Insta360 Go Ultra Meluncur: Inovasi Mahal yang Mulai Kehilangan Jati Diri?
Jum'at, 22 Agustus 2025 - 12:48 WIB
loading...
Insta360 Go Ultra memberikan banyak ubahan lebih baik, seperti sensor dan selot memori, tapi juga harga lebih mahal dan ukuran lebih besar. Foto: Insta360
A
A
A
JAKARTA - Insta360, merek yang beberapa tahun lalu menggebrak pasar dengan kamera aksi mungil berbentuk kapsul, kini mengambil langkah dramatis yang memicu perdebatan.
Mereka baru saja meluncurkan Insta360 Go Ultra, sebuah penerus yang meninggalkan desain ikoniknya, menaikkan harganya secara signifikan, dan seolah bertanya kepada para penggemarnya: apakah sebuah inovasi layak dibayar dengan hilangnya sebuah identitas?
![Insta360 Go Ultra Meluncur: Inovasi Mahal yang Mulai Kehilangan Jati Diri?]()
Secara teknis, Go Ultra memang menawarkan lompatan yang mengesankan. Kamera ini kini mampu merekam video 4K pada 60fps, dua kali lipat dari pendahulunya, dan didukung oleh sensor 1/1.28-inci yang lebih besar untuk performa lebih baik di kondisi minim cahaya.
Fitur yang paling ditunggu-tunggu, slot kartu memori microSD yang bisa diganti hingga 2TB, akhirnya hadir, membebaskan pengguna dari keterbatasan memori internal.
Namun, semua peningkatan ini datang dengan harga yang "mencekik". Dibanderol USD449.99 USD atau setara Rp7 jutaan (kurs Rp15.600), Go Ultra menjadi kamera 'Go' termahal yang pernah ada.
Angka ini melonjak tajam dari para pendahulunya, seperti Go 2 yang dulu meluncur di angka USD299 USD. Paket Creator Bundle-nya bahkan menembus USD499.99 USD atau sekitar Rp7,8 jutaan.
![Insta360 Go Ultra Meluncur: Inovasi Mahal yang Mulai Kehilangan Jati Diri?]()
Perubahan paling radikal terletak pada desainnya. Bentuk kapsul yang unik dan praktis kini digantikan oleh desain kotak yang lebih generik, dengan lensa yang ditempatkan di pojok. Konsekuensinya, kamera ini menjadi lebih berat sekitar 14 gram dan secara visual lebih sulit untuk menentukan orientasi video—apakah sedang merekam potret atau lanskap.
Hanya saja, Insta360 tampaknya berada di persimpangan jalan dengan Go Ultra. Di satu sisi, spesifikasinya memang mengesankan. Namun di sisi lain, kenaikan harga yang signifikan dan perubahan desain yang radikal membuatnya kehilangan pesona 'kecil dan simpel' yang menjadi daya tarik utamanya.
Mereka berisiko mengubah produk unik menjadi sekadar kamera aksi kecil lain dengan harga premium, bersaing langsung dengan pemain besar di arena yang sudah padat.
![Insta360 Go Ultra Meluncur: Inovasi Mahal yang Mulai Kehilangan Jati Diri?]()
Kritik lain tertuju pada klaim daya tahan baterai. Insta360 menjanjikan baterai 500mAh ini bisa merekam hingga 70 menit, atau 200 menit dengan Action Pod.
Namun, perlu dicatat bahwa angka fantastis ini dicapai dalam kondisi sangat ideal pada resolusi rendah 1080p/24fps dengan layar mati. Realitanya, saat digunakan untuk merekam pada format andalannya, 4K/60fps, daya tahan baterainya sudah pasti akan jauh lebih singkat.
Pada akhirnya, Insta360 Go Ultra adalah sebuah produk yang penuh paradoks. Ia lebih kuat, lebih fleksibel, namun juga lebih mahal, lebih berat, dan bisa dibilang... lebih membosankan. Pertanyaannya kini, apakah konsumen bersedia membayar lebih mahal untuk sebuah "evolusi" yang justru terasa seperti kehilanganjiwaaslinya?
Mereka baru saja meluncurkan Insta360 Go Ultra, sebuah penerus yang meninggalkan desain ikoniknya, menaikkan harganya secara signifikan, dan seolah bertanya kepada para penggemarnya: apakah sebuah inovasi layak dibayar dengan hilangnya sebuah identitas?

Secara teknis, Go Ultra memang menawarkan lompatan yang mengesankan. Kamera ini kini mampu merekam video 4K pada 60fps, dua kali lipat dari pendahulunya, dan didukung oleh sensor 1/1.28-inci yang lebih besar untuk performa lebih baik di kondisi minim cahaya.
Fitur yang paling ditunggu-tunggu, slot kartu memori microSD yang bisa diganti hingga 2TB, akhirnya hadir, membebaskan pengguna dari keterbatasan memori internal.
Namun, semua peningkatan ini datang dengan harga yang "mencekik". Dibanderol USD449.99 USD atau setara Rp7 jutaan (kurs Rp15.600), Go Ultra menjadi kamera 'Go' termahal yang pernah ada.
Angka ini melonjak tajam dari para pendahulunya, seperti Go 2 yang dulu meluncur di angka USD299 USD. Paket Creator Bundle-nya bahkan menembus USD499.99 USD atau sekitar Rp7,8 jutaan.

Perubahan paling radikal terletak pada desainnya. Bentuk kapsul yang unik dan praktis kini digantikan oleh desain kotak yang lebih generik, dengan lensa yang ditempatkan di pojok. Konsekuensinya, kamera ini menjadi lebih berat sekitar 14 gram dan secara visual lebih sulit untuk menentukan orientasi video—apakah sedang merekam potret atau lanskap.
Hanya saja, Insta360 tampaknya berada di persimpangan jalan dengan Go Ultra. Di satu sisi, spesifikasinya memang mengesankan. Namun di sisi lain, kenaikan harga yang signifikan dan perubahan desain yang radikal membuatnya kehilangan pesona 'kecil dan simpel' yang menjadi daya tarik utamanya.
Mereka berisiko mengubah produk unik menjadi sekadar kamera aksi kecil lain dengan harga premium, bersaing langsung dengan pemain besar di arena yang sudah padat.

Kritik lain tertuju pada klaim daya tahan baterai. Insta360 menjanjikan baterai 500mAh ini bisa merekam hingga 70 menit, atau 200 menit dengan Action Pod.
Namun, perlu dicatat bahwa angka fantastis ini dicapai dalam kondisi sangat ideal pada resolusi rendah 1080p/24fps dengan layar mati. Realitanya, saat digunakan untuk merekam pada format andalannya, 4K/60fps, daya tahan baterainya sudah pasti akan jauh lebih singkat.
Pada akhirnya, Insta360 Go Ultra adalah sebuah produk yang penuh paradoks. Ia lebih kuat, lebih fleksibel, namun juga lebih mahal, lebih berat, dan bisa dibilang... lebih membosankan. Pertanyaannya kini, apakah konsumen bersedia membayar lebih mahal untuk sebuah "evolusi" yang justru terasa seperti kehilanganjiwaaslinya?
(dan)
Lihat Juga :