Indonesia dan Masa Depan AI: SDM, Infrastruktur, dan Regulasi Jadi Kunci
Rabu, 12 Maret 2025 - 16:23 WIB
loading...
A
A
A
Angka-angka ini bukan sekadar statistik, melainkan cerminan dari potensi transformatif AI yang dapat meningkatkan PDB global rata-rata 1,2% per tahun. World Economic Forum (WEF) dan Bank Dunia pun menyoroti peran krusial AI dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dan menciptakan lapangan kerja baru, serta mengurangi kesenjangan digital di negara berkembang.
"Kedaulatan AI artinya kita memiliki kendali penuh atas data dan teknologi yang kita gunakan. Ini adalah langkah penting untuk memastikan keamanan dan kemandirian digital Indonesia," tegas Adrian dalam diskusi panel "Masa Depan AI: Mampukah Memperkuat Ekonomi Indonesia?" yang diselenggarakan oleh Forum Wartawan Teknologi (Forwat).
Namun, jalan menuju kedaulatan AI tidaklah mudah. Sri Safitri (Sekjen Partnership KORIKA) mengungkapkan berbagai tantangan yang dihadapi Indonesia, mulai keterbatasan SDM, infrastruktur digital, pendanaan R&D, hingga regulasi data dan kebijakan terkait AI.
"Kita masih kekurangan talenta AI berkualitas. Infrastruktur digital kita juga perlu ditingkatkan. Selain itu, investasi dalam riset dan pengembangan AI masih minim," jelas Sri Safitri.
Nailul Huda (Direktur Ekonomi Digital CELIOS) menambahkan bahwa adopsi AI yang pesat di sektor finansial dan ekonomi digital menunjukkan bahwa teknologi ini telah menjadi tulang punggung transformasi ekonomi.
Kedaulatan AI: Fondasi Kekuatan Digital Indonesia
Adrian Lesmono, Country Consumer Business Lead NVIDIA, menegaskan bahwa kedaulatan AI bukan lagi wacana, melainkan fondasi kedaulatan digital Indonesia. Kontrol penuh atas data, efisiensi, dan akselerasi digital adalah kunci untuk mewujudkan visi ini."Kedaulatan AI artinya kita memiliki kendali penuh atas data dan teknologi yang kita gunakan. Ini adalah langkah penting untuk memastikan keamanan dan kemandirian digital Indonesia," tegas Adrian dalam diskusi panel "Masa Depan AI: Mampukah Memperkuat Ekonomi Indonesia?" yang diselenggarakan oleh Forum Wartawan Teknologi (Forwat).
Namun, jalan menuju kedaulatan AI tidaklah mudah. Sri Safitri (Sekjen Partnership KORIKA) mengungkapkan berbagai tantangan yang dihadapi Indonesia, mulai keterbatasan SDM, infrastruktur digital, pendanaan R&D, hingga regulasi data dan kebijakan terkait AI.
"Kita masih kekurangan talenta AI berkualitas. Infrastruktur digital kita juga perlu ditingkatkan. Selain itu, investasi dalam riset dan pengembangan AI masih minim," jelas Sri Safitri.
Nailul Huda (Direktur Ekonomi Digital CELIOS) menambahkan bahwa adopsi AI yang pesat di sektor finansial dan ekonomi digital menunjukkan bahwa teknologi ini telah menjadi tulang punggung transformasi ekonomi.
Lihat Juga :