Burung Moa Raksasa Siap Dihidupkan Kembali, Ini Tantangannya
Selasa, 15 Juli 2025 - 07:13 WIB
loading...
A
A
A
Hasilnya, rekayasa genetika sesuatu yang menyerupai moa, tetapi pada hakikatnya mungkin bukan moa.
Seperti yang dikatakan Profesor Roawlence, karena "tidak ada analogi hidup moa dalam kelompok paleongath. Kita tidak tahu apakah burung yang diciptakan melalui metode de-extinction akan berfungsi seperti moa dalam ekosistem."
Dibandingkan dengan burung lain yang tidak bisa terbang, Moa menonjol karena mereka tidak punya sayap (bahkan yang tersisa sekalipun), dan rekayasa genetika untuk sifat khusus ini dapat menimbulkan "dampak yang tidak diinginkan."
Dari pengalaman pribadinya dalam mempelajari lebih lanjut sejarah evolusi spesies moa melalui proyek pengurutan genom berkualitas tinggi, Profesor Roawlence mengingat bahwa de-extinction tidak menerima dukungan apa pun saat berdiskusi dengan tangata di seluruh Selandia Baru, berbicara dengan individu rūnanga yang menentang gagasan tersebut dan mempertanyakan apakah Cossal Biosciences telah berkonsultasi dengan mereka mengenai proyek tersebut.
Ia menambahkan bahwa suku Iwi juga menginginkan sampel tulang moa dan semua ekstrak DNA serta data sekuens tetap berada di negara tersebut.
Suku Māori telah menyuarakan keprihatinan tentang kurangnya diskusi seputar rekayasa genetika dan potensi sampel tulang atau materi genetika yang dikirim ke luar negeri, kata Profesor Roawlence.
Namun, ia juga memberi penghargaan kepada Pusat Penelitian Ngāi Tahu karena "mendorong proyek" dan merujuk pada pembicaraan seputar pemulihan habitat yang paling cocok untuk moa.
Seperti yang dikatakan Profesor Roawlence, karena "tidak ada analogi hidup moa dalam kelompok paleongath. Kita tidak tahu apakah burung yang diciptakan melalui metode de-extinction akan berfungsi seperti moa dalam ekosistem."
Dibandingkan dengan burung lain yang tidak bisa terbang, Moa menonjol karena mereka tidak punya sayap (bahkan yang tersisa sekalipun), dan rekayasa genetika untuk sifat khusus ini dapat menimbulkan "dampak yang tidak diinginkan."
Dari pengalaman pribadinya dalam mempelajari lebih lanjut sejarah evolusi spesies moa melalui proyek pengurutan genom berkualitas tinggi, Profesor Roawlence mengingat bahwa de-extinction tidak menerima dukungan apa pun saat berdiskusi dengan tangata di seluruh Selandia Baru, berbicara dengan individu rūnanga yang menentang gagasan tersebut dan mempertanyakan apakah Cossal Biosciences telah berkonsultasi dengan mereka mengenai proyek tersebut.
Ia menambahkan bahwa suku Iwi juga menginginkan sampel tulang moa dan semua ekstrak DNA serta data sekuens tetap berada di negara tersebut.
Suku Māori telah menyuarakan keprihatinan tentang kurangnya diskusi seputar rekayasa genetika dan potensi sampel tulang atau materi genetika yang dikirim ke luar negeri, kata Profesor Roawlence.
Namun, ia juga memberi penghargaan kepada Pusat Penelitian Ngāi Tahu karena "mendorong proyek" dan merujuk pada pembicaraan seputar pemulihan habitat yang paling cocok untuk moa.
Lihat Juga :