Valuasi Induk TikTok Rp5.148 Triliun, Lebih Besar dari APBN Indonesia 2025 tapi Jauh Lebih Kecil dari Meta
Jum'at, 29 Agustus 2025 - 10:55 WIB
loading...
A
A
A
Jawabannya terletak pada "penyakit kronis" yang terus menggerogoti mereka: tekanan politik tanpa henti dari pemerintah Amerika Serikat untuk menjual paksa operasional TikTok di sana.
Undang-undang yang disahkan Kongres AS memberi ByteDance tenggat waktu hingga 19 Januari 2025 (yang kini diperpanjang hingga 17 September) untuk melepaskan aset TikTok US yang memiliki 170 juta pengguna.
Ancaman pemblokiran total di pasar AS ini adalah awan kelabu raksasa yang membuat para investor global menahan diri, secara efektif menekan nilai valuasi perusahaan secara drastis.
Artinya, ByteDance kini dipaksa untuk menjual "anak emas"-nya yang paling terkenal, meskipun anak itu sebenarnya belum memberikan keuntungan.
Secara finansial, ByteDance adalah monster. Tapi di mata Washington, mereka adalah ancaman keamanan nasional. Valuasi ByteDance yang tertekan bukanlah cerminan dari kinerja bisnisnya, melainkan cerminan dari risiko geopolitiknya.
Undang-undang yang disahkan Kongres AS memberi ByteDance tenggat waktu hingga 19 Januari 2025 (yang kini diperpanjang hingga 17 September) untuk melepaskan aset TikTok US yang memiliki 170 juta pengguna.
Ancaman pemblokiran total di pasar AS ini adalah awan kelabu raksasa yang membuat para investor global menahan diri, secara efektif menekan nilai valuasi perusahaan secara drastis.
'Anak Emas' yang Justru Merugi
Lebih ironis lagi, operasional TikTok di AS—yang menjadi sumber segala masalah politik ini—ternyata hingga saat ini masih merugi. Mesin pencetak uang ByteDance yang sesungguhnya berada di China (melalui Douyin) dan pasar global lainnya.Artinya, ByteDance kini dipaksa untuk menjual "anak emas"-nya yang paling terkenal, meskipun anak itu sebenarnya belum memberikan keuntungan.
Secara finansial, ByteDance adalah monster. Tapi di mata Washington, mereka adalah ancaman keamanan nasional. Valuasi ByteDance yang tertekan bukanlah cerminan dari kinerja bisnisnya, melainkan cerminan dari risiko geopolitiknya.
Lihat Juga :