Laba-laba Laut Ini Mampu Bertahan Hidup dengan Beternak Bakteri Pemakan Metana di Tubuhnya
Jum'at, 08 Agustus 2025 - 08:06 WIB
loading...
Penemuan ini menjadi pengingat bahwa di kedalaman lautan yang misterius, kehidupan menemukan cara-cara yang paling tidak terduga untuk berkembang. Foto: ist
A
A
A
JAKARTA - Jauh di dasar Samudra Pasifik yang gelap dan dingin, di mana cahaya matahari tak pernah menembus, sebuah ekosistem unik tersembunyi dari pandangan manusia.
Di lingkungan ekstrem inilah para ilmuwan menemukan sebuah strategi bertahan hidup yang luar biasa pada makhluk seukuran penghapus pensil: laba-laba laut.
Dalam sebuah penelitian yang dipimpin oleh ahli biologi kelautan Shana Goffredi dari Occidental College, timnya menemukan tiga spesies baru laba-laba laut dari genus Sericosura.
Penemuan ini terjadi di sebuah rembesan metana di lepas pantai California Selatan pada kedalaman hampir 3.350 kaki (1021 meter). Makhluk-makhluk ini telah berevolusi untuk tidak hanya bertahan hidup, tetapi juga berkembang biak dengan mengonsumsi gas rumah kaca metana.
Inti dari penemuan tersebut adalah sebuah simbiosis yang belum pernah teramati sebelumnya pada hewan jenis ini. Laba-laba laut itu tidak berburu atau menyaring makanan seperti penghuni laut dalam lainnya.
Sebaliknya, mereka secara aktif "beternak" dan memanen lapisan bakteri yang menutupi seluruh anggota tubuh mereka, di mana bakteri inilah yang mengubah metana menjadi sumber nutrisi.
Sebuah 'Peternakan' Mikro di Sekujur Tubuh
Di bawah mikroskop elektron, setiap kaki laba-laba laut ini tampak seperti batu pasir kasar yang dipenuhi ribuan lubang kecil menyerupai kawah gunung berapi. Setiap kawah ini menjadi rumah bagi gumpalan sel bakteri methanotroph yang terbungkus dalam gel lengket.
Melalui pencitraan NanoSIMS, para peneliti mengamati bakteri ini dengan rakus mengonsumsi metana berlabel karbon berat dan berkembang biak dengan cepat.
Yang lebih mengejutkan, tim peneliti menemukan bekas gigitan yang jelas pada lapisan bakteri, yang cocok dengan mulut fleksibel laba-laba tersebut. Hal ini membuktikan bahwa laba-laba secara aktif memakan bakteri yang tumbuh di tubuhnya sendiri.
“Sama seperti Anda memakan telur untuk sarapan, laba-laba laut merumput di permukaan tubuhnya, dan ia mengunyah semua bakteri itu untuk nutrisi”, kata Goffredi.
Sistem Simbiosis Bertingkat yang Diwariskan
Sistem "peternakan" ini bahkan lebih kompleks dari yang terlihat. Bakteri utama, methanotroph, mengoksidasi metana dan melepaskan karbon dioksida serta sedikit metanol sebagai produk sampingan. Kemudian, bakteri sekunder pada tubuh laba-laba, terutama dari keluarga Methylophagaceae, mengonsumsi metanol tersebut, menciptakan sistem pertanian dua tingkat yang mirip dengan yang ditemukan pada cacing tabung dan kepiting yeti di laut dalam.
Lebih jauh lagi, tim Goffredi memperhatikan bahwa kantung telur yang dibawa oleh laba-laba jantan juga dilapisi oleh campuran bakteri yang sama. Ini menunjukkan bahwa induk laba-laba "mewariskan" sumber makanan ini kepada anak-anaknya bahkan sebelum mereka menetas.
Nicole Dubilier, seorang ahli simbiosis dari Max Planck yang meninjau data tersebut, berkomentar, “Bahkan jika 80 persen dari populasi dimakan, itu sepadan bagi 20 persen yang tersisa untuk terus bertahan hidup dan bereproduksi,”.
Dampak Global dari Petani Mikro di Dasar Laut
Penemuan bahwa laba-laba laut merumput di tubuhnya sendiri untuk mendapatkan bahan bakar membuka sebuah jalur yang selama ini terlewatkan dalam siklus karbon global. Hingga kini, sebagian besar ekosistem yang ditenagai metana dianggap bergantung pada symbionts internal atau mikroba yang tinggal di sedimen, bukan hewan yang secara aktif beternak bakteri di kulit mereka.
Karena rembesan metana membentang ribuan mil di sepanjang garis pantai, para perumput berukuran kecil seperti Sericosura secara kolektif dapat memproses sejumlah besar gas sebelum gas tersebut lolos ke atmosfer. Hal ini menambah sebuah perspektif baru tentang bagaimana para ilmuwan memodelkan fluks metana di sistem samudra dan dapat memengaruhi cara zona konservasi di masa depan ditentukan.
Penemuan Sericosura ini menjadi pengingat bahwa di kedalaman lautan yang misterius, kehidupan menemukan cara-cara yang paling tidak terduga untuk berkembang.
Makhluk-makhluk mungil ini, dengan strategi bertahan hidupnya yang unik, ternyata memainkan peran penting dalam kesehatan ekosistem planet kita, membuktikan bahwa melindungi bentuk kehidupan yang paling tidak dikenal sekalipun dapat memberikan manfaat yang jauh melampaui habitat mereka yang gelap dan bertekanantinggi.
Di lingkungan ekstrem inilah para ilmuwan menemukan sebuah strategi bertahan hidup yang luar biasa pada makhluk seukuran penghapus pensil: laba-laba laut.
Dalam sebuah penelitian yang dipimpin oleh ahli biologi kelautan Shana Goffredi dari Occidental College, timnya menemukan tiga spesies baru laba-laba laut dari genus Sericosura.
Penemuan ini terjadi di sebuah rembesan metana di lepas pantai California Selatan pada kedalaman hampir 3.350 kaki (1021 meter). Makhluk-makhluk ini telah berevolusi untuk tidak hanya bertahan hidup, tetapi juga berkembang biak dengan mengonsumsi gas rumah kaca metana.
Inti dari penemuan tersebut adalah sebuah simbiosis yang belum pernah teramati sebelumnya pada hewan jenis ini. Laba-laba laut itu tidak berburu atau menyaring makanan seperti penghuni laut dalam lainnya.
Sebaliknya, mereka secara aktif "beternak" dan memanen lapisan bakteri yang menutupi seluruh anggota tubuh mereka, di mana bakteri inilah yang mengubah metana menjadi sumber nutrisi.
Sebuah 'Peternakan' Mikro di Sekujur Tubuh
![Laba-laba Laut Ini Mampu Bertahan Hidup dengan Beternak Bakteri Pemakan Metana di Tubuhnya]()
Di bawah mikroskop elektron, setiap kaki laba-laba laut ini tampak seperti batu pasir kasar yang dipenuhi ribuan lubang kecil menyerupai kawah gunung berapi. Setiap kawah ini menjadi rumah bagi gumpalan sel bakteri methanotroph yang terbungkus dalam gel lengket.
Melalui pencitraan NanoSIMS, para peneliti mengamati bakteri ini dengan rakus mengonsumsi metana berlabel karbon berat dan berkembang biak dengan cepat.
Yang lebih mengejutkan, tim peneliti menemukan bekas gigitan yang jelas pada lapisan bakteri, yang cocok dengan mulut fleksibel laba-laba tersebut. Hal ini membuktikan bahwa laba-laba secara aktif memakan bakteri yang tumbuh di tubuhnya sendiri.
“Sama seperti Anda memakan telur untuk sarapan, laba-laba laut merumput di permukaan tubuhnya, dan ia mengunyah semua bakteri itu untuk nutrisi”, kata Goffredi.
Sistem Simbiosis Bertingkat yang Diwariskan
![Laba-laba Laut Ini Mampu Bertahan Hidup dengan Beternak Bakteri Pemakan Metana di Tubuhnya]()
Sistem "peternakan" ini bahkan lebih kompleks dari yang terlihat. Bakteri utama, methanotroph, mengoksidasi metana dan melepaskan karbon dioksida serta sedikit metanol sebagai produk sampingan. Kemudian, bakteri sekunder pada tubuh laba-laba, terutama dari keluarga Methylophagaceae, mengonsumsi metanol tersebut, menciptakan sistem pertanian dua tingkat yang mirip dengan yang ditemukan pada cacing tabung dan kepiting yeti di laut dalam.
Lebih jauh lagi, tim Goffredi memperhatikan bahwa kantung telur yang dibawa oleh laba-laba jantan juga dilapisi oleh campuran bakteri yang sama. Ini menunjukkan bahwa induk laba-laba "mewariskan" sumber makanan ini kepada anak-anaknya bahkan sebelum mereka menetas.
Nicole Dubilier, seorang ahli simbiosis dari Max Planck yang meninjau data tersebut, berkomentar, “Bahkan jika 80 persen dari populasi dimakan, itu sepadan bagi 20 persen yang tersisa untuk terus bertahan hidup dan bereproduksi,”.
Dampak Global dari Petani Mikro di Dasar Laut
![Laba-laba Laut Ini Mampu Bertahan Hidup dengan Beternak Bakteri Pemakan Metana di Tubuhnya]()
Penemuan bahwa laba-laba laut merumput di tubuhnya sendiri untuk mendapatkan bahan bakar membuka sebuah jalur yang selama ini terlewatkan dalam siklus karbon global. Hingga kini, sebagian besar ekosistem yang ditenagai metana dianggap bergantung pada symbionts internal atau mikroba yang tinggal di sedimen, bukan hewan yang secara aktif beternak bakteri di kulit mereka.
Karena rembesan metana membentang ribuan mil di sepanjang garis pantai, para perumput berukuran kecil seperti Sericosura secara kolektif dapat memproses sejumlah besar gas sebelum gas tersebut lolos ke atmosfer. Hal ini menambah sebuah perspektif baru tentang bagaimana para ilmuwan memodelkan fluks metana di sistem samudra dan dapat memengaruhi cara zona konservasi di masa depan ditentukan.
Penemuan Sericosura ini menjadi pengingat bahwa di kedalaman lautan yang misterius, kehidupan menemukan cara-cara yang paling tidak terduga untuk berkembang.
Makhluk-makhluk mungil ini, dengan strategi bertahan hidupnya yang unik, ternyata memainkan peran penting dalam kesehatan ekosistem planet kita, membuktikan bahwa melindungi bentuk kehidupan yang paling tidak dikenal sekalipun dapat memberikan manfaat yang jauh melampaui habitat mereka yang gelap dan bertekanantinggi.
(dan)
Lihat Juga :