser Genggam Lijian untuk Jatuhkan Drone
AI Impact Challenge,...
AI Impact Challenge, Microsoft, Komdigi, dan Dicoding Tampilkan Karya AI Terbaik Lulusan METC
Kedaulatan Digital Jadi...
Kedaulatan Digital Jadi Sorotan, Solusi AI Terintegrasi Siap Percepat Transformasi Industri
Perang Rusia-Ukraina...
Perang Rusia-Ukraina Memicu Perlombaan Senjata AI
Intel dan Nvidia Memulai...
Intel dan Nvidia Memulai Pertempuran Global Baru
Game Paling Ditunggu...
Game Paling Ditunggu Sedunia GTA 6 Akhirnya bisa Dipesan, Harganya Rp1,4 Juta
Infografis
90 Juta Orang Jadi Korban...
90 Juta Orang Jadi Korban Jika Perang Nuklir AS-Rusia Pecah
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved