Wabah ChatGPT di Indonesia: Berkah Produktivitas atau Awal dari Kiamat Berpikir Kritis?
Selasa, 01 Juli 2025 - 10:01 WIB
loading...
A
A
A
2. Krisis Inovasi: "Bangsa yang berhenti berpikir akan sulit berinovasi," tegasnya. Jika mayoritas hanya bisa mengulang apa yang dikatakan AI, maka tidak akan ada lagi penemuan atau gagasan baru yang lahir dari perenungan mendalam.
3. Algoritma sebagai 'Tuhan' Baru: Ini adalah bahaya terbesar. Tanpa sadar, kita mulai menyerahkan penilaian benar dan salah kepada mesin. "Ini membuka jalan pada 'kolonisasi kognitif', di mana apa yang kita pikirkan bukan lagi milik kita," kata Yuswohady.
Tantangan terbesar di era ini, menurut Yuswohady, bukan sekadar soal mengakses informasi, tetapi tentang bagaimana tetap menjadi manusia yang berpikir.
"Jika kita berhenti berpikir karena AI, maka kita bukan lagi subjek, melainkan objek dari algoritma," tulis Yuswohady. "Karena yang membedakan manusia dari mesin bukanlah kecerdasan, tapikesadaran."
3. Algoritma sebagai 'Tuhan' Baru: Ini adalah bahaya terbesar. Tanpa sadar, kita mulai menyerahkan penilaian benar dan salah kepada mesin. "Ini membuka jalan pada 'kolonisasi kognitif', di mana apa yang kita pikirkan bukan lagi milik kita," kata Yuswohady.
Pertarungan Terakhir: Kecerdasan vs. Kesadaran
Pada akhirnya, ledakan penggunaan ChatGPT di Indonesia adalah sebuah pedang bermata dua. Di satu sisi, ia adalah akselerator produktivitas. Di sisi lain, ia adalah anestesi bagi pikiran kritis.Tantangan terbesar di era ini, menurut Yuswohady, bukan sekadar soal mengakses informasi, tetapi tentang bagaimana tetap menjadi manusia yang berpikir.
"Jika kita berhenti berpikir karena AI, maka kita bukan lagi subjek, melainkan objek dari algoritma," tulis Yuswohady. "Karena yang membedakan manusia dari mesin bukanlah kecerdasan, tapikesadaran."
(dan)
Lihat Juga :