Ketika CCTV Tak Lagi Barang Mewah dan Jadi Kebutuhan Pokok Kaum Urban
Jum'at, 12 September 2025 - 08:14 WIB
loading...
EZVIZ terus melakukan ekspansi karena kebutuhan kamera CCTV di kota-kota besar terus meningkat. Foto: EZVIZ Indonesia
A
A
A
SURABAYA - Hampir setiap hari linimasa media sosial dibanjiri rekaman-rekaman dramatis: aksi pencuri paket di teras rumah, insiden senggolan kendaraan di persimpangan, atau gerak-gerik mencurigakan di gang-gang sepi.
Semua terekam jelas oleh sebuah "mata" yang kini ada di mana-mana: kamera CCTV.
Fenomena ini menandai pergeseran sosial mendalam. Kamera pengawas, yang dulu identik dengan bangunan perkantoran megah atau pusat perbelanjaan mewah, kini telah “turun tahta”.
Ia berubah jadi bagian dari lanskap pemukiman, kebutuhan pokok bagi banyak keluarga urban yang mendambakan rasa aman.
Tren yang meroket ini adalah kekuatan pendorong di balik ekspansi agresif para pemain industri keamanan pintar.
EZVIZ, misalnya, baru saja membuka gerai pertamanya di Jawa Timur, tepatnya di Surabaya, untuk menjawab gelombang permintaan yang tak terbendung.
“Sosial media turut berperan dalam hal ini, karena kita bisa lihat beberapa konten viral peristiwa diambil dari rekaman CCTV, terutama kasus-kasus kejahatan di lingkungan rumah, seperti pencurian. Jadi, masyarakat mulai mencari-cari informasi mengenai CCTV," ungkap Paul Fang.
Data internal EZVIZ pun mengonfirmasi tren ini. Sepanjang periode 2023 hingga 2024, jumlah perangkat aktif mereka di seluruh Indonesia meroket sebesar 50%.
Pertumbuhan inilah yang mendorong mereka untuk membangun "benteng" baru di Surabaya.
“Trennya saat ini di kawasan Jawa Timur, seperti Surabaya juga mengalami peningkatan cukup signifikan. Makanya demi mengantisipasi permintaan dan memberikan pelayanan secara langsung ke masyarakat sekitar, kami hadirkan EZVIZ Store di Surabaya," tambahnya.
Berlokasi di Maspion IT Square, Jl. Ahmad Yani No. 73, gerai ini dirancang bukan hanya untuk berjualan, tetapi juga sebagai pusat konsultasi bagi warga yang ingin mulai mengadopsi teknologi ini.
Sebagai contoh, model terlaris EZVIZ untuk segmen perumahan, H8c Pro. Beberapa fiturnya, antara lain:
Mata Elang 360 Derajat: Kamera ini dapat berputar dan memantau seluruh area sekelilingnya (panorama 360 derajat) dan tetap mampu merekam dalam warna bahkan di malam hari (Color Night Vision).
Otak Berbasis AI: Ia tidak lagi hanya merekam gerakan. Kecerdasan Buatan (AI) di dalamnya mampu membedakan antara manusia, kendaraan, dan gerakan lain yang tidak relevan (seperti kucing lewat atau dahan pohon yang bergoyang), mengurangi alarm palsu secara drastis.
Penjaga Proaktif: Jika mendeteksi ancaman, ia bisa secara otomatis melacak pergerakan penyusup (auto-zoom tracking), memungkinkan pemilik untuk berkomunikasi dua arah, dan yang terpenting, secara aktif menghalau penyusup dengan menyalakan sirene dan lampu strobo.
Pemasangan "mata-mata" digital di setiap sudut lingkungan memang memunculkan diskursus baru tentang privasi.
Namun bagi jutaan warga Indonesia saat ini, ia adalah jawaban yang terjangkau dan efektif untuk merebut kembali kendali atas keamanan ruang hidup mereka di dunia yang semakintakterduga.
Semua terekam jelas oleh sebuah "mata" yang kini ada di mana-mana: kamera CCTV.
Fenomena ini menandai pergeseran sosial mendalam. Kamera pengawas, yang dulu identik dengan bangunan perkantoran megah atau pusat perbelanjaan mewah, kini telah “turun tahta”.
Ia berubah jadi bagian dari lanskap pemukiman, kebutuhan pokok bagi banyak keluarga urban yang mendambakan rasa aman.
Tren yang meroket ini adalah kekuatan pendorong di balik ekspansi agresif para pemain industri keamanan pintar.
EZVIZ, misalnya, baru saja membuka gerai pertamanya di Jawa Timur, tepatnya di Surabaya, untuk menjawab gelombang permintaan yang tak terbendung.
Media Sosial sebagai Katalisator
Menurut Paul Fang, Country Manager EZVIZ Indonesia, ledakan permintaan ini terjadi salah satunya karena media sosial. Medos menjadi etalase paling efektif yang menunjukkan betapa krusialnya peran CCTV di era modern.“Sosial media turut berperan dalam hal ini, karena kita bisa lihat beberapa konten viral peristiwa diambil dari rekaman CCTV, terutama kasus-kasus kejahatan di lingkungan rumah, seperti pencurian. Jadi, masyarakat mulai mencari-cari informasi mengenai CCTV," ungkap Paul Fang.
Data internal EZVIZ pun mengonfirmasi tren ini. Sepanjang periode 2023 hingga 2024, jumlah perangkat aktif mereka di seluruh Indonesia meroket sebesar 50%.
Pertumbuhan inilah yang mendorong mereka untuk membangun "benteng" baru di Surabaya.
“Trennya saat ini di kawasan Jawa Timur, seperti Surabaya juga mengalami peningkatan cukup signifikan. Makanya demi mengantisipasi permintaan dan memberikan pelayanan secara langsung ke masyarakat sekitar, kami hadirkan EZVIZ Store di Surabaya," tambahnya.
Berlokasi di Maspion IT Square, Jl. Ahmad Yani No. 73, gerai ini dirancang bukan hanya untuk berjualan, tetapi juga sebagai pusat konsultasi bagi warga yang ingin mulai mengadopsi teknologi ini.
Bukan Sekadar Perekam: Evolusi CCTV Menjadi Penjaga Pintar
Seiring meningkatnya permintaan, teknologi di dalam CCTV itu sendiri telah juga berevolusi dramatis. Kamera pengawas tahun 2025 bukanlah sekadar perekam pasif yang gambarnya baru dilihat setelah kejadian. Tapi menjadi penjaga pintar yang proaktif.Sebagai contoh, model terlaris EZVIZ untuk segmen perumahan, H8c Pro. Beberapa fiturnya, antara lain:
Mata Elang 360 Derajat: Kamera ini dapat berputar dan memantau seluruh area sekelilingnya (panorama 360 derajat) dan tetap mampu merekam dalam warna bahkan di malam hari (Color Night Vision).
Otak Berbasis AI: Ia tidak lagi hanya merekam gerakan. Kecerdasan Buatan (AI) di dalamnya mampu membedakan antara manusia, kendaraan, dan gerakan lain yang tidak relevan (seperti kucing lewat atau dahan pohon yang bergoyang), mengurangi alarm palsu secara drastis.
Penjaga Proaktif: Jika mendeteksi ancaman, ia bisa secara otomatis melacak pergerakan penyusup (auto-zoom tracking), memungkinkan pemilik untuk berkomunikasi dua arah, dan yang terpenting, secara aktif menghalau penyusup dengan menyalakan sirene dan lampu strobo.
Demokratisasi Rasa Aman
Pada akhirnya, tren ini adalah tentang "demokratisasi rasa aman". Paul Fang menegaskan, "CCTV bukan lagi perangkat yang mahal. Siapa saja bisa mengaplikasikannya di rumah, sesuai dengan kebutuhan dan budget."Pemasangan "mata-mata" digital di setiap sudut lingkungan memang memunculkan diskursus baru tentang privasi.
Namun bagi jutaan warga Indonesia saat ini, ia adalah jawaban yang terjangkau dan efektif untuk merebut kembali kendali atas keamanan ruang hidup mereka di dunia yang semakintakterduga.
(dan)
Lihat Juga :