Jaringan Hyper 5G Telkomsel Gempur Bandung: Janjikan Kecepatan 730 Mbps, Siapa yang Bisa Menikmati?
Kamis, 24 Juli 2025 - 10:28 WIB
loading...
Salah satu contoh nyata penggunaan jaringan 5G lewat asisten AI yang ditunjukkan Telkomsel di Bandung. Foto: Telkomsel
A
A
A
BANDUNG - Telkomsel secara agresif menggelar karpet merah digital di Bandung Raya. Dengan total 172 menara BTS 5G yang kini aktif, operator telekomunikasi raksasa ini menjanjikan era baru konektivitas super cepat bagi Kota Kembang.
Kecepatan unduh yang diklaim mampu menembus 730 Mbps—cukup untuk mengunduh film berkualitas tinggi dalam hitungan detik—kini menyelimuti berbagai sudut kota.
Dari gerbang Tol Pasteur, melintasi pusat perbelanjaan elite seperti Paris Van Java dan Trans Studio Mall, hingga menyentuh kawasan pendidikan vital seperti ITB dan UNPAD, sinyal "Hyper 5G" kini menjadi primadona baru.
Namun, di balik janji manis kecepatan kilat dan gelaran teknologi canggih ini, pertanyaan krusial pun muncul: Siapa yang sesungguhnya bisa menikmati kemewahan ini, dan berapa harga yang harus dibayar?
"Perluasan jaringan Hyper 5G di Bandung Raya adalah bagian dari komitmen kami dalam membangun konektivitas digital yang merata dan berkualitas," ujar Direktur Network Telkomsel, Indra Mardiatna.
Janji Manis Bertemu Realita
Secara teknis, penawaran Telkomsel memang menggiurkan. Latensi rendah dan kecepatan 4 kali lipat dibanding 4G adalah surga bagi para gamers, kreator konten, dan profesional digital. Namun, kemewahan ini terbentur pada tembok realita di lapangan.
Data Telkomsel menunjukkan bahwa penetrasi perangkat yang mendukung 5G di Bandung Raya baru mencapai 23%. Artinya, lebih dari tiga perempat pengguna ponsel di kota ini, meskipun berdiri tepat di bawah menara BTS 5G, tetap tidak akan bisa mencicipi kecepatan tersebut. Mereka masih terkunci di jaringan 4G.
Kekhawatiran soal biaya sangat beralasan. Telkomsel mengklaim adanya lonjakan konsumsi data hingga 202 GB per pengguna per bulan, sebuah angka fantastis yang kemungkinan besar hanya merefleksikan penggunaan oleh segmen "power user" yang sudah memiliki perangkat dan dana untuk menikmati jaringan 5G sepenuhnya.
Harga yang Harus Dibayar untuk Kecepatan
Untuk menjawab kekhawatiran tersebut, Telkomsel menggelar serangkaian "menu" paket data yang dirancang untuk memancing pengguna agar beralih.
Untuk Pengguna Berat: Paket Super Seru 5G dari SIMPATI menawarkan kuota raksasa 100GB dengan harga Rp125.000.
Untuk Pengguna Hemat: Paket SIMPATI OMG! 5G memberikan kuota 25GB seharga Rp50.000, ditambah bonus langganan platform streaming.
Untuk Pengguna by.U: Paket Super Kaget menawarkan 65GB seharga Rp100.000.
Untuk Kebutuhan Rumah: Modem Orbit 5G G1 ditawarkan dengan paket bulanan Rp260.000 untuk kuota 250GB.
"Kami ingin memastikan pengalaman konektivitas yang terus mendukung produktivitas digital secara menyeluruh," tambah Derrick Heng, Direktur Marketing Telkomsel, menyoroti strategi pemasaran mereka yang menyasar berbagai segmen.
Pada akhirnya, agresi Telkomsel di Bandung adalah pedang bermata dua. Di satu sisi, ini adalah investasi infrastruktur masif yang mempersiapkan kota untuk masa depan ekonomi digital, didukung oleh jaringan pintar yang dikelola Kecerdasan Buatan (AI).
Di sisi lain, untuk saat ini, "Hyper 5G" lebih terasa seperti sebuah klub eksklusif. Infrastrukturnya sudah siap, namun mayoritas masyarakat masih berdiri di luar, menanti harga perangkat menjadi lebih murah dan jangkauan sinyal menjadi lebih merata.
Karpet merah digital telah digelar, namun pestanya tampaknya baru akan benar-benar dimulai beberapatahunlagi.
Kecepatan unduh yang diklaim mampu menembus 730 Mbps—cukup untuk mengunduh film berkualitas tinggi dalam hitungan detik—kini menyelimuti berbagai sudut kota.
Dari gerbang Tol Pasteur, melintasi pusat perbelanjaan elite seperti Paris Van Java dan Trans Studio Mall, hingga menyentuh kawasan pendidikan vital seperti ITB dan UNPAD, sinyal "Hyper 5G" kini menjadi primadona baru.
Namun, di balik janji manis kecepatan kilat dan gelaran teknologi canggih ini, pertanyaan krusial pun muncul: Siapa yang sesungguhnya bisa menikmati kemewahan ini, dan berapa harga yang harus dibayar?
"Perluasan jaringan Hyper 5G di Bandung Raya adalah bagian dari komitmen kami dalam membangun konektivitas digital yang merata dan berkualitas," ujar Direktur Network Telkomsel, Indra Mardiatna.
Janji Manis Bertemu Realita
![Jaringan Hyper 5G Telkomsel Gempur Bandung: Janjikan Kecepatan 730 Mbps, Siapa yang Bisa Menikmati?]()
Secara teknis, penawaran Telkomsel memang menggiurkan. Latensi rendah dan kecepatan 4 kali lipat dibanding 4G adalah surga bagi para gamers, kreator konten, dan profesional digital. Namun, kemewahan ini terbentur pada tembok realita di lapangan.
Data Telkomsel menunjukkan bahwa penetrasi perangkat yang mendukung 5G di Bandung Raya baru mencapai 23%. Artinya, lebih dari tiga perempat pengguna ponsel di kota ini, meskipun berdiri tepat di bawah menara BTS 5G, tetap tidak akan bisa mencicipi kecepatan tersebut. Mereka masih terkunci di jaringan 4G.
Kekhawatiran soal biaya sangat beralasan. Telkomsel mengklaim adanya lonjakan konsumsi data hingga 202 GB per pengguna per bulan, sebuah angka fantastis yang kemungkinan besar hanya merefleksikan penggunaan oleh segmen "power user" yang sudah memiliki perangkat dan dana untuk menikmati jaringan 5G sepenuhnya.
Harga yang Harus Dibayar untuk Kecepatan
![Jaringan Hyper 5G Telkomsel Gempur Bandung: Janjikan Kecepatan 730 Mbps, Siapa yang Bisa Menikmati?]()
Untuk menjawab kekhawatiran tersebut, Telkomsel menggelar serangkaian "menu" paket data yang dirancang untuk memancing pengguna agar beralih.
Untuk Pengguna Berat: Paket Super Seru 5G dari SIMPATI menawarkan kuota raksasa 100GB dengan harga Rp125.000.
Untuk Pengguna Hemat: Paket SIMPATI OMG! 5G memberikan kuota 25GB seharga Rp50.000, ditambah bonus langganan platform streaming.
Untuk Pengguna by.U: Paket Super Kaget menawarkan 65GB seharga Rp100.000.
Untuk Kebutuhan Rumah: Modem Orbit 5G G1 ditawarkan dengan paket bulanan Rp260.000 untuk kuota 250GB.
"Kami ingin memastikan pengalaman konektivitas yang terus mendukung produktivitas digital secara menyeluruh," tambah Derrick Heng, Direktur Marketing Telkomsel, menyoroti strategi pemasaran mereka yang menyasar berbagai segmen.
Pada akhirnya, agresi Telkomsel di Bandung adalah pedang bermata dua. Di satu sisi, ini adalah investasi infrastruktur masif yang mempersiapkan kota untuk masa depan ekonomi digital, didukung oleh jaringan pintar yang dikelola Kecerdasan Buatan (AI).
Di sisi lain, untuk saat ini, "Hyper 5G" lebih terasa seperti sebuah klub eksklusif. Infrastrukturnya sudah siap, namun mayoritas masyarakat masih berdiri di luar, menanti harga perangkat menjadi lebih murah dan jangkauan sinyal menjadi lebih merata.
Karpet merah digital telah digelar, namun pestanya tampaknya baru akan benar-benar dimulai beberapatahunlagi.
(dan)
Lihat Juga :