Gangguan Jaringan Optus Merenggut Tiga Nyawa di Australia
Minggu, 21 September 2025 - 10:38 WIB
loading...
Gangguan Jaringan Optus . FOTO/ X
A
A
A
JAKARTA - Tiga orang tewas di Australia setelah gangguan teknis pada jaringan Optus memengaruhi saluran darurat triple zero (000).
Seperti dilansir dari Independent, menurut CEO Optus, Stephen Rue, masalah tersebut terjadi saat pekerjaan peningkatan jaringan Kamis lalu, yang memengaruhi sekitar 600 pelanggan di Australia Selatan, Australia Barat, dan Teritori Utara.
Ia mengatakan bahwa pemeriksaan kesejahteraan menemukan tiga orang meninggal dunia di rumah mereka, di mana terdapat upaya untuk menghubungi saluran darurat, dan penyelidikan masih berlangsung oleh pihak berwenang.
"Saya mohon maaf kepada semua pelanggan yang tidak dapat menghubungi layanan darurat saat mereka sangat membutuhkannya.
"Saya juga menyampaikan belasungkawa kepada keluarga dan teman-teman para korban. "Apa yang terjadi benar-benar tidak dapat diterima, kami telah mengecewakan Anda," ujarnya.
Optus, yang dimiliki oleh Singapore Telecommunications, mengatakan kerusakan telah diperbaiki dan penyelidikan menyeluruh sedang dilakukan.
Insiden ini terjadi kurang dari setahun setelah Optus didenda USD12 juta oleh pihak berwenang karena gagal menyediakan layanan panggilan darurat selama pemadaman jaringan nasional pada tahun 2023.
Perusahaan telekomunikasi tersebut sebelumnya mengalami serangan siber pada tahun 2022 yang memengaruhi data sekitar 9,5 juta pengguna di Australia, serta pemadaman besar pada tahun 2023 yang menyebabkan pengunduran diri CEO saat itu, Kelly Bayer Rosmarin.
Seperti dilansir dari Independent, menurut CEO Optus, Stephen Rue, masalah tersebut terjadi saat pekerjaan peningkatan jaringan Kamis lalu, yang memengaruhi sekitar 600 pelanggan di Australia Selatan, Australia Barat, dan Teritori Utara.
Ia mengatakan bahwa pemeriksaan kesejahteraan menemukan tiga orang meninggal dunia di rumah mereka, di mana terdapat upaya untuk menghubungi saluran darurat, dan penyelidikan masih berlangsung oleh pihak berwenang.
"Saya mohon maaf kepada semua pelanggan yang tidak dapat menghubungi layanan darurat saat mereka sangat membutuhkannya.
"Saya juga menyampaikan belasungkawa kepada keluarga dan teman-teman para korban. "Apa yang terjadi benar-benar tidak dapat diterima, kami telah mengecewakan Anda," ujarnya.
Optus, yang dimiliki oleh Singapore Telecommunications, mengatakan kerusakan telah diperbaiki dan penyelidikan menyeluruh sedang dilakukan.
Insiden ini terjadi kurang dari setahun setelah Optus didenda USD12 juta oleh pihak berwenang karena gagal menyediakan layanan panggilan darurat selama pemadaman jaringan nasional pada tahun 2023.
Perusahaan telekomunikasi tersebut sebelumnya mengalami serangan siber pada tahun 2022 yang memengaruhi data sekitar 9,5 juta pengguna di Australia, serta pemadaman besar pada tahun 2023 yang menyebabkan pengunduran diri CEO saat itu, Kelly Bayer Rosmarin.
(wbs)
Lihat Juga :