Di Bawah Bayang-Bayang Tarif Trump, Apple Nekat Naikkan Harga iPhone 17 Pro
Rabu, 10 September 2025 - 10:37 WIB
loading...
CEO Apple Tim Cook dalam peluncuran iPhone 17 di Cupertino, AS, Rabu (9/10) dini hari. Foto: Reuters
A
A
A
CUPERTINO - Peluncuran iPhone 17 baru dibayangi kebijakan tarif Presiden AS Donald Trump yang membebani Apple dengan biaya lebih dari USD1 miliar (sekitar Rp16 triliun) pada kuartal ini.
Pertanyaan yang menggantung di benak Wall Street dan konsumen di seluruh dunia bukanlah "apa yang baru?", melainkan "berapa harganya?". Dan setelah bertahun-tahun menahan diri, Apple akhirnya mengambil langkah berani: menaikkan harga.
Untuk pertama kalinya sejak era iPhone X pada 2017, label harga untuk model Pro ikoniknya resmi terkerek naik.
Namun, ini adalah Apple. Mereka tidak sekadar menaikkan harga; mereka melakukannya dengan sebuah strategi berlapis yang cerdas, "seni" dalam mengelola ekspektasi di tengah badai ekonomi.
"Seni" Menaikkan Harga ala Apple
Langkah Apple bukanlah kenaikan harga serampangan. Ini adalah sebuah operasi yang terkalkulasi dengan presisi.
iPhone 17 Pro kini dibanderol mulai USD1.099 (sekitar Rp17,6 juta), naik USD100 dari harga awal iPhone 16 Pro tahun lalu.
Model "Plus" yang lebih terjangkau seharga USD899 telah dihapus. Posisinya digantikan oleh iPhone 17 Air yang lebih premium dan lebih mahal, dengan harga mulai USD999 (sekitar Rp16 juta).
Ini adalah kenaikan harga secara eksplisit dan implisit. Namun, Apple dengan cerdik "mempermanis" pil pahit ini.
Pertama, harga untuk model dasar iPhone 17 (mulai USD799 atau Rp12,8 juta) dan model tertinggi iPhone 17 Pro Max (mulai USD1.199 atau Rp19,2 juta) tetap sama.
Kedua, dan ini yang paling penting, semua model dasar kini hadir dengan penyimpanan 256 GB, dua kali lipat dari tahun lalu.
Kepala Pemasaran Apple, Greg Joswiak, bahkan membingkai kenaikan harga Pro dengan lihai, "iPhone 17 Pro dimulai dengan harga USD1099, harga hebat yang sama dengan iPhone 16 Pro 256 gigabyte tahun lalu." Sebuah permainan kata yang dirancang untuk meredam dampak psikologis dari kenaikan tersebut.
Analis Tom Mainelli dari IDC melihat ini sebagai langkah strategis. "Mereka memanfaatkan skala mereka untuk mencoba mempertahankan harga di tempat yang mereka bisa," katanya, "Saya pikir Apple sangat sadar bahwa tarif akan memengaruhi kemampuan belanja konsumen."
Dengan bodi super tipis, baterai berdensitas tinggi, dan ditenagai prosesor A19 Pro yang dahsyat, perangkat ini diposisikan sebagai bintang utama.
Tim Millet, salah satu eksekutif chip Apple, mengklaim performanya setara dengan "tingkat komputasi MacBook Pro, di dalam sebuah iPhone." Dengan harga USD999 (Rp16 juta), iPhone Air dirancang untuk menciptakan antusiasme baru yang menurut analis Paolo Pescatore akan "membawa nuansa kebaruan pada jajaran iPhone, yang telah terlihat sama untuk waktu yang terlalu lama."
Di sisi lain, Apple tampak berhati-hati dalam "perang AI". Analis Gadjo Sevilla dari eMarketer mencatat bahwa Apple "menghindari inti dari perlombaan senjata AI sambil memposisikan diri sebagai inovator lama di bidang perangkat keras AI."
Pada akhirnya, strategi Apple untuk lini iPhone 17 adalah sebuah langkah berani yang terkalkulasi. Reaksi pasar saham yang negatif (saham turun 1,6%) menunjukkan adanya kegelisahan investor.
Namun, Apple berhasil berjalan di atas tali, menyeimbangkan tekanan biaya dari tarif dengan kebutuhan untuk tetap kompetitif. Mereka telah menelan sebagian biaya, namun juga secara halus meminta para pengguna setianya, terutama di segmen Pro, untuk ikutberbagibeban.
Pertanyaan yang menggantung di benak Wall Street dan konsumen di seluruh dunia bukanlah "apa yang baru?", melainkan "berapa harganya?". Dan setelah bertahun-tahun menahan diri, Apple akhirnya mengambil langkah berani: menaikkan harga.
Untuk pertama kalinya sejak era iPhone X pada 2017, label harga untuk model Pro ikoniknya resmi terkerek naik.
Namun, ini adalah Apple. Mereka tidak sekadar menaikkan harga; mereka melakukannya dengan sebuah strategi berlapis yang cerdas, "seni" dalam mengelola ekspektasi di tengah badai ekonomi.
"Seni" Menaikkan Harga ala Apple
![Di Bawah Bayang-Bayang Tarif Trump, Apple Nekat Naikkan Harga iPhone 17 Pro]()
Langkah Apple bukanlah kenaikan harga serampangan. Ini adalah sebuah operasi yang terkalkulasi dengan presisi.
iPhone 17 Pro kini dibanderol mulai USD1.099 (sekitar Rp17,6 juta), naik USD100 dari harga awal iPhone 16 Pro tahun lalu.
Model "Plus" yang lebih terjangkau seharga USD899 telah dihapus. Posisinya digantikan oleh iPhone 17 Air yang lebih premium dan lebih mahal, dengan harga mulai USD999 (sekitar Rp16 juta).
Ini adalah kenaikan harga secara eksplisit dan implisit. Namun, Apple dengan cerdik "mempermanis" pil pahit ini.
Pertama, harga untuk model dasar iPhone 17 (mulai USD799 atau Rp12,8 juta) dan model tertinggi iPhone 17 Pro Max (mulai USD1.199 atau Rp19,2 juta) tetap sama.
Kedua, dan ini yang paling penting, semua model dasar kini hadir dengan penyimpanan 256 GB, dua kali lipat dari tahun lalu.
Kepala Pemasaran Apple, Greg Joswiak, bahkan membingkai kenaikan harga Pro dengan lihai, "iPhone 17 Pro dimulai dengan harga USD1099, harga hebat yang sama dengan iPhone 16 Pro 256 gigabyte tahun lalu." Sebuah permainan kata yang dirancang untuk meredam dampak psikologis dari kenaikan tersebut.
Analis Tom Mainelli dari IDC melihat ini sebagai langkah strategis. "Mereka memanfaatkan skala mereka untuk mencoba mempertahankan harga di tempat yang mereka bisa," katanya, "Saya pikir Apple sangat sadar bahwa tarif akan memengaruhi kemampuan belanja konsumen."
Sang Bintang di Tengah Badai Ekonomi
Di tengah drama harga ini, Apple tetap butuh pahlawan untuk memikat konsumen. Pahlawan itu adalah iPhone 17 Air. CEO Tim Cook bahkan menyebutnya sebagai "lompatan terbesar yang pernah ada untuk iPhone."Dengan bodi super tipis, baterai berdensitas tinggi, dan ditenagai prosesor A19 Pro yang dahsyat, perangkat ini diposisikan sebagai bintang utama.
Tim Millet, salah satu eksekutif chip Apple, mengklaim performanya setara dengan "tingkat komputasi MacBook Pro, di dalam sebuah iPhone." Dengan harga USD999 (Rp16 juta), iPhone Air dirancang untuk menciptakan antusiasme baru yang menurut analis Paolo Pescatore akan "membawa nuansa kebaruan pada jajaran iPhone, yang telah terlihat sama untuk waktu yang terlalu lama."
Pertarungan di Balik Layar
Keputusan harga ini tidak hanya dipengaruhi oleh tarif. Ini juga merupakan respons terhadap tekanan kompetitif global dan upaya efisiensi internal. Apple secara diam-diam telah mengalihkan sebagian besar rantai pasokannya ke India untuk menghindari tarif tertinggi yang dikenakan pada barang-barang dari Tiongkok.Di sisi lain, Apple tampak berhati-hati dalam "perang AI". Analis Gadjo Sevilla dari eMarketer mencatat bahwa Apple "menghindari inti dari perlombaan senjata AI sambil memposisikan diri sebagai inovator lama di bidang perangkat keras AI."
Pada akhirnya, strategi Apple untuk lini iPhone 17 adalah sebuah langkah berani yang terkalkulasi. Reaksi pasar saham yang negatif (saham turun 1,6%) menunjukkan adanya kegelisahan investor.
Namun, Apple berhasil berjalan di atas tali, menyeimbangkan tekanan biaya dari tarif dengan kebutuhan untuk tetap kompetitif. Mereka telah menelan sebagian biaya, namun juga secara halus meminta para pengguna setianya, terutama di segmen Pro, untuk ikutberbagibeban.
(dan)
Lihat Juga :