Ini yang Terjadi pada Bitcoin Jika AS Bantu Israel Gempur Iran
Kamis, 19 Juni 2025 - 19:45 WIB
loading...
Bitcoin. FOTO/ THE VERGE
A
A
A
NEW YORK - Amerika Serikat disinyalir akan bergabung dalam perang Israel-Iran, membela Zionis. Jika itu dilakukan bitcoin bisa turun 10–20% karena investor beralih ke mode risk-off dan keluar dari aset volatil.
BACA JUGA - Perang Iran dan Israel Bikin Sinyal Navigasi Kapal di Teluk Persia Kacau
Menurut firma perdagangan kripto asal Singapura bernama QCP Capital, BTC kini terjepit antara antara dua resiko ekor (tail risks). Melansir dari ambcrypto.com, kedua resiko tersebut yakni eskalasi konflik dan lonjakan inflasi global.
QCP memperingatkan bahwa jika Iran merasa terdesak, potensi blokade Selat Hormuz, jalur vital pengiriman minyak dunia menjadi resiko nyata. Gangguan ini bisa memicu lonjakan harga minyak dan memperparah tekanan inflasi global, yang sudah rapuh sejak awal tahun.
“Jika terjadi blokade penuh di Selat Hormuz, kita bisa melihat lonjakan inflasi lain, tepat saat kondisi makro global sudah tegang,” tulis QCP dalam pembaruan pasar hari Rabu.
Kenaikan harga minyak dan kekhawatiran inflasi mungkin menunda pemotongan suku bunga Fed, mendorong naik imbal hasil Treasury dan merugikan valuasi aset kripto.
Pemulihan jangka panjang bergantung pada durasi perang dan kebijakan moneter, dengan faktor ekonomi makro bukan fundamental aset kripto yang mempengaruhi perilaku pasar jangka pendek.
promo
Earn cashback on every purchase with COCA crypto card — 5% on all purchases and 50% on subscriptions like Amazon, ChatGPT and more.Get your card now.
Jika Amerika Serikat (AS) secara resmi bergabung dalam perang Israel-Iran, Bitcoin dan pasar kripto yang lebih luas mungkin mengalami kerugian tajam dalam jangka pendek.
Berdasarkan utas terbaru Presiden Trump dan rumor geopolitik, AS kemungkinan akan memutuskan untuk terlibat dalam konflik ini. Analis pasar memperkirakan sentimen risk-off akan mendominasi aset global, menarik likuiditas dari sektor volatil seperti aset kripto.
Bitcoin, saat ini diperdagangkan mendekati USD104.500. Harganya berisiko turun 10–20% dalam beberapa hari, berdasarkan pola dari kejutan geopolitik sebelumnya.
Di tahap awal konflik berskala besar, investor biasanya beralih ke tempat aman tradisional—seperti US Treasuries, dolar, dan emas.
Kripto, meskipun terdapat klaim sebagai lindung nilai, kelas aset baru tersebut secara konsisten berperilaku seperti aset berisiko tinggi dalam kondisi konflik.
Misalnya, selama perang Rusia-Ukraina pada 2022, Bitcoin turun lebih dari 12% dalam seminggu setelah invasi awal. Kemudian pulih sebagian namun mengikuti pasar ekuitas dengan ketat selama eskalasi.
Aktivitas on-chain sering mencerminkan aversi risiko ini. Leverage cenderung turun, arus masuk ke exchange meningkat, dan volume perdagangan menurun selama periode stres geopolitik.
BACA JUGA - Perang Iran dan Israel Bikin Sinyal Navigasi Kapal di Teluk Persia Kacau
Menurut firma perdagangan kripto asal Singapura bernama QCP Capital, BTC kini terjepit antara antara dua resiko ekor (tail risks). Melansir dari ambcrypto.com, kedua resiko tersebut yakni eskalasi konflik dan lonjakan inflasi global.
QCP memperingatkan bahwa jika Iran merasa terdesak, potensi blokade Selat Hormuz, jalur vital pengiriman minyak dunia menjadi resiko nyata. Gangguan ini bisa memicu lonjakan harga minyak dan memperparah tekanan inflasi global, yang sudah rapuh sejak awal tahun.
“Jika terjadi blokade penuh di Selat Hormuz, kita bisa melihat lonjakan inflasi lain, tepat saat kondisi makro global sudah tegang,” tulis QCP dalam pembaruan pasar hari Rabu.
Kenaikan harga minyak dan kekhawatiran inflasi mungkin menunda pemotongan suku bunga Fed, mendorong naik imbal hasil Treasury dan merugikan valuasi aset kripto.
Pemulihan jangka panjang bergantung pada durasi perang dan kebijakan moneter, dengan faktor ekonomi makro bukan fundamental aset kripto yang mempengaruhi perilaku pasar jangka pendek.
promo
Earn cashback on every purchase with COCA crypto card — 5% on all purchases and 50% on subscriptions like Amazon, ChatGPT and more.Get your card now.
Jika Amerika Serikat (AS) secara resmi bergabung dalam perang Israel-Iran, Bitcoin dan pasar kripto yang lebih luas mungkin mengalami kerugian tajam dalam jangka pendek.
Berdasarkan utas terbaru Presiden Trump dan rumor geopolitik, AS kemungkinan akan memutuskan untuk terlibat dalam konflik ini. Analis pasar memperkirakan sentimen risk-off akan mendominasi aset global, menarik likuiditas dari sektor volatil seperti aset kripto.
Bitcoin, saat ini diperdagangkan mendekati USD104.500. Harganya berisiko turun 10–20% dalam beberapa hari, berdasarkan pola dari kejutan geopolitik sebelumnya.
Di tahap awal konflik berskala besar, investor biasanya beralih ke tempat aman tradisional—seperti US Treasuries, dolar, dan emas.
Kripto, meskipun terdapat klaim sebagai lindung nilai, kelas aset baru tersebut secara konsisten berperilaku seperti aset berisiko tinggi dalam kondisi konflik.
Misalnya, selama perang Rusia-Ukraina pada 2022, Bitcoin turun lebih dari 12% dalam seminggu setelah invasi awal. Kemudian pulih sebagian namun mengikuti pasar ekuitas dengan ketat selama eskalasi.
Aktivitas on-chain sering mencerminkan aversi risiko ini. Leverage cenderung turun, arus masuk ke exchange meningkat, dan volume perdagangan menurun selama periode stres geopolitik.
(wbs)
Lihat Juga :