5 Dampak Letusan Gunung Krakatau di Tahun 1883, Dunia Sampai Dikira Sudah Kiamat
Senin, 16 Desember 2024 - 16:46 WIB
loading...
A
A
A
Tercatat, ada sekitar 800.000 kilometer kubik langit dunia diselimuti muntahan Krakatau dan membuatnya dalam kegelapan selama dua setengah hari. Abu yang menutupi itu juga menghalangi sinar matahari, sehingga dunia sempat mencatat penurunan suhu global.
Setelah ledakan, rata-rata suhu global turun 1,2° C. Pola cuaca juga tak beraturan selama bertahun-tahun sampai 1888.
Hal ini karena letusan Krakatau menyumbangkan gas sulfur dioksida (SO2) yang tinggi ke lapisan stratosfer. Kemudian, senyawa tersebut disebarkan oleh angin ke seluruh planet dan meningkatkan asam sulfat (H2SO4).
Erupsi tersebut melepaskan sulfur dioksida dan partikel lain seperti abu ke udara yang menyaring warna sinar matahari saat mencapai Bumi. Warna yang berbeda memiliki panjang gelombang yang berbeda dengan merah sebagai yang terpanjang, ungu sebagai yang terpendek dan warna lainnya berada di antara keduanya, mengikuti urutan pelangi.
Partikel-partikel vulkanik itu lebih kecil dari satu mikron, tetapi sedikit lebih lebar dari panjang gelombang cahaya merah. Jadi, setelah tersebar partikel-partikel itu menyerap cahaya merah sambil membiarkan warna-warna lain melewatinya. Alhasil, muncul pemandangan yang surealis termasuk bulan yang berwarna biru.
3. Perubahan iklim
Erupsi Krakatau juga menyebabkan perubahan iklim dunia. Selama dua setengah hari, dunia mengalami kegelapan akibat dari debu vulkanis yang menutupi atmosfer bumi.Setelah ledakan, rata-rata suhu global turun 1,2° C. Pola cuaca juga tak beraturan selama bertahun-tahun sampai 1888.
Hal ini karena letusan Krakatau menyumbangkan gas sulfur dioksida (SO2) yang tinggi ke lapisan stratosfer. Kemudian, senyawa tersebut disebarkan oleh angin ke seluruh planet dan meningkatkan asam sulfat (H2SO4).
4. Bulan berwarna biru
Dampak letusan Krakatau terasa di seluruh dunia dan bahkan mencapai jauh ke stratosfer. Hal ini sempat membuat Bulan tampak biru di malam hari.Erupsi tersebut melepaskan sulfur dioksida dan partikel lain seperti abu ke udara yang menyaring warna sinar matahari saat mencapai Bumi. Warna yang berbeda memiliki panjang gelombang yang berbeda dengan merah sebagai yang terpanjang, ungu sebagai yang terpendek dan warna lainnya berada di antara keduanya, mengikuti urutan pelangi.
Partikel-partikel vulkanik itu lebih kecil dari satu mikron, tetapi sedikit lebih lebar dari panjang gelombang cahaya merah. Jadi, setelah tersebar partikel-partikel itu menyerap cahaya merah sambil membiarkan warna-warna lain melewatinya. Alhasil, muncul pemandangan yang surealis termasuk bulan yang berwarna biru.
5. Puluhan ribu jiwa menjadi korban
Ledakan Krakatau disebutkan terdengar hingga 4.600 km dari pusat letusan. Simon Winchester, geolog Inggris seorang jurnalis yang juga penulis dalam bukunya terkenal Krakatoa: The Day The World Exploded 27th August 1883 (Winchester, 2003) menuliskan hari itu dunia bagai meledak, bunyi ledakannya terdengar sampai 4.600 km dari pusat letusan bahkan dapat didengar oleh 1/8 penduduk Bumi saat itu.Lihat Juga :