Daniel Ek Turun Tahta dari Kursi CEO, Saham Spotify Turun 5%
Rabu, 01 Oktober 2025 - 21:41 WIB
loading...
CEO Daniel Ek menjadi ikon Spotify selama bertahun-tahun. Foto: Reuters
A
A
A
STOCKHOLM - Daniel Ek, pendiri visioner yang mengubah cara dunia mendengarkan musik, secara mengejutkan mengumumkan akan 'turun tahta' dari posisi Chief Executive Officer (CEO) Spotify pada Januari 2026 mendatang.
Ini bukan akhir perjalanannya, melainkan pertaruhan strategis yang mengguncang pasar.
Setelah hampir dua dekade memimpin perusahaannya dari startup Swedia menjadi raksasa global, Ek akan beralih peran menjadi Executive Chairman.
Namun, yang lebih mengejutkan adalah struktur baru yang ia tinggalkan: Spotify akan dipimpin oleh dua orang CEO sekaligus.
Sontak, pasar merespons dengan keraguan. Saham Spotify turun sekitar 5% setelah pengumuman, sinyal bahwa Wall Street tidak sepenuhnya yakin dengan manuver radikal ini.
Pertanyaan besarnya: apakah ini langkah jenius untuk menghadapi masa depan, atau awal kekacauan di puncak pimpinan?
"Saya akan lebih terlibat dibanding chairman di Amerika pada umumnya. Jadi, anggap saja seperti beralih dari seorang pemain menjadi pelatih," ujar Ek, miliarder yang telah menduduki dewan direksi sejak 2008.
Peran barunya akan fokus pada gambaran besar: alokasi modal—memutuskan ke mana uang perusahaan akan diinvestasikan—dan strategi jangka panjang.
Sementara itu, urusan operasional sehari-hari akan diserahkan kepada dua orang kepercayaannya yang telah bekerja bersamanya selama 15 tahun: Gustav Soderstrom dan Alex Norstrom, yang akan menjabat sebagai co-CEO.
Meski berstatus raja dengan hampir 700 juta pengguna bulanan dan katalog berisi lebih dari 100 juta lagu—jauh melampaui Apple Music dengan sekitar 90 juta pelanggan—takhta mereka terus digoyang.
Para penantangnya bukan pemain sembarangan. Ada YouTube Music yang terintegrasi dengan perpustakaan video tak terbatas, dan Amazon Music yang diikat dalam paket langganan Prime yang sangat populer.
Keduanya memiliki keuntungan unik yang membuat Spotify tidak bisa tidur nyenyak.
Masalah lainnya adalah 'bom waktu' finansial: margin keuntungan yang tipis. Di satu sisi, para artis menuntut bayaran yang lebih tinggi. Di sisi lain, Spotify harus menjaga harga tetap kompetitif.
Fakta pahitnya, perusahaan yang didirikan pada 2006 ini baru berhasil mencatatkan laba tahunan pertamanya pada 2024, setelah serangkaian kenaikan harga dan pemangkasan biaya.
"Norstrom sangat tertarik pada pengetahuan tentang produk, dan saya sangat tertarik pada bisnis," kata Soderstrom. "Jadi kami menjalankan ini sebagai satu tim."
Namun, para analis tidak seoptimistis itu. Model ini sering dikritik karena menciptakan kebingungan wewenang. Dan Coatsworth, analis investasi di AJ Bell, menyuarakan skeptisisme.
"Hal besar yang tidak diketahui adalah mengapa Spotify membutuhkan seorang executive chairman dan dua CEO, karena itu memunculkan gagasan bahwa terlalu banyak koki akan merusak masakan," ujarnya pedas.
Meskipun begitu, Ek meninggalkan kursi CEO di puncak kejayaan. Saham Spotify telah naik 63% tahun ini dan bahkan meroket lebih dari tujuh kali lipat sejak 2023. Seperti yang dikatakan analis Paolo Pescatore, "Ek meninggalkan peran CEO dengan catatan tinggi, dengan sepatu bot besar yang harus diisi oleh para CEO yang akan datang."
Di tengah pasar musik global yang tumbuh menjadi USD29,6 miliar pada 2024, di mana streaming menyumbang lebih dari USD20 miliar, langkah Spotify ini adalah pertaruhan besar.
Dunia kini akan mengamati, apakah dua 'koki' baru ini akan menciptakan mahakarya, atau justru merusak resep yang telah disempurnakan Daniel Ek selama hampir dua dekade.
Ini bukan akhir perjalanannya, melainkan pertaruhan strategis yang mengguncang pasar.
Setelah hampir dua dekade memimpin perusahaannya dari startup Swedia menjadi raksasa global, Ek akan beralih peran menjadi Executive Chairman.
Namun, yang lebih mengejutkan adalah struktur baru yang ia tinggalkan: Spotify akan dipimpin oleh dua orang CEO sekaligus.
Sontak, pasar merespons dengan keraguan. Saham Spotify turun sekitar 5% setelah pengumuman, sinyal bahwa Wall Street tidak sepenuhnya yakin dengan manuver radikal ini.
Pertanyaan besarnya: apakah ini langkah jenius untuk menghadapi masa depan, atau awal kekacauan di puncak pimpinan?
Dari Pemain Menjadi Pelatih
Dalam pernyataannya, Daniel Ek berusaha menenangkan gejolak. Ia menegaskan bahwa dirinya tidak akan “pensiun ke pantai”, melainkan hanya berganti peran di lapangan."Saya akan lebih terlibat dibanding chairman di Amerika pada umumnya. Jadi, anggap saja seperti beralih dari seorang pemain menjadi pelatih," ujar Ek, miliarder yang telah menduduki dewan direksi sejak 2008.
Peran barunya akan fokus pada gambaran besar: alokasi modal—memutuskan ke mana uang perusahaan akan diinvestasikan—dan strategi jangka panjang.
Sementara itu, urusan operasional sehari-hari akan diserahkan kepada dua orang kepercayaannya yang telah bekerja bersamanya selama 15 tahun: Gustav Soderstrom dan Alex Norstrom, yang akan menjabat sebagai co-CEO.
Di Balik Keputusan: Pertempuran Berdarah di Arena Streaming
Mengapa perubahan drastis ini diperlukan sekarang? Jawabannya terletak pada tekanan tanpa henti yang dihadapi Spotify.Meski berstatus raja dengan hampir 700 juta pengguna bulanan dan katalog berisi lebih dari 100 juta lagu—jauh melampaui Apple Music dengan sekitar 90 juta pelanggan—takhta mereka terus digoyang.
Para penantangnya bukan pemain sembarangan. Ada YouTube Music yang terintegrasi dengan perpustakaan video tak terbatas, dan Amazon Music yang diikat dalam paket langganan Prime yang sangat populer.
Keduanya memiliki keuntungan unik yang membuat Spotify tidak bisa tidur nyenyak.
Masalah lainnya adalah 'bom waktu' finansial: margin keuntungan yang tipis. Di satu sisi, para artis menuntut bayaran yang lebih tinggi. Di sisi lain, Spotify harus menjaga harga tetap kompetitif.
Fakta pahitnya, perusahaan yang didirikan pada 2006 ini baru berhasil mencatatkan laba tahunan pertamanya pada 2024, setelah serangkaian kenaikan harga dan pemangkasan biaya.
Dua Koki di Satu Dapur: Resep Sukses atau Bencana?
Struktur co-CEO yang diadopsi Spotify, meniru langkah perusahaan seperti Netflix dan Oracle, dirancang untuk mengelola operasi yang semakin kompleks. Soderstrom, sang ahli produk dan teknologi, dan Norstrom, sang maestro bisnis, mengklaim mereka adalah tim yang solid."Norstrom sangat tertarik pada pengetahuan tentang produk, dan saya sangat tertarik pada bisnis," kata Soderstrom. "Jadi kami menjalankan ini sebagai satu tim."
Namun, para analis tidak seoptimistis itu. Model ini sering dikritik karena menciptakan kebingungan wewenang. Dan Coatsworth, analis investasi di AJ Bell, menyuarakan skeptisisme.
"Hal besar yang tidak diketahui adalah mengapa Spotify membutuhkan seorang executive chairman dan dua CEO, karena itu memunculkan gagasan bahwa terlalu banyak koki akan merusak masakan," ujarnya pedas.
Meskipun begitu, Ek meninggalkan kursi CEO di puncak kejayaan. Saham Spotify telah naik 63% tahun ini dan bahkan meroket lebih dari tujuh kali lipat sejak 2023. Seperti yang dikatakan analis Paolo Pescatore, "Ek meninggalkan peran CEO dengan catatan tinggi, dengan sepatu bot besar yang harus diisi oleh para CEO yang akan datang."
Di tengah pasar musik global yang tumbuh menjadi USD29,6 miliar pada 2024, di mana streaming menyumbang lebih dari USD20 miliar, langkah Spotify ini adalah pertaruhan besar.
Dunia kini akan mengamati, apakah dua 'koki' baru ini akan menciptakan mahakarya, atau justru merusak resep yang telah disempurnakan Daniel Ek selama hampir dua dekade.
(dan)
Lihat Juga :