Jomplang! Biaya Bikin AI DeepSeek di China cuma Rp4,7 Miliar, ChatGPT Butuh Rp1,6 Triliun

Jum'at, 19 September 2025 - 08:22 WIB
loading...
Jomplang! Biaya Bikin...
Kemampuan DeepSeek yang bisa melatih AI dengan biaya yang sangat rendah membuat Amerika was-was. Foto: Reuters
A A A
CHINA - Di Silicon Valley, ada keyakinan bahwa menciptakan Kecerdasan Buatan (AI) yang benar-benar canggih, Anda butuh tumpukan uang nyaris tak terbatas. Biayanya bisa mencapai ratusan juta dolar.

Namun, startup misterius dari China bak melempar granat ke tengah keyakinan itu, dengan angka yang tampak mustahil.

Perusahaan itu bernama DeepSeek. Dalam sebuah jurnal ilmiah bergengsi, Nature, mereka baru saja mengungkap biaya "dapur" di balik model AI andalan mereka, R1.

Angka yang mereka rilis sontak mengirimkan gelombang kejut ke seluruh industri teknologi. Terutama Washington.
Biaya yang mereka butuhkan untuk melatih AI canggih mereka? Hanya USD294.000 (sekitar Rp4,7 miliar).

Sebagai perbandingan, CEO OpenAI, Sam Altman, pada tahun 2023 pernah mengatakan bahwa biaya untuk melatih model dasar di balik ChatGPT "jauh lebih besar" dari USD100 juta (sekitar Rp1,6 triliun).

Angka yang dirilis DeepSeek ini bukan hanya soal efisiensi; tapi pernyataan perang ekonomi dan teknologi.

Ia memunculkan dua pertanyaan yang sangat meresahkan bagi Amerika: Bagaimana mungkin mereka bisa melakukannya dengan begitu murah? Dan yang lebih penting, dari mana mereka mendapatkan perangkat keras untuk melakukannya?

'Resep' Ajaib dan Misteri Chip Ilegal

Menurut keterangan resmi DeepSeek, resep mereka sangat sederhana. DeepSeek melatih model AI R1 selama 80 jam dengan menggunakan klaster 512 chip Nvidia H800. Chip H800 sendiri adalah "versi sunat" yang sengaja dibuat Nvidia untuk pasar China, agar tidak melanggar aturan larangan ekspor AS yang diberlakukan sejak Oktober 2022.

Namun, di sinilah letak misterinya. Banyak pihak di Amerika yang tidak percaya begitu saja.

Para pejabat AS, dalam sebuah laporan Reuters pada bulan Juni, menuduh DeepSeek memiliki akses ke "volume besar" chip H100—versi super kuat yang sebenarnya dilarang untuk diekspor ke China. Ini mengisyaratkan adanya jalur pasar gelap atau penyelundupan.

Kecurigaan ini semakin menguat setelah DeepSeek, dalam dokumen tambahan untuk jurnal Nature mereka, untuk pertama kalinya mengakui bahwa mereka memang memiliki dan menggunakan chip A100 (versi lain yang juga dilarang) dalam "tahap persiapan" pengembangan AI mereka.

"Pengakuan" ini, meskipun parsial, seolah jadi konfirmasi atas rumor yang telah lama beredar: bahwa salah satu alasan DeepSeek mampu merekrut talenta-talenta terbaik di China adalah karena mereka memiliki akses ke "senjata" superkomputer yang seharusnya tidak mereka miliki.

Peringatan Keras bagi Washington

Bagi Amerika Serikat, pengungkapan dari DeepSeek ini adalah horor dua sisi.

Skenario Pertama: Jika DeepSeek berkata jujur dan mereka benar-benar mampu menciptakan AI kelas dunia hanya dengan chip H800 yang "dilemahkan", itu berarti inovasi perangkat lunak dan efisiensi mereka jauh melampaui apa pun yang dibayangkan oleh Barat. Ini adalah ancaman kompetitif yang luar biasa.

Skenario Kedua: Jika DeepSeek tidak sepenuhnya jujur dan keberhasilan mereka sangat bergantung pada chip-chip ilegal (H100/A100), itu berarti embargo teknologi yang menjadi senjata utama Amerika dalam perang chip melawan China telah gagal total. Benteng yang mereka bangun ternyata hanyalah benteng kertas yang mudah ditembus.

Apa pun skenarionya, pesan yang dikirim oleh DeepSeek ke Washington sama-sama mengerikan.

Perlombaan untuk supremasi AI masih jauh dari kata usai, dan rival utama mereka terbukti jauh lebih cerdik, efisien, dan sulit dihentikan dari yang pernah mereka perkirakan. Angka Rp4,7 miliar itu bukan lagi sekadar data; ia adalah lonceng peringatan yang memekakkantelinga.
(dan)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
OpenAI Luncurkan Fitur...
OpenAI Luncurkan Fitur Penguncian Perlindungan Data untuk ChatGPT
Mengapa Indonesia Mendadak...
Mengapa Indonesia Mendadak Jadi Kiblat Baru ChatGPT Images 2.0?
ChatGPT Jadi Aplikasi...
ChatGPT Jadi Aplikasi Tercepat Mencapai 1 Miliar Pengguna di Seluruh Dunia
470 Film AI Diproduksi...
470 Film AI Diproduksi Setiap Hari Peran Artis dan Sutradara Terancam?
Ponsel ChatGPT Akan...
Ponsel ChatGPT Akan Segera Diluncurkan, Ini Bocorannya
Bos OpenAI Akui ChatGPT...
Bos OpenAI Akui ChatGPT Digunakan untuk Merencanakan Penembakan Massal
Pengguna ChatGPT Kena...
Pengguna ChatGPT Kena PPN 11%, Begini Penjelasan Ditjen Pajak
Pajak Ekonomi Digital...
Pajak Ekonomi Digital Terkumpul Rp44,55 Triliun, OpenAI Resmi Jadi Pemungut PPN
Gawat, Lebih dari 1...
Gawat, Lebih dari 1 Juta Orang Bahas Keinginan Bunuh Diri dengan ChatGPT Setiap Pekan
Rekomendasi
Creavibe Fest 2026:...
Creavibe Fest 2026: Mahasiswa Desain Produk UMB Tampilkan Karya Fesyen Berkelanjutan
Sinopsis The Last Girl...
Sinopsis The Last Girl on the Trafficking List di V+Short, Kisah Olive Terjebak Sindikat Berbahaya
Refly Harun Sudah Siapkan...
Refly Harun Sudah Siapkan Surat Permohonan Penangguhan Penahanan Roy Suryo dan Dokter Tifa
Berita Terkini
China Kenalkan Senjata...
China Kenalkan Senjata Laser Genggam Lijian untuk Jatuhkan Drone
AI Impact Challenge,...
AI Impact Challenge, Microsoft, Komdigi, dan Dicoding Tampilkan Karya AI Terbaik Lulusan METC
Kedaulatan Digital Jadi...
Kedaulatan Digital Jadi Sorotan, Solusi AI Terintegrasi Siap Percepat Transformasi Industri
Perang Rusia-Ukraina...
Perang Rusia-Ukraina Memicu Perlombaan Senjata AI
Intel dan Nvidia Memulai...
Intel dan Nvidia Memulai Pertempuran Global Baru
Game Paling Ditunggu...
Game Paling Ditunggu Sedunia GTA 6 Akhirnya bisa Dipesan, Harganya Rp1,4 Juta
Infografis
3 Negara Mayoritas Islam...
3 Negara Mayoritas Islam Terjebak Utang China, Indonesia Tembus Rp326 Triliun
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved