Paradoks Laptop Murah: Mengapa Chromebook yang Merajai Sekolah Negara Maju Justru Melukai Pendidikan di Indonesia?
Sabtu, 06 September 2025 - 10:30 WIB
loading...
A
A
A
Namun, "murah" adalah konsep yang relatif. Bagi banyak keluarga di Indonesia, angka tersebut setara dengan pendapatan sebulan penuh.
Ketika sebuah keluarga berhasil mengumpulkan dana untuk membeli satu komputer, prioritas utamanya adalah fungsionalitas.
Mereka membutuhkan perangkat yang bisa diandalkan, terutama saat offline. Sebuah laptop Windows bekas atau kelas pemula, meskipun lebih lambat, menawarkan fleksibilitas yang tidak dimiliki Chromebook: kemampuan untuk menginstal berbagai aplikasi, menyimpan materi pelajaran secara lokal, dan bekerja penuh tanpa koneksi internet.
Pada akhirnya, Chromebook adalah alat yang dirancang untuk ekosistem yang mapan—infrastruktur internet yang merata, daya beli yang stabil, dan dukungan teknis yang mudah diakses.
Memaksakan adopsinya di Indonesia tanpa menyelesaikan masalah fundamental konektivitas adalah seperti memberikan mobil balap kepada seseorang yang tidak memiliki jalan raya.
Alih-alih menjadi solusi, ia berisiko menjadi simbol ketidaksetaraan digital yang semakin dalam, meninggalkan siswa-siswa di wilayah paling rentan semakin jauhtertinggal.
Ketika sebuah keluarga berhasil mengumpulkan dana untuk membeli satu komputer, prioritas utamanya adalah fungsionalitas.
Mereka membutuhkan perangkat yang bisa diandalkan, terutama saat offline. Sebuah laptop Windows bekas atau kelas pemula, meskipun lebih lambat, menawarkan fleksibilitas yang tidak dimiliki Chromebook: kemampuan untuk menginstal berbagai aplikasi, menyimpan materi pelajaran secara lokal, dan bekerja penuh tanpa koneksi internet.
Pada akhirnya, Chromebook adalah alat yang dirancang untuk ekosistem yang mapan—infrastruktur internet yang merata, daya beli yang stabil, dan dukungan teknis yang mudah diakses.
Memaksakan adopsinya di Indonesia tanpa menyelesaikan masalah fundamental konektivitas adalah seperti memberikan mobil balap kepada seseorang yang tidak memiliki jalan raya.
Alih-alih menjadi solusi, ia berisiko menjadi simbol ketidaksetaraan digital yang semakin dalam, meninggalkan siswa-siswa di wilayah paling rentan semakin jauhtertinggal.
(dan)
Lihat Juga :