Kamu Lulus Kuliah, tapi AI Sudah Ambil Alih Pekerjaan Impianmu? Ini Kata CEO Anthropic!
Rabu, 04 Juni 2025 - 14:00 WIB
loading...
Agen AI disebut akan menggantikan banyak sekali profesi lama, dan mengancam para lulusan baru. Foto: Gemini
A
A
A
JAKARTA - Sebuah alarm bahaya baru saja dibunyikan dari jantung revolusi kecerdasan buatan (AI). Dario Amodei, CEO Anthropic, perusahaan AI terkemuka, melontarkan peringatan keras: AI berpotensi menghilangkan 50% pekerjaan kerah putih entry-level dalam waktu lima tahun ke depan!
Sebuah prediksi yang mengerikan, yang bahkan bisa mendorong tingkat pengangguran di Amerika Serikat melonjak hingga 20%!
Prediksi yang sangat gamblang ini datang di tengah kemajuan pesat teknologi AI. Sektor-sektor vital seperti teknologi, keuangan, hukum, dan konsultan diprediksi akan menghadapi disrupsi terbesar.
“Kami, sebagai produsen teknologi ini, memiliki tugas dan kewajiban untuk jujur tentang apa yang akan datang,” tegas Amodei kepada Axios. CEO berusia 42 tahun itu menekankan bahwa sebagian besar masyarakat masih tidak menyadari transformasi yang akan terjadi, menyebutnya sebagai kenyataan yang "terdengar gila, dan orang-orang tidak percaya."
Laporan tersebut mengaitkan penurunan ini sebagian besar dengan adopsi AI, karena perusahaan kini memprioritaskan pekerja berpengalaman yang dapat memanfaatkan alat AI secara efektif.
“AI melakukan apa yang biasa dilakukan intern dan lulusan baru," jelas Heather Doshay, seorang mitra SignalFire. “Sekarang, Anda bisa merekrut satu pekerja berpengalaman, membekali mereka dengan alat AI, dan mereka bisa menghasilkan output pekerja junior di atas pekerjaan mereka sendiri."
Angka-angka pun berbicara lantang: kandidat entry-level kini hanya menyumbang 7% dari total perekrutan di perusahaan Big Tech pada 2024, turun 25% dari tahun sebelumnya. Di perusahaan startup, angka itu bahkan anjlok menjadi 6%. Ini adalah gambaran nyata bagaimana AI mulai menggerus peluang bagi para pendatang baru di dunia kerja.
Amodei tak segan mengkritik pejabat pemerintah dan pemimpin bisnis karena meremehkan skala disrupsi yang akan datang. Ia berpendapat bahwa pemerintah AS tetap diam mengenai potensi disrupsi pekerjaan oleh AI, karena khawatir akan memicu kepanikan pekerja atau tertinggal dari China dalam perlombaan AI.
Baca Juga: Paus Leo Beberkan Kegelisahannya Soal Kecerdasan Buatan
CEO Anthropic ini menyadari ironi posisinya—ia secara bersamaan membangun dan menjual produk AI sambil memperingatkan tentang risiko-risikonya. Ia membayangkan masa depan di mana "kanker disembuhkan, ekonomi tumbuh 10% setahun, anggaran seimbang—dan 20% orang tidak memiliki pekerjaan."
Sebuah visi yang mencengangkan sekaligus menakutkan.
Amodei mendesak tindakan segera untuk mempersiapkan transformasi ini, menekankan bahwa teknologi tidak dapat dihentikan tetapi dapat dikendalikan dengan perencanaan yang tepat dan intervensikebijakan.
Sebuah prediksi yang mengerikan, yang bahkan bisa mendorong tingkat pengangguran di Amerika Serikat melonjak hingga 20%!
Prediksi yang sangat gamblang ini datang di tengah kemajuan pesat teknologi AI. Sektor-sektor vital seperti teknologi, keuangan, hukum, dan konsultan diprediksi akan menghadapi disrupsi terbesar.
“Kami, sebagai produsen teknologi ini, memiliki tugas dan kewajiban untuk jujur tentang apa yang akan datang,” tegas Amodei kepada Axios. CEO berusia 42 tahun itu menekankan bahwa sebagian besar masyarakat masih tidak menyadari transformasi yang akan terjadi, menyebutnya sebagai kenyataan yang "terdengar gila, dan orang-orang tidak percaya."
Industri Teknologi Sudah Rasakan Dampaknya: AI Gantikan Pekerja Junior?
Data terbaru mendukung kekhawatiran Amodei. Perekrutan lulusan baru oleh perusahaan-perusahaan teknologi besar (Big Tech) menurun 50% sejak sebelum pandemi, menurut firma modal ventura SignalFire.Laporan tersebut mengaitkan penurunan ini sebagian besar dengan adopsi AI, karena perusahaan kini memprioritaskan pekerja berpengalaman yang dapat memanfaatkan alat AI secara efektif.
“AI melakukan apa yang biasa dilakukan intern dan lulusan baru," jelas Heather Doshay, seorang mitra SignalFire. “Sekarang, Anda bisa merekrut satu pekerja berpengalaman, membekali mereka dengan alat AI, dan mereka bisa menghasilkan output pekerja junior di atas pekerjaan mereka sendiri."
Angka-angka pun berbicara lantang: kandidat entry-level kini hanya menyumbang 7% dari total perekrutan di perusahaan Big Tech pada 2024, turun 25% dari tahun sebelumnya. Di perusahaan startup, angka itu bahkan anjlok menjadi 6%. Ini adalah gambaran nyata bagaimana AI mulai menggerus peluang bagi para pendatang baru di dunia kerja.
Amodei tak segan mengkritik pejabat pemerintah dan pemimpin bisnis karena meremehkan skala disrupsi yang akan datang. Ia berpendapat bahwa pemerintah AS tetap diam mengenai potensi disrupsi pekerjaan oleh AI, karena khawatir akan memicu kepanikan pekerja atau tertinggal dari China dalam perlombaan AI.
Baca Juga: Paus Leo Beberkan Kegelisahannya Soal Kecerdasan Buatan
CEO Anthropic ini menyadari ironi posisinya—ia secara bersamaan membangun dan menjual produk AI sambil memperingatkan tentang risiko-risikonya. Ia membayangkan masa depan di mana "kanker disembuhkan, ekonomi tumbuh 10% setahun, anggaran seimbang—dan 20% orang tidak memiliki pekerjaan."
Sebuah visi yang mencengangkan sekaligus menakutkan.
Amodei mendesak tindakan segera untuk mempersiapkan transformasi ini, menekankan bahwa teknologi tidak dapat dihentikan tetapi dapat dikendalikan dengan perencanaan yang tepat dan intervensikebijakan.
(dan)
Lihat Juga :