Gemuk Tapi Belum Sehat? XLSMART Pamer Angka Jumbo Pasca-Merger, Namun Dihantui Beban Biaya dan ARPU Stagnan
Rabu, 27 Agustus 2025 - 15:38 WIB
loading...
A
A
A
Di sinilah potret sebenarnya mulai terlihat. Di tengah ledakan jumlah pelanggan, pendapatan rata-rata per pengguna atau Average Revenue Per User (ARPU) justru mandek di angka Rp 36 ribu. Angka ini menjadi sorotan kritis.
Artinya, meski XLSMART berhasil 'mengakuisisi' puluhan juta pelanggan baru dari merger, perusahaan belum mampu meyakinkan setiap pelanggan untuk membelanjakan lebih banyak uang.
![Gemuk Tapi Belum Sehat? XLSMART Pamer Angka Jumbo Pasca-Merger, Namun Dihantui Beban Biaya dan ARPU Stagnan]()
Perang harga yang brutal tampaknya masih menjadi hantu yang sulit diusir.
Tantangan tak berhenti di situ. Laporan keuangan juga menunjukkan "pembengkakan" di sisi pengeluaran. Perusahaan secara terbuka menyatakan adanya peningkatan beban biaya operasional sebagai imbas langsung dari proses merger. Biaya infrastruktur, interkoneksi, hingga biaya regulasi semuanya naik.
Ini adalah tagihan yang harus dibayar untuk menyatukan dua entitas raksasa, sebuah proses yang terbukti mahal dan rumit.
Secara keseluruhan, beban biaya ini menekan laba bersih yang dinormalisasi ke angka Rp 313 miliar.
Sebuah angka profit yang terlihat kecil jika dibandingkan dengan total pendapatan yang mencapai lebih dari Rp 10 triliun.
Ditambah lagi, posisi utang kotor perusahaan tercatat sebesar Rp23,19 triliun, sebuah angka masif yang menjadi pengingat bahwa fondasi finansial sang raksasa masih menanggung beban berat.
Artinya, meski XLSMART berhasil 'mengakuisisi' puluhan juta pelanggan baru dari merger, perusahaan belum mampu meyakinkan setiap pelanggan untuk membelanjakan lebih banyak uang.

Perang harga yang brutal tampaknya masih menjadi hantu yang sulit diusir.
Tantangan tak berhenti di situ. Laporan keuangan juga menunjukkan "pembengkakan" di sisi pengeluaran. Perusahaan secara terbuka menyatakan adanya peningkatan beban biaya operasional sebagai imbas langsung dari proses merger. Biaya infrastruktur, interkoneksi, hingga biaya regulasi semuanya naik.
Ini adalah tagihan yang harus dibayar untuk menyatukan dua entitas raksasa, sebuah proses yang terbukti mahal dan rumit.
Secara keseluruhan, beban biaya ini menekan laba bersih yang dinormalisasi ke angka Rp 313 miliar.
Sebuah angka profit yang terlihat kecil jika dibandingkan dengan total pendapatan yang mencapai lebih dari Rp 10 triliun.
Ditambah lagi, posisi utang kotor perusahaan tercatat sebesar Rp23,19 triliun, sebuah angka masif yang menjadi pengingat bahwa fondasi finansial sang raksasa masih menanggung beban berat.
Lihat Juga :