Salju di Bromo: Keajaiban atau Tipuan Kristal Es? Sains di Balik Fenomena Beku yang Viral
Sabtu, 12 Juli 2025 - 07:42 WIB
loading...
Fenomena embun upas menyerupai salju di Gunung Bromo. Foto: Sindonews/Avirista Midaada
A
A
A
BROMO TENGGER SEMERU - Sebuah fatamorgana putih membentang di lautan pasir Gunung Bromo. Di bawah langit fajar membiru, hamparan pasir vulkanik legam seolah lenyap, digantikan oleh selimut kristal es yang berkilauan, menipu mata seolah salju telah turun di tanah tropis.
Fenomena yang viral di media sosial ini sontak menjadi magnet, menarik ribuan wisatawan untuk berburu keajaiban sesaat yang hanya bertahan beberapa jam setelah matahari terbit.
Namun, di balik keindahannya yang memukau, "salju" Bromo adalah sebuah ilusi optik yang didasari oleh proses sains ekstrem. Ini bukan salju, melainkan sebuah fenomena yang oleh warga lokal disebut "embun upas"—embun beracun—atau dalam istilah ilmiah dikenal sebagai frost atau embun beku.
"Saya sengaja datang sejak subuh, soalnya katanya kalau sudah jam 10 pagi esnya mulai meleleh," ujar Sandi.
"Alhamdulillah kesampaian. Kalau di foto kan pasirnya nggak kelihatan hitam, malah putih seperti salju. Jadi bagus buat update foto di Instagram, serasa di luar negeri," ungkapnya, menyuarakan sentimen banyak pengunjung lainnya.
Daya tarik inilah yang mendorong angka kunjungan meroket. Berdasarkan catatan Balai Besar TNBTS, sepanjang tahun 2024 saja, kawasan ini telah menyumbang Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar Rp21,15 miliar dari total 485.696 wisatawan. Angka fantastis yang sebagian didorong oleh pesona embun beku ini.
Pranata Humas Balai Besar TNBTS, Endrip Wahyutama, menjelaskan bahwa fenomena ini adalah siklus tahunan. "Fenomena embun upas ini sebenarnya biasa terjadi di kawasan pegunungan ketika memasuki musim kemarau," katanya.
Saat itu, suhu udara di kawasan Bromo bisa anjlok hingga 5 derajat Celcius atau bahkan lebih rendah.
1. Radiasi Panas Ekstrem: Saat musim kemarau, langit malam di Bromo nyaris tanpa awan. Awan berfungsi seperti selimut yang menahan panas bumi. Tanpa "selimut" ini, permukaan tanah dan pasir melepaskan panasnya secara drastis ke atmosfer.
2. Titik Beku Tercapai: Akibat pelepasan panas yang cepat, suhu di permukaan tanah bisa turun drastis hingga di bawah titik beku (0° Celcius), meskipun suhu udara di atasnya mungkin masih beberapa derajat lebih hangat.
3. Sublimasi Uap Air: Udara di sekitar kita selalu mengandung uap air. Ketika uap air ini bersentuhan dengan permukaan tanah, pasir, atau dedaunan yang suhunya sudah di bawah nol, ia tidak berubah menjadi air terlebih dahulu.
Sebaliknya, ia langsung melewati fase cair dan berubah menjadi kristal-kristal es padat. Proses inilah yang menciptakan lapisan tipis frost yang kita lihat sebagai "salju".
Sederhananya, Bromo di malam hari berubah menjadi sebuah "freezer raksasa" di alam terbuka.
Endrip Wahyutama pun memberikan peringatan kritis bagi para wisatawan yang terbuai oleh keindahan fenomena ini. "Meskipun terlihat cantik, kami meminta pengunjung untuk tidak menyentuh atau menginjak tanaman yang tertutup es," tegasnya.
Tanaman endemik di Bromo, seperti edelweiss jawa dan berbagai jenis rumput, memiliki ekosistem yang sangat rapuh. Menginjak lapisan es di atasnya dapat merusak tunas dan akar secara permanen. "Itu adalah bagian dari ekosistem alam yang tidak boleh diganggu,"tambahnya.
Fenomena yang viral di media sosial ini sontak menjadi magnet, menarik ribuan wisatawan untuk berburu keajaiban sesaat yang hanya bertahan beberapa jam setelah matahari terbit.
Namun, di balik keindahannya yang memukau, "salju" Bromo adalah sebuah ilusi optik yang didasari oleh proses sains ekstrem. Ini bukan salju, melainkan sebuah fenomena yang oleh warga lokal disebut "embun upas"—embun beracun—atau dalam istilah ilmiah dikenal sebagai frost atau embun beku.
Berburu Keajaiban Sebelum Mencair
Bagi wisatawan seperti Sandi Kurniawan, fenomena ini adalah sebuah perburuan melawan waktu. Ia sengaja datang dari Malang sebelum fajar menyingsing, demi menyaksikan langsung pemandangan yang tahun lalu ia lewatkan."Saya sengaja datang sejak subuh, soalnya katanya kalau sudah jam 10 pagi esnya mulai meleleh," ujar Sandi.
"Alhamdulillah kesampaian. Kalau di foto kan pasirnya nggak kelihatan hitam, malah putih seperti salju. Jadi bagus buat update foto di Instagram, serasa di luar negeri," ungkapnya, menyuarakan sentimen banyak pengunjung lainnya.
Daya tarik inilah yang mendorong angka kunjungan meroket. Berdasarkan catatan Balai Besar TNBTS, sepanjang tahun 2024 saja, kawasan ini telah menyumbang Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar Rp21,15 miliar dari total 485.696 wisatawan. Angka fantastis yang sebagian didorong oleh pesona embun beku ini.
Bukan Sihir, Ini Fisika Sederhana
Jadi, bagaimana "salju" bisa terbentuk di negara khatulistiwa? Jawabannya terletak pada kombinasi tiga faktor kunci saat puncak musim kemarau: langit cerah, kelembapan rendah, dan ketinggian.Pranata Humas Balai Besar TNBTS, Endrip Wahyutama, menjelaskan bahwa fenomena ini adalah siklus tahunan. "Fenomena embun upas ini sebenarnya biasa terjadi di kawasan pegunungan ketika memasuki musim kemarau," katanya.
Saat itu, suhu udara di kawasan Bromo bisa anjlok hingga 5 derajat Celcius atau bahkan lebih rendah.
Secara ilmiah, prosesnya terjadi seperti ini:
1. Radiasi Panas Ekstrem: Saat musim kemarau, langit malam di Bromo nyaris tanpa awan. Awan berfungsi seperti selimut yang menahan panas bumi. Tanpa "selimut" ini, permukaan tanah dan pasir melepaskan panasnya secara drastis ke atmosfer.
2. Titik Beku Tercapai: Akibat pelepasan panas yang cepat, suhu di permukaan tanah bisa turun drastis hingga di bawah titik beku (0° Celcius), meskipun suhu udara di atasnya mungkin masih beberapa derajat lebih hangat.
3. Sublimasi Uap Air: Udara di sekitar kita selalu mengandung uap air. Ketika uap air ini bersentuhan dengan permukaan tanah, pasir, atau dedaunan yang suhunya sudah di bawah nol, ia tidak berubah menjadi air terlebih dahulu.
Sebaliknya, ia langsung melewati fase cair dan berubah menjadi kristal-kristal es padat. Proses inilah yang menciptakan lapisan tipis frost yang kita lihat sebagai "salju".
Sederhananya, Bromo di malam hari berubah menjadi sebuah "freezer raksasa" di alam terbuka.
Keindahan yang Rapuh dan Peringatan Keras
Di balik pesonanya, embun upas membawa ancaman tersembunyi, sesuai dengan nama yang diberikan oleh leluhur suku Tengger. Bagi tanaman pertanian, lapisan es ini bisa mematikan dan menyebabkan gagal panen, karena itulah disebut "embun beracun".Endrip Wahyutama pun memberikan peringatan kritis bagi para wisatawan yang terbuai oleh keindahan fenomena ini. "Meskipun terlihat cantik, kami meminta pengunjung untuk tidak menyentuh atau menginjak tanaman yang tertutup es," tegasnya.
Tanaman endemik di Bromo, seperti edelweiss jawa dan berbagai jenis rumput, memiliki ekosistem yang sangat rapuh. Menginjak lapisan es di atasnya dapat merusak tunas dan akar secara permanen. "Itu adalah bagian dari ekosistem alam yang tidak boleh diganggu,"tambahnya.
(dan)
Lihat Juga :