Elon Musk Serukan Boikot Netflix, Tuduh Konten LGBTQ Eksploitasi Anak, Saham Anjlok Rp250 Triliun!
Senin, 06 Oktober 2025 - 10:47 WIB
loading...
Cuitan Elon Musk untuk memboikot Netflix membuat saham perusahaan streaming tersebut hancur lebur. Foto: Sindonews/Gemini
A
A
A
AMERIKA - Perang antara orang terkaya di dunia dan raksasa streaming global meledak di panggung media sosial. Dan dampaknya sangat dahsyat.
Amukan Elon Musk yang menyerukan gerakan "Cancel Netflix" atas tuduhan promosi isu LGBTQ di kartun anak-anak telah memicu badai finansial, menggerus nilai pasar Netflix hingga Rp250 triliun hanya dalam hitungan hari.
Drama ini adalah pertunjukan mengerikan tentang bagaimana kekuatan seorang figur publik dengan jutaan pengikut dapat menghantam salah satu perusahaan hiburan terbesar di dunia, menjadikan konten anak-anak sebagai medan pertempuran terbaru dalam perang budaya.
Api Pertama: Animasi Anak yang Dianggap Meresahkan
Semuanya dimulai pada Selasa, 30 September 2025, ketika Elon Musk menyoroti serial animasi Netflix berjudul "Dead End: Paranormal Park".
Musk menuduh acara tersebut secara terang-terangan mempromosikan isu pro-transgender kepada audiens yang sangat muda.
"OMG. Dead End: Paranormal Park, sebuah acara di Netflix, mempromosikan isu pro-transgender kepada anak-anak. Acara ini diiklankan untuk anak usia 7 tahun," cuit Musk, memicu gelombang pertama seruan untuk membatalkan langganan Netflix.
Api semakin berkobar ketika akun X @libsoftiktok mengunggah potongan video kartun "Strawberry Shortcake: Berry in The Big City" yang menampilkan karakter transgender.
Elon Musk dengan cepat me-retweet unggahan ini pada Jumat, 3 Oktober 2025, dengan tuduhan yang jauh lebih serius dan pedas.
Ledakan di Media Sosial: Tuduhan Eksploitasi Seksual
Dengan jangkauan yang masif—cuitannya ditonton lebih dari 25 juta kali—Musk tidak lagi hanya mengkritik, tetapi menuduh Netflix melakukan kejahatan.
"Netflix sengaja memilih untuk membayar orang untuk membuat konten seksual untuk anak-anak," tulis Musk dengan nada marah.
Ia membedakan antara kebebasan berpendapat dengan apa yang ia sebut sebagai konten berbayar yang sengaja didorong oleh Netflix.
"Kebebasan berbicara harus dihormati, tetapi ini adalah konten BERBAYAR. Netflix keluar dari jalan mereka dan meraih dompet mereka untuk mendorong ini," lanjutnya, menyiratkan adanya niat tersembunyi dari perusahaan.
Berikut adalah rincian kehancuran finansial yang dialami Netflix:
Kerugian Kapitalisasi Pasar: Sekitar USD15 miliar (setara Rp250 Triliun).
Penurunan Saham: Anjlok 4,3% dalam waktu satu setengah hari.
Harga Saham: Jatuh ke level USD1.140,50 per lembar pada Kamis sore.
Perbandingan Nilai Perusahaan: Merosot tajam dari sekitar USD498 miliar pada hari Rabu menjadi USD482,9 miliar pada hari Kamis.
Pada akhirnya, insiden ini menjadi lebih dari sekadar kontroversi konten. Ini adalah demonstrasi kekuatan mentah di era digital, di mana platform media sosial milik seorang miliarder dapat berfungsi sebagai pengadilan publik sekaligus algojo finansial bagi perusahaan raksasa lainnya.
Batas antara kritik, aktivisme, dan penghancuran nilai korporasi kini menjadi semakin kabur, dengan reputasi dan triliunan rupiah dipertaruhkandalamsekejap.
Amukan Elon Musk yang menyerukan gerakan "Cancel Netflix" atas tuduhan promosi isu LGBTQ di kartun anak-anak telah memicu badai finansial, menggerus nilai pasar Netflix hingga Rp250 triliun hanya dalam hitungan hari.
Drama ini adalah pertunjukan mengerikan tentang bagaimana kekuatan seorang figur publik dengan jutaan pengikut dapat menghantam salah satu perusahaan hiburan terbesar di dunia, menjadikan konten anak-anak sebagai medan pertempuran terbaru dalam perang budaya.
Api Pertama: Animasi Anak yang Dianggap Meresahkan
![Elon Musk Serukan Boikot Netflix, Tuduh Konten LGBTQ Eksploitasi Anak, Saham Anjlok Rp250 Triliun!]()
Semuanya dimulai pada Selasa, 30 September 2025, ketika Elon Musk menyoroti serial animasi Netflix berjudul "Dead End: Paranormal Park".
Musk menuduh acara tersebut secara terang-terangan mempromosikan isu pro-transgender kepada audiens yang sangat muda.
"OMG. Dead End: Paranormal Park, sebuah acara di Netflix, mempromosikan isu pro-transgender kepada anak-anak. Acara ini diiklankan untuk anak usia 7 tahun," cuit Musk, memicu gelombang pertama seruan untuk membatalkan langganan Netflix.
Api semakin berkobar ketika akun X @libsoftiktok mengunggah potongan video kartun "Strawberry Shortcake: Berry in The Big City" yang menampilkan karakter transgender.
Elon Musk dengan cepat me-retweet unggahan ini pada Jumat, 3 Oktober 2025, dengan tuduhan yang jauh lebih serius dan pedas.
Ledakan di Media Sosial: Tuduhan Eksploitasi Seksual
![Elon Musk Serukan Boikot Netflix, Tuduh Konten LGBTQ Eksploitasi Anak, Saham Anjlok Rp250 Triliun!]()
Dengan jangkauan yang masif—cuitannya ditonton lebih dari 25 juta kali—Musk tidak lagi hanya mengkritik, tetapi menuduh Netflix melakukan kejahatan.
"Netflix sengaja memilih untuk membayar orang untuk membuat konten seksual untuk anak-anak," tulis Musk dengan nada marah.
Ia membedakan antara kebebasan berpendapat dengan apa yang ia sebut sebagai konten berbayar yang sengaja didorong oleh Netflix.
"Kebebasan berbicara harus dihormati, tetapi ini adalah konten BERBAYAR. Netflix keluar dari jalan mereka dan meraih dompet mereka untuk mendorong ini," lanjutnya, menyiratkan adanya niat tersembunyi dari perusahaan.
Angka Tak Bisa Bohong: Hukuman Brutal dari Wall Street
Seruan Musk dan gerakan "Cancel Netflix" yang viral ternyata bukan sekadar kebisingan di dunia maya. Dampaknya langsung terasa di lantai bursa Wall Street, di mana investor menghukum Netflix tanpa ampun.Berikut adalah rincian kehancuran finansial yang dialami Netflix:
Kerugian Kapitalisasi Pasar: Sekitar USD15 miliar (setara Rp250 Triliun).
Penurunan Saham: Anjlok 4,3% dalam waktu satu setengah hari.
Harga Saham: Jatuh ke level USD1.140,50 per lembar pada Kamis sore.
Perbandingan Nilai Perusahaan: Merosot tajam dari sekitar USD498 miliar pada hari Rabu menjadi USD482,9 miliar pada hari Kamis.
Pada akhirnya, insiden ini menjadi lebih dari sekadar kontroversi konten. Ini adalah demonstrasi kekuatan mentah di era digital, di mana platform media sosial milik seorang miliarder dapat berfungsi sebagai pengadilan publik sekaligus algojo finansial bagi perusahaan raksasa lainnya.
Batas antara kritik, aktivisme, dan penghancuran nilai korporasi kini menjadi semakin kabur, dengan reputasi dan triliunan rupiah dipertaruhkandalamsekejap.
(dan)
Lihat Juga :