Perdagangan Ilegal Gading Gajah: Kisah Kelam di Balik Kemewahan, Bisnis Besar Berdarah Dingin

Senin, 26 Mei 2025 - 14:28 WIB
loading...
Perdagangan Ilegal Gading...
Perburuan gading gajah berdampak buruk terhadap ekosistem, termasuk punahnya gajah di Indonesia. Foto: Antara
A A A
JAKARTA - Direktorat Tindak Pidana Tertentu (Dittipidter) Bareskrim Polri resmi menggagalkan penyelundupan gading gajah utuh hingga pipa rokok yang terbuat dari gading gajah.

Dirtipidter Bareskrim Polri Brigjen Nunung Syaifuddin mengungkap 4 tersangka melanggar Undang-Undang tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya yang melarang setiap orang untuk menyimpan, memiliki, atau menguasai hasil satwa yang dilindungi, termasuk gading gajah.

“Gading gajah utuh diduga berasal dari bagian satwa gajah yang dilindungi. Sementara pipa rokok terbuat dari gading gajah dan patung ukiran yang terbuat dari gading gajah," ungkap Nunung.

Keempat tersangka dan barang bukti berhasil diamankan pada tiga lokasi berbeda di kawasan Sukabumi, Jawa Barat hingga Tebet, Jakarta Selatan. Keempat tersangka yakni IR (55), EF (53), SS (46) dan JF (44).

Gading, dengan keindahan dan ketahanannya yang memukau, telah lama menjadi simbol kekayaan dan status. Selama puluhan ribu tahun, manusia menggunakannya untuk beragam benda, dari alat, kunci piano, hingga objek keagamaan, seni, dan barang mewah.

Namun, di balik pesona itu, tersembunyi sebuah kisah kelam yang telah mendorong populasi gajah ke ambang kepunahan: perdagangan gading ilegal yang terus berlanjut di pasar gelap senilai triliunan rupiah!

Secara tragis, hanya dalam kurun waktu 100 tahun, permintaan gading sebagai simbol kemewahan, ditambah dengan perkembangan senjata api yang memudahkan pemburu liar membunuh gajah, telah memusnahkan populasi gajah.

Populasi gajah Afrika saja telah menurun diperkirakan 84-96%. Meskipun gajah melimpah pada awal abad ke-19, kini diperkirakan kurang dari 500.000 gajah tersisa di seluruh dunia.

Pada tahun 1989, larangan internasional terhadap penjualan gading diberlakukan. Namun, beberapa negara masih mengizinkan perdagangan gading domestik dengan batasan. Parahnya, permintaan gading yang terus-menerus di banyak negara, termasuk AS, telah menciptakan pasar gelap yang sangat besar. Akibatnya, gajah masih terus diburu secara liar, dan gading masih diperdagangkan hingga hari ini.

Nah, inilah fakta mengerikan tentang perdagangan gading saat ini:

1. Bisnis Besar Berdarah Dingin
Secara global, perdagangan gading gajah diperkirakan bernilai USD23 miliar (Rp368 triliun) per tahun. Dan mengingat gading dijual sekitar USD3.300 (sekitar Rp52,8 juta) per 0.5 kilogram, para pemburu liar memiliki motivasi yang sangat besar untuk terus membunuh gajah demi gadingnya. Jaringan kriminal terorganisir sepenuhnya terlibat dalam perdagangan gading ini.

Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah gading yang disita oleh penegak hukum terus meningkat. Beberapa ahli berteori bahwa pemburu liar melikuidasi stok mereka sebagai respons terhadap kontrol global, sementara yang lain percaya peningkatan jumlah gading yang disita mencerminkan peningkatan perburuan liar yang dapat menyebabkan kepunahan gajah.

2. Berbagai Faktor Memicu Perburuan Liar
Permintaan gading adalah kontributor terbesar perburuan liar, karena tanpa permintaan, gading tidak akan memiliki nilai. Namun, faktor lain juga berkontribusi, terutama kemiskinan dan korupsi di negara-negara tempat gajah hidup. Korupsi dan/atau kurangnya penegakan hukum yang memadai memungkinkan kejahatan terorganisir mendapatkan pijakan di beberapa negara dan memicu perdagangan gading.

Kemiskinan juga merupakan pendorong signifikan perburuan liar. Di tempat-tempat di mana peluang ekonomi yang sah langka, sebagian warga beralih ke perburuan liar untuk menghasilkan pendapatan dan menafkahi keluarga mereka.

Selain itu, konflik manusia-gajah dapat memicu perburuan liar. Ketika gajah stres dan terancam oleh pemburu liar, mereka mungkin menunjukkan agresi kepada warga yang kemudian membunuh gajah itu sendiri.

3. Metode Pembantaian yang Semakin Kejam
Perburuan liar telah mendorong pemburu liar menggunakan metode yang semakin brutal untuk menghindari deteksi. Meskipun senjata api masih digunakan oleh beberapa pemburu liar, suara tembakan dapat memberi tahu para jagawana tentang keberadaan mereka.

Sebagai gantinya, banyak pemburu liar beralih ke metode seperti panah dan tombak dengan ujung beracun, yang secara diam-diam namun perlahan membunuh gajah. Dan karena metode ini secara efektif melumpuhkan gajah, pemburu liar memotong gadingnya saat gajah itu masih hidup.

4. Evolusi Tragis: Gajah Lahir Tanpa Gading!
Sebagai respons terhadap perburuan liar, di beberapa daerah yang mengalami tingkat perburuan tinggi, gajah semakin banyak lahir tanpa gading. Ini terutama terlihat jelas di Mozambik, di mana perang menyebabkan 90% gajah di wilayah Taman Nasional Gorongosa dibunuh demi gadingnya.

Beberapa gajah betina membawa gen yang menyebabkan mereka lahir tanpa gading. Karena gajah tanpa gading lebih mungkin untuk bertahan hidup, gen-gen tersebut diturunkan pada tingkat yang lebih tinggi daripada sebelum perang. Hari ini, 50% gajah betina di wilayah ini lahir tanpa gading.

5. Pandemi COVID-19 Memicu Kenaikan Harga Gading!
Harga gading baru-baru ini mengalami kenaikan setelah sebelumnya menurun. Meskipun para peneliti masih mencoba menentukan alasan kenaikan tersebut, beberapa penelitian mengaitkan harga yang lebih tinggi dengan pandemi COVID-19. Faktor pendorong yang mungkin adalah dua hal.

Selama pandemi COVID-19, pembatasan perjalanan kemungkinan mengurangi pasokan gading yang tersedia. Akibatnya, harga mungkin meningkat karena perbedaan antara penawaran dan permintaan. Selain itu, karena gading berharga, beberapa orang melihatnya sebagai investasi yang sehat mirip dengan membeli emas. Oleh karena itu, ada bukti bahwa gading dijual dengan harga lebih tinggi sebagai investasi untuk memberikan stabilitas finansial selama krisis keuangan global.

6. Jagawana Mempertaruhkan Nyawa Melindungi Gajah
Pemburu liar sangat kejam. Mereka tidak hanya secara brutal membunuh gajah demi gading; mereka juga bersedia membunuh siapa pun yang menghalangi jalan mereka. Antara tahun 2006 dan 2021, lebih dari 1.500 jagawana tewas saat melindungi spesies terancam punah, termasuk gajah. Yang memprihatinkan, pembunuhan adalah penyebab kematian yang paling sering dilaporkan.

Para jagawana yang melindungi gajah dari pemburu liar mempertaruhkan nyawa saat menjalankan tugas mereka

7. Taktik Licik: Gading Lama yang Ternyata Baru!
Meskipun larangan internasional perdagangan gading diberlakukan pada tahun 1989, banyak negara masih mengizinkan gading dijual di dalam perbatasan mereka, terutama jika gading tersebut sudah tua. Misalnya, meskipun Uni Eropa mengikuti larangan CITES, mereka mengizinkan perdagangan gading domestik jika gading yang dimaksud diperoleh sebelum tahun 1947, atau jika diimpor dari Afrika sebelum tahun 1990 atau dari Asia sebelum tahun 1970. Banyak negara lain telah mengadopsi peraturan serupa.

8. Kata Kunci Rahasia: Perdagangan Gading Online Berlanjut!
Meskipun penjualan gading dilarang, penjual telah menemukan cara untuk secara ilegal mengiklankan dan menjualnya secara online melalui situs-situs oneline. Salah satu metode tersebut adalah dengan menggunakan kata kode untuk menggambarkan gading. Misalnya, barang-barang yang terbuat dari gading seringkali diberi label "tulang sapi" (bovine bone). Di Indonesia, perdagangan gading gajah umumnya dijual dalam bentuk pipa cangklong rokok dengan harga antara Rp1 juta-Rp2 juta per buah. Gading gajah dijual lewat Group Facebook.

9. Uni Eropa 'Menjaga Ketat' Perdagangan Gading Domestik
Pada Desember 2021, Uni Eropa mengadopsi peraturan baru untuk mengekang perdagangan gading domestiknya. Kini, semua perdagangan gading mentah dilarang di UE, dengan pengecualian gading yang digunakan untuk memperbaiki objek yang sudah ada yang terbuat dari gading kuno, seperti alat musik.

Selain itu, agar gading yang telah diolah dapat dijual secara legal, barang tersebut harus dibuat sebelum tahun 1947 atau, dalam kasus alat musik, tahun 1975. Selanjutnya, barang tersebut harus disertifikasi oleh negara asalnya.

10. China: Dari Pasar Terbesar Menuju Pahlawan Konservasi!
Dulu merupakan pasar gading terbesar, China mengambil langkah penting pada tahun 2017 untuk memerangi perburuan liar dengan melarang penjualan gading domestik. Legislasi ini, ditambah dengan kampanye pesan publik yang berhasil, telah membantu mengurangi permintaan gading di China. Faktanya, media pemerintah China melaporkan bahwa dalam tahun pertama larangan tersebut, harga gading mentah turunsebesar65%.
(dan)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Flu Burung Menjadi Penyebab...
Flu Burung Menjadi Penyebab Utama Kematian Anjing dan Gajah Laut
Mampu Mengangkat Gajah,...
Mampu Mengangkat Gajah, Elang Hast Memiliki Lebar Sayap 3 Meter
Reaksi Kasih Sayang...
Reaksi Kasih Sayang Ibu Gajah ketika Anaknya Tewas Ditabrak Truk
Gajah Paling Sedih di...
Gajah Paling Sedih di Dunia Terdekteksi Depresi Selama 8 Tahun
Kembangkan Kasus Gading...
Kembangkan Kasus Gading Gajah, Polda Riau Telusuri Aliran Dana Rp1,8 Miliar
Kapolda Riau Namai Anak...
Kapolda Riau Namai Anak Gajah Tesso Nilo Nona Seroja, Simbol Harapan Baru Konservasi
Buntut Pengunjung Masuk...
Buntut Pengunjung Masuk Kandang Gajah, Ragunan Perketat Pengawasan
Rekomendasi
Boni Hargens: Peningkatan...
Boni Hargens: Peningkatan Kepercayaan Publik kepada Polri Perkuat Stabilitas Demokrasi
Kapten Mehdi Taremi:...
Kapten Mehdi Taremi: FIFA Tak Adil, Iran Sendirian dan Tidak Ada yang Membantu Kami
Lineker Semprot FIFA:...
Lineker Semprot FIFA: Hukuman Madibo Tak Masuk Akal
Berita Terkini
Inilah Alasan XLSMART...
Inilah Alasan XLSMART Tanam Ratusan Menara 5G di IKN
Era Baru Gim Blockbuster:...
Era Baru Gim Blockbuster: GTA VI Cetak Rekor Global, Indonesia Ikut Demam
Seratus Tahun Sekali:...
Seratus Tahun Sekali: Krisis Chip Memory Bikin MacBook hingga iPad Naik Harga, iPhone Berikutnya?
Rumah Pintar yang Dengarkan...
Rumah Pintar yang Dengarkan Penghuni, Bukan Sekadar Produk Cerdas
Siapa yang Akan Menguasai...
Siapa yang Akan Menguasai Pasar AI Indonesia Senilai 10,9 Miliar?
Tiga Raja HP Konser...
Tiga Raja HP Konser Diadu: Samsung, Oppo, vivo Bertarung di Panggung Feast dan Hindia
Infografis
Cilia Flores, Istri...
Cilia Flores, Istri Maduro yang Disebut Otak di Balik Kebijakan Venezuela
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved