Badai Koreksi Menerpa Bitcoin, Investor Ritel Panik Jual, Para Paus Justru Serok Cuan
Rabu, 20 Agustus 2025 - 11:18 WIB
loading...
Harga Bitcoin terus terkoreksi dan menimbulkan reaksi beragam dari pasar. Foto: Reuters
A
A
A
JAKARTA - Layar para investor kripto memerah pada Selasa pagi (19/8/2025). Setelah berpesta pora merayakan rekor tertinggi baru pekan lalu, Bitcoin (BTC) kini terjun ke level USD116.400 atau sekitar Rp1,88 miliar per koin.
Kepanikan mulai terasa di kalangan investor ritel yang berbondong-bondong melakukan aksi jual untuk mengamankan keuntungan (profit taking).
Namun, di tengah badai koreksi ini, sebuah pemandangan kontras yang dramatis terjadi. Saat para "ikan teri" ketakutan dan melepas aset mereka, para "paus" alias investor korporat raksasa justru membuka mulut lebar-lebar dan menyerok Bitcoin dalam jumlah masif. Ini adalah sebuah pertarungan senyap antara rasa takut jangka pendek dan keyakinan jangka panjang.
Menurut analisis Panji Yudha, Financial Expert dari Ajaib, pasar kini berada dalam mode menunggu. Semua mata tertuju pada satu orang: Ketua Bank Sentral Amerika Serikat, Jerome Powell, yang akan berpidato di pertemuan penting para bankir di Jackson Hole, Jumat mendatang. Sepatah katanya bisa menjadi bensin yang memacu reli baru, atau justru air yang memadamkan api pesta.
Langkah ini menambah koleksi mereka menjadi 629.376 BTC. Sebuah angka yang fantastis, mengingat harga beli rata-rata mereka hanya USD73.320 per koin. Ini menunjukkan keuntungan di atas kertas yang luar biasa besar dan menjadi kritik tajam betapa pasar ini sangat dipengaruhi oleh segelintir pemain besar.
Tak mau ketinggalan, Metaplanet, "MicroStrategy-nya Jepang," juga ikut berbelanja. Mereka baru saja menggelontorkan Rp 1,5 triliun (USD93 juta) untuk membeli 775 BTC. Total kepemilikan mereka kini mencapai 18.888 BTC, menegaskan strategi mereka untuk menjadikan Bitcoin sebagai aset cadangan utama.
"Pembelian dilakukan di kisaran harga rata-rata USD120.006 per BTC," ungkap CEO Metaplanet, Simon Gerovich, dalam sebuah pernyataan yang seolah berkata, "kami tidak takut dengan penurunan ini."
Bagi investor, ETF ini ibarat sebuah jembatan yang akan menghubungkan dana-dana raksasa dari investor tradisional ke dunia kripto. Penundaan yang berlarut-larut dari SEC ini menjadi semacam "rem tangan" yang menahan laju pasar dan menciptakan ketidakpastian yang merugikan investor kecil.
Pertanyaan besarnya kini adalah: Apakah badai koreksi ini hanyalah sebuah jeda singkat sebelum Bitcoin kembali meroket menuju level psikologis USD120.000? Ataukah ini pertanda awal dari musim dingin kripto yang lebih panjang?
Untuk saat ini, pasar masih terbelah. Investor ritel memilih bermain aman, sementara para paus terus mengakumulasi kekayaan. Nasib pasar dalam beberapa hari ke depan tampaknya berada di tangan para bankir sentral dan regulator yang masihragu-ragu.
Kepanikan mulai terasa di kalangan investor ritel yang berbondong-bondong melakukan aksi jual untuk mengamankan keuntungan (profit taking).
Namun, di tengah badai koreksi ini, sebuah pemandangan kontras yang dramatis terjadi. Saat para "ikan teri" ketakutan dan melepas aset mereka, para "paus" alias investor korporat raksasa justru membuka mulut lebar-lebar dan menyerok Bitcoin dalam jumlah masif. Ini adalah sebuah pertarungan senyap antara rasa takut jangka pendek dan keyakinan jangka panjang.
Menurut analisis Panji Yudha, Financial Expert dari Ajaib, pasar kini berada dalam mode menunggu. Semua mata tertuju pada satu orang: Ketua Bank Sentral Amerika Serikat, Jerome Powell, yang akan berpidato di pertemuan penting para bankir di Jackson Hole, Jumat mendatang. Sepatah katanya bisa menjadi bensin yang memacu reli baru, atau justru air yang memadamkan api pesta.
Saat Teri Menjual, Paus Memborong
Di saat pasar bergejolak, dua nama besar menunjukkan keyakinan mereka yang tak tergoyahkan. MicroStrategy, perusahaan publik dengan kepemilikan Bitcoin terbesar di dunia, kembali memborong 430 BTC dengan harga rata-rata USD119.666 per koin.Langkah ini menambah koleksi mereka menjadi 629.376 BTC. Sebuah angka yang fantastis, mengingat harga beli rata-rata mereka hanya USD73.320 per koin. Ini menunjukkan keuntungan di atas kertas yang luar biasa besar dan menjadi kritik tajam betapa pasar ini sangat dipengaruhi oleh segelintir pemain besar.
Tak mau ketinggalan, Metaplanet, "MicroStrategy-nya Jepang," juga ikut berbelanja. Mereka baru saja menggelontorkan Rp 1,5 triliun (USD93 juta) untuk membeli 775 BTC. Total kepemilikan mereka kini mencapai 18.888 BTC, menegaskan strategi mereka untuk menjadikan Bitcoin sebagai aset cadangan utama.
"Pembelian dilakukan di kisaran harga rata-rata USD120.006 per BTC," ungkap CEO Metaplanet, Simon Gerovich, dalam sebuah pernyataan yang seolah berkata, "kami tidak takut dengan penurunan ini."
Wasit Masih Ragu-Ragu, Pasar Menunggu
Di sisi lain, "wasit" pasar, yakni Komisi Sekuritas dan Bursa AS (SEC), kembali meniup peluit penundaan. Keputusan untuk beberapa produk investasi kripto yang ditunggu-tunggu—seperti ETF Bitcoin-Ethereum dan ETF Solana—kembali diundur hingga Oktober.Bagi investor, ETF ini ibarat sebuah jembatan yang akan menghubungkan dana-dana raksasa dari investor tradisional ke dunia kripto. Penundaan yang berlarut-larut dari SEC ini menjadi semacam "rem tangan" yang menahan laju pasar dan menciptakan ketidakpastian yang merugikan investor kecil.
Badai Sesaat atau Awal Musim Dingin?
Meskipun Bitcoin terkoreksi, secara year-to-date nilainya masih mencatatkan kenaikan impresif sebesar 23%. Panji Yudha memprediksi Bitcoin akan bergerak di kisaran USD112.000 - USD118.000.Pertanyaan besarnya kini adalah: Apakah badai koreksi ini hanyalah sebuah jeda singkat sebelum Bitcoin kembali meroket menuju level psikologis USD120.000? Ataukah ini pertanda awal dari musim dingin kripto yang lebih panjang?
Untuk saat ini, pasar masih terbelah. Investor ritel memilih bermain aman, sementara para paus terus mengakumulasi kekayaan. Nasib pasar dalam beberapa hari ke depan tampaknya berada di tangan para bankir sentral dan regulator yang masihragu-ragu.
(dan)
Lihat Juga :