Elon Musk Ngamuk, Gugat Apple & OpenAI Atas Konspirasi Monopoli AI

Rabu, 27 Agustus 2025 - 08:01 WIB
loading...
Elon Musk Ngamuk, Gugat...
Elon Musk menganggap kerjasama antara Apple dan OpenAI tidak adil bagi kompetisi kecerdasan buatan. Foto: Reuters
A A A
AMERIKA - Elon Musk, sang miliarder eksentrik, resmi mendeklarasikan perang terhadap dua raksasa paling berpengaruh di planet ini: Apple dan OpenAI.

Lewat gugatan hukum, Musk menuduh keduanya telah bersekongkol untuk menciptakan "monopoli ilegal" dalam perlombaan kecerdasan buatan (AI).

Ini adalah perebutan takhta atas bagaimana miliaran manusia akan berinteraksi dengan AI di masa depan, dengan iPhone sebagai gerbang utamanya.

Kekesalan Elon Musk: 'Permainan Curang' di App Store

Apa yang membuat Elon Musk begitu murka? Jawabannya terletak pada kesepakatan raksasa antara Apple dan OpenAI untuk menanamkan ChatGPT secara langsung ke dalam sistem operasi iPhone melalui fitur Apple Intelligence.

Menurut gugatan yang diajukan oleh perusahaan Musk, X Corp. dan xAI, langkah ini adalah sebuah "permainan curang" yang dirancang untuk membunuh semua pesaing.

Musk berargumen bahwa dengan menjadikan ChatGPT sebagai chatbot bawaan, Apple secara efektif membuat para pengguna iPhone "tidak punya alasan" untuk mengunduh aplikasi AI lain, termasuk chatbot Grok milik Musk.

“Apple dan OpenAI telah mengunci pasar untuk mempertahankan monopoli mereka dan mencegah para inovator seperti X dan xAI untuk bersaing,” tuduh gugatan tersebut.

Kekesalan Musk sebenarnya sudah mendidih sejak awal bulan ini, saat ia secara terbuka menuduh Apple telah "merekayasa" peringkat di App Store.

“Apple berperilaku dengan cara yang membuat mustahil bagi perusahaan AI manapun selain OpenAI untuk mencapai peringkat #1 di App Store, yang merupakan pelanggaran antimonopoli yang tegas,” ujar Musk saat itu.

'Bukti' di Etalase Digital

Gugatan Musk menyajikan "bukti" spesifik. Pada 24 Agustus 2025, di bagian "Must-Have Apps" di App Store, ChatGPT diduga menjadi "satu-satunya" chatbot AI yang ditampilkan. Bagi Musk, ini adalah bukti nyata adanya favoritisme yang disengaja.

Lebih jauh lagi, gugatan tersebut menuduh bahwa kemitraan ini menciptakan sebuah "parit pelindung" (moat) bagi OpenAI. Dengan akses eksklusif ke "miliaran permintaan pengguna yang berasal dari ratusan juta iPhone," OpenAI dituduh mendapatkan keuntungan data yang tidak adil, yang bisa mereka gunakan untuk melatih dan menyempurnakan model AI mereka, meninggalkan para pesaing jauh di belakang.

Serangan Balik yang Dingin dan Tajam

Menanggapi deklarasi perang ini, OpenAI memberikan jawaban yang singkat, dingin, dan sangat tajam.

“Gugatan terbaru ini konsisten dengan pola pelecehan (harassment) yang terus-menerus dilakukan oleh Elon Musk,” ujar juru bicara OpenAI, Kayla Wood, dalam sebuah pernyataan email.

Sementara itu, Apple sebelumnya telah membantah tuduhan Musk dengan menyatakan bahwa toko aplikasi mereka "dirancang untuk adil dan bebas dari bias."

Tentu saja, wajar jika Elon Musk mencak-mencak. Siapa pun yang menguasai aliran data dari ratusan juta pengguna iPhone, dialah yang akan memenangkan perang AI.

Musk tahu itu. Gugatannya adalah upaya putus asa untuk mendobrak gerbang kerajaan digital yang kini dijaga bersama oleh Apple dan OpenAI. Ini adalah pertarungan untuk masa depan internet itu sendiri.

Pada akhirnya, gugatan Elon Musk ini adalah babak baru yang dramatis dalam perang AI. Ini adalah pertarungan antara seorang visioner yang merasa dikhianati (Musk adalah salah satu pendiri awal OpenAI) melawan aliansi dua raksasa yang kini menguasai gerbang menuju konsumen.

Hasil dari pertempuran hukum ini tidak hanya akan menentukan nasib chatbot Grok, tetapi juga akan membentuk lanskap kompetisi AI untuk dekademendatang.
(dan)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Apple Setuju Berkolaborasi...
Apple Setuju Berkolaborasi dengan Intel untuk Merancang dan Memproduksi Chip
Mengapa iPhone 11 Masih...
Mengapa iPhone 11 Masih Didukung iOS 27? Ini Jawabannya
Resmi Melantai, IPO...
Resmi Melantai, IPO SpaceX Cetak Sejarah dan Jadikan Elon Musk Triliuner Dunia Pertama
Mengenal Siri AI di...
Mengenal Siri AI di WWDC 2026 dan Apa Saja Fitur Barunya?
X Luncurkan Fitur Reaksi...
X Luncurkan Fitur Reaksi Video untuk Pengguna iOS
Ambisi Gila IPO SpaceX:...
Ambisi Gila IPO SpaceX: Kejar Rp1.350 Triliun dalam Semalam
Gunakan Mode Autopilot,...
Gunakan Mode Autopilot, Mobil Tesla Ini Malah Tabrak Rumah dan Tewaskan Penghuninya
Apple Gandeng Intel...
Apple Gandeng Intel Bikin Chip di AS: Apa Dampaknya buat Konsumen?
AS Ternyata Gunakan...
AS Ternyata Gunakan AI Grok Elon Musk untuk Tembakkan 2.000 Rudal ke Iran
Rekomendasi
Adhyaksa FC Pindah Homebase...
Adhyaksa FC Pindah Homebase ke Kalimantan Tengah, Buka Peluang Ganti Nama Jadi Kalteng FC
MLSC All-Stars 2026:...
MLSC All-Stars 2026: 12 Tim Terbaik Siap Berebut Gelar Juara di Kudus
Panji Bangsa Tegaskan...
Panji Bangsa Tegaskan Politik Kemanusiaan, Rayakan Harlah dengan Santuni Ratusan Yatim
Berita Terkini
Review ASUS ExpertBook...
Review ASUS ExpertBook P3 P3405 dari Sisi Performa dan Desain
Apple Setuju Berkolaborasi...
Apple Setuju Berkolaborasi dengan Intel untuk Merancang dan Memproduksi Chip
Ilmuwan Temukan Pemangsa...
Ilmuwan Temukan Pemangsa Jamur Zombie Cordyceps The Last of Us di Hutan Kalimantan
China Kenalkan Senjata...
China Kenalkan Senjata Laser Genggam Lijian untuk Jatuhkan Drone
AI Impact Challenge,...
AI Impact Challenge, Microsoft, Komdigi, dan Dicoding Tampilkan Karya AI Terbaik Lulusan METC
Kedaulatan Digital Jadi...
Kedaulatan Digital Jadi Sorotan, Solusi AI Terintegrasi Siap Percepat Transformasi Industri
Infografis
5 Alasan Tom Lembong...
5 Alasan Tom Lembong Ajukan Banding atas Vonis 4,5 Tahun Penjara
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved