Data 5 Juta Pelanggan Qantas Bocor di Dark Web Setelah Tuntutan Tebusan Diabaikan

Selasa, 14 Oktober 2025 - 11:43 WIB
loading...
Data 5 Juta Pelanggan...
Grup peretas Scattered Lapsus$ Hunters merilis data setelah Qantas dan Salesforce menolak membayar tebusan, menyeret lebih dari 40 perusahaan global dalam salah satu insiden keamanan siber terbesar. Foto: ist
A A A
SYDNEY - Ancaman yang dilontarkan oleh kelompok peretas (hacker) Scattered Lapsus$ Hunters kini menjadi kenyataan pahit. Pada hari Sabtu (11/10), data pribadi milik 5 juta pelanggan maskapai penerbangan Australia, Qantas, secara resmi bocor dan disebar di dark web setelah batas waktu pembayaran tebusan yang ditetapkan para peretas terlewati.

Insiden ini merupakan puncak dari serangan siber masif pada bulan Juni 2025 yang menargetkan database Salesforce yang digunakan oleh Qantas.

Kebocoran ini bukan hanya merupakan pukulan telak bagi Qantas, tetapi juga bagian dari serangan siber berskala global yang berdampak pada lebih dari 40 perusahaan raksasa lainnya, dengan total data pelanggan yang dicuri diperkirakan mencapai 1 miliar data pribadi.

Kelompok peretas meninggalkan pesan bernada ejekan di situs kebocoran data mereka: "Jangan menjadi berita utama berikutnya, seharusnya Anda membayar tebusan."

Meskipun Qantas menegaskan bahwa data yang bocor tidak termasuk detail kartu kredit, informasi finansial, atau data paspor, informasi yang terungkap tetap memiliki nilai strategis yang sangat tinggi bagi para pelaku kejahatan siber. Data yang bocor mencakup:

Alamat email

Nomor telepon

Tanggal lahir

Nomor frequent flyer

Kesalahan terbesar dalam menilai insiden ini adalah menganggapnya tidak berbahaya karena tidak ada data finansial yang bocor. Jeremy Kirk, seorang analis dari perusahaan intelijen siber Intel 471, memperingatkan bahwa ancaman sesungguhnya jauh lebih canggih.

"Tidak ada perusahaan yang ingin melihat jutaan data pelanggan mereka ada di internet. Ini mengerikan bagi perusahaan dan bagi orang-orang yang terkena dampak," ujar Kirk. "Saat ini, banyak kelompok peretas yang menghasilkan email phishing yang dipersonalisasi. Mereka semakin ahli dalam hal ini—dan pelanggaran semacam ini membantu mengisi bahan bakar bagi ekonomi penipuan bawah tanah."

Dengan data tanggal lahir, nomor telepon, dan email, para penjahat siber kini dapat melancarkan serangan social engineering dan phishing yang sangat personal dan meyakinkan, yang berpotensi digunakan untuk membuka kartu kredit atau melakukan penipuan identitas lainnya.

Perang Dingin Korporat: Menolak Bernegosiasi dengan Teroris Siber

Insiden ini juga menyeret nama-nama besar lainnya seperti Gap, Vietnam Airlines, Toyota, Disney, McDonald’s, Ikea, dan Adidas. Data dari perusahaan-perusahaan ini dilaporkan dicuri dalam rentang waktu antara April 2024 hingga September 2025.

Dalam sebuah pernyataan tegas, juru bicara Salesforce menyatakan sikap tanpa kompromi. "Perusahaan kami tidak akan terlibat, bernegosiasi, atau membayar tuntutan pemerasan apa pun."

Salesforce menambahkan bahwa tidak ada indikasi platform mereka telah diretas, dan insiden ini terkait dengan insiden masa lalu atau yang tidak terbukti.

Sementara itu, Qantas menyatakan telah mengambil langkah-langkah mitigasi sejak insiden pertengahan tahun.

"Dengan bantuan para ahli keamanan siber, kami sedang menyelidiki data apa saja yang menjadi bagian dari rilis ini," kata seorang juru bicara pada hari Minggu. "Kami juga telah menerapkan langkah-langkah keamanan tambahan, meningkatkan pelatihan di seluruh tim kami, dan memperkuat pemantauan sistem."

Secara keseluruhan, keputusan Qantas dan Salesforce untuk tidak membayar tebusan adalah sebuah pertaruhan strategis yang berisiko tinggi. Di satu sisi, membayar tebusan akan mendorong aksi serupa di masa depan.

Di sisi lain, kebocoran data 5 juta pelanggan ini adalah krisis reputasi yang masif dan membuka pintu bagi gelombang penipuan yang menargetkan para korban. Ini adalah dilema kritis di era perang siber modern, di mana tidak ada pilihan yang sepenuhnyaaman.
(dan)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Meta Akui Chatbot AI...
Meta Akui Chatbot AI Menyebabkan Ribuan Akun Instagram Diretas
340 Juta Data Pengguna...
340 Juta Data Pengguna Situs Dewasa OnlyFans Dijual Hacker
5 Provinsi di Indonesia...
5 Provinsi di Indonesia Jadi Target Penguatan Keamanan Siber Pemerintah
Peringatan Keamanan...
Peringatan Keamanan Temukan AC, TV, dan Mesin Cuci Bisa Diretas
Bukan Cuma Adu Rudal,...
Bukan Cuma Adu Rudal, Hacker dan AI Jadi Malaikat Maut di Perang AS-Israel vs Iran
Claude Diperdaya Peretas...
Claude Diperdaya Peretas untuk Curi Data dan Dokumen Rahasia Meksiko
Hacker Pro-Palestina...
Hacker Pro-Palestina Janji Lancarkan Serangan Siber Paling Dahsyat ke Israel
3 Kali Jadi Korban Hacker,...
3 Kali Jadi Korban Hacker, Akun Instagram Wardatina Mawa Diretas Lagi
Hacker Handala Retas...
Hacker Handala Retas 2 Juta Dokumen Rahasia dari Pusat Holocaust Israel
Rekomendasi
Hidayat Batubara Daftar...
Hidayat Batubara Daftar Balon Ketua POBSI Sumut
Kajian 13 Proyek Hilirisasi...
Kajian 13 Proyek Hilirisasi Rampung Juli, Nilainya Ditaksir Capai Rp239 Triliun
Liga Bintang Juara Hari...
Liga Bintang Juara Hari Kedua: 32 Tim Bertarung Rebut 16 Tiket ke Babak Utama Jakarta
Berita Terkini
Kecerdasan Buatan Sedang...
Kecerdasan Buatan Sedang Mengubah Lanskap Keamanan Siber
Instagram Down Massal,...
Instagram Down Massal, Benarkah Sengaja Diblokir karena Demo Mahasiswa?
Anthropic AI Claude...
Anthropic AI Claude Hasilkan Lebih dari 80 Persen Kode Baru
5 Cara Memilih Tempat...
5 Cara Memilih Tempat Top Up Game yang Terpercaya, AntiScam!
Desain Elegan Minimalis...
Desain Elegan Minimalis ASUS ROG Zephyrus G16 GU606 Nyaman untuk Kerja dan Gaming
Google Luncurkan Gemini...
Google Luncurkan Gemini 3.5 Live Translate, Terjemahkan Bahasa secara Real-time
Infografis
Skuad Timnas Spanyol...
Skuad Timnas Spanyol di Piala Dunia 2026, Tak Ada Pemain Real Madrid
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved